1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Newsweek Tutup Edisi Cetak

Setelah 80 tahun majalah berita mingguan terkenal Newsweek akan mengakhiri edisi cetak, dan selanjutnya pindah ke format online mulai awal tahun depan. Edisi terakhir majalah ini akan terbit pada 31 Desember.

Barry Diller, kepala perusahaan yang memiliki Newsweek, bulan Juli lalu telah mengumumkan bahwa penerbitan itu telah melakukan evaluasi mengenai masa depan majalah berita mingguan.

Pengumuman mengenai perpindahan dari cetak ke online itu disampaikan Tina Brown, kepala editor dan pendiri The Newsweek Daily Beast Co. pada hari Kamis (18/10).

Newsweek Global

Brown mengatakan pengurangan jumlah karyawan akan dilakukan, namun dia tidak memberikan gambaran yang lebih detail tentang masalah itu.

Selanjutnya, menurut Brown, publikasi online itu akan diberi nama Newsweek Global dan akan menjadi satu-satunya edisi di seluruh dunia yang bisa diakses dengan berlangganan. Mereka juga akan menyediakan layanan untuk format komputer tablet.

Newsweek Global, nama publikasi digital itu, akan menjadi satu-satunya edisi dunia yang menyasar pembaca yang sangat mobile, dan pengarah opini yang ingin mempelajari berbagai peristiwa di dunia dalam konteks yang canggih.“ tulis Tina Brown.

Nomor Dua Terbesar

Majalah Newsweek selama ini dikenal sebagai salah satu majalah berita mingguan paling dikenal sekaligus dihormati di dunia. Majalah yang diterbitkan dari kota New York, Amerika ini dikenal sebagai nomor dua terbesar setelah Time dalam soal oplah dan pendapatan.

Pada tahun 2003, sirkulasi majalah ini di seluruh dunia mencapai lebih dari 4 juta, termasuk 2,7 juta di Amerika. Tahun 2010, oplah majalah itu turun menjadi 1,5 juta. Majalah ini selain terbit dalam edisi internasional bahasa Inggris, juga terbit dalam edisi sejumlah bahasa antara lain Jepang, Korea, Polandia, Spanyol, Arab dan Turki. Edisi Rusia majalah ini ditutup pada Oktober 2010.

Kontroversi dan Liputan Terkenal

Sejumlah kontroversi mengiringi perjalanan majalah berita mingguan Newsweek. Majalah inilah yang pertama kali melakukan investigasi untuk mengungkapkan tuduhan mengenai skandal sex Presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinski yang terjadi di Gedung Putih. Namun liputan ini tidak diterbitkan dengan pertimbangan masalah etik.

Setelah serangan 11 September, majalah ini mengeluarkan laporan utama berjudul “Why They Hate America?”, liputan terkenal dan menjadi kontroversi yang mengungkapkan kebencian di banyak belahan dunia muslim atas Amerika Serikat. Edisi ini adalah salah satu yang paling banyak dibaca orang di dunia.

Tahun 2005 sebuah artikel di majalah ini menimbulkan kemarahan di dunia muslim, karena mengungkapkan bahwa seorang interogator di penjara khusus teroris Guantanamo, memasukkan kitab suci Al-Quran ke dalam toilet. Liputan itu sendiri banyak dikritik karena narasumber anonim yang dipakai oleh Newsweek tidak bisa dikonfirmasi.

Kejadian terkenal lain pada 29 November 2001, saat kolumnis dan editor Newsweek Fareed Zakaria ikut hadir dalam sebuah pertemuan dengan puluhan pengambil kebijakan, ahli Timur Tengah dan anggota berpengaruh dari lembaga penelitian yang membuat sebuah laporan yang ditujukan kepada Presiden George W. Bush. Ihwal pertemuan ini diungkap wartawan investigasi terkenal Bob Woodward dalam bukunya “State of Denial: Bush at War, Part III”.

Menurut Woodward, pertemuan ini digelar oleh Paul D. Wolfowitz yang pernah menjadi duta besar Amerika untuk Indonesia dan kemudian diangkat oleh Bush menjadi wakil Menteri Pertahanan. Hasil pertemuan ini disebut menjadi dasar pijakan politik Amerika ketika memutuskan untuk menginvasi Irak. Dalam pembelaannya belakangan, editor Newsweek Fareed Zakaria membela diri dengan mengatakan bahwa dia tidak diberitahu bahwa pertemuan itu akan menghasilkan rekomendasi bagi Presiden Bush.

AB/VLZ (afp, ap, rtr)