1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Nostalgia Sebuah Kota Pentas di Jerman

Karya yang beberapa kali menerima penghargaan ini dan sudah berulang kali dipentaskan di banyak kota Indonesia, baik oleh Teater Satu maupun oleh kelompok-kelompok teater lainnya.

default

Gambar simbol pentas budaya di Jerman

Mengulang dan mengulang lagi. Sudah dua bulan lamanya, ke tujuh penari Nostalgie Einer Stadt (Nostaliga Sebuah Kota) berlatih dari pukul 10 pagi hingga pukul 6 petang setiap hari. Menjelang hari H rasa lelah yang mulai merasuk, kembali tergeser oleh energi yang muncul dari rasa tegang dan deg-degan. Para penari yang berkostum compang-camping tapi kreatif, segera kembali ke posisi awal ketika sutradara Kristof Szabo meminta agar skenario itu diulang.

Menurut Kristof Szabo apa yang dipentaskan itu adalah ringkasan dari naskah Nostalgia Sebuah Kota. Ia mengatakan bahwa bila mau, pementasannya bisa berlangsung selama 48 jam, dan bukan hanya dua jam seperti pementasan yang ia sutradarai ini. Setiap kalimat memiliki imaji yang bisa dikembangkan, ekspresi yang bisa dituangkan dalam gerakan.

"Bila kita membaca karya itu kalimat per kalimat, maka kita akan menemukan bahwa naskahnya sangat terbuka bagi interpretasi. Bahasanya sangat liris, bebas dan asosiatif, Kebebasan itu menantang kita untuk terus terbuka dalam menginterpretasinya, meskipun karya itu memiliki tema, seperti rasa kesepian… bukan kesepian karena sendirian, tetapi karena disisihkan keluar dari masyarakat," papar Kristof Szabo.

Kesepian akibat hilangnya ruang publik, di mana kerabat bisa bercengkerama. Kesepian karena kehidupan sosial di kota semakin dingin, demikian Iswadi Pratama bercerita mengenai karyanya ini. Lima Bab Kenangan yang ditulis Iswadi berhasil menggerakkan Sabine Müller, yang kemudian menerjemahkan karyanya dan berusaha keras agar naskahnya bisa dipentaskan di Jerman.

Bagi Sabine Müller, karya Iswadi juga bercerita tentang cinta. Tertulis misalnya , "Tak usah kau telepon. Aku akan pulang larut malam. Bersihkanlah buku-buku dari debu. Tinggalkan catatan jika pergi. Ah, ya, sepatumu penuh lumpur dan radio belum kau matikan sejak semalam. Jangan kau hisap racun serangga itu, aku tak mau menguburkanmu. Aku mencintaimu, tapi aku tak punya hati…."

Untuk menggarap karya ini, Kristof Szabo meluangkan lebih dari setahun guna mempersiapkan diri. Ia membaca Ramayana untuk bisa mengerti pandangan tentang leluhur dan nenek moyang, berusaha mencerna gambaran tentang siklus kematian dan kelahiran kembali.

Menggambarkan ketertarikan awalnya, Kristof Szabo mengatakan, "Teks itu sangat kaya dan pemaknaannya bisa berlapis-lapis, dan sangat kuat menggambarkan gerakan tubuh. Dan saya senang menyutradarai karya yang bersifat teater gerak hingga tari kontemporer. Disamping itu teksnya punya sifat yang tak terduga, skenario-skenarionya merangsang ketertarikan saya. Ada ketidak sengajaan, atau kebetulan, chaos, pendeknya energi yang turut menciptakan."

Iswadi Pratama menyambut ketertarikan Kristof Szabo yang dianggapnya berhasil memberikan warnanya sendiri pada teater puitik yang biasa ia pentaskan dengan Teater Satu.

Di Jerman, ini merupakan pertama kalinya sebuah terjemahan naskah Indonesia dipentaskan oleh seorang sutradara lokal. Kristof Szabo tampak menikmati pergulatan yang dihadapinya dalam mementaskannya. Meski ia menyadari bahwa peluang terbuka baginya melalui Sabine Müller untuk berhubungan langsung dengan Iswadi, ia memilih untuk berusaha mengenali sang penulis melalui naskah yang ada.

"Ini memang seluruhnya interpretasi saya, sehubungan dengan tariannya, kelompok penari awalnya bisa leluasa berimprovisasi dan karena ini produksi internasional, dari Indonesia ada Budi Laksana yang juga anggota kelompok Teater Satu yang dibentuk oleh penulis naskahnya. Karena itu ada semacam kontak dengan bayangan si penulis, karena interpretasi gerak Budi yang terbentuk dalam teater Satu itu juga memberikan sudut pandang penulisnya," dikatakan Kristof Szabo.

Edith Koesoemawiria

Editor: Yuniman Farid