1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Olahraga

New York Marathon dan Bagaimana Mereka Menghargai Manusia

New York bisa mengemas event Marathon jadi sebuah pesta internasional dengan didukung semua warganya. Ketika sebuah acara olahraga jadi penting, solidaritas dan penghargaan otomatis jadi bagian dari event akbar itu.

“Bagaimana kita akan berhenti kalau mereka seperti ini menyambut kita?” ujar saya penuh rasa haru di sepanjang 42,195 km jarak berputar dari Staten Island menuju Central Park, Columbus Circle. “Bagaikan mimpi bung, mereka luar biasa!” balas pelari asal Italia. Saat itu kami berada pada km 7, saya melihat wajahnya yang penuh haru, iapun melihat wajah saya yang nyaris menangis terharu sembari terus berlari. Si Italia asal Milan ini memanggil saya Thohir, karena Erick Thohir adalah pemilik Inter Milan klub kebanggaannya.

Kami berpisah di km 14 dan saat itu mungkin saya akan rela menyebut diri saya pelari, karena memang kami begitu dihargai sebagai para pelari yang mengarungi jarak panjang tersebut. Bangsa Amerika, khususnya warga New York tumpah ke jalan menyambut kami. Mereka memberi semangat agar kami terus melaju pada kecepatan yang kami sendiri pahami. Band level kampung atau kecamatan Amerika bermain live di sepanjang rute. Keluarga berdiri di depan rumah memberi semangat pada para pelari yang sebenarnya cuma berada pada kategori ‘Hore Hore Runner' saja.

USA New York Marathon - Stanley Biwott

Stanley Biwott dari Kenya, juara putra New York Marathon 2015

Di negeri asal, saya malas menyebut diri saya ‘Pelari'. Karena bagi saya itu adalah atribut mahal yang hanya layak dimiliki oleh mereka yang bekerja keras demi prestasi tinggi pada bidang atau atribut yang ia kenakan.

“You can do it random stranger!” adalah tulisan yang beberapa kali saya lihat di sepanjang jalan. Kita memang saling tidak mengenal, apa pula peranan saya dan para pelari hore-hore atau hura-hura lainnya itu dalam level atletik internasional? Namun untuk menghargai peserta marathon, bukan hanya sekedar tisu atau air botolan, bahkan pizza, donat sampai bir pun terhampar di sisi jalan di balik pembatas itu.

Ini adalah kali kedua saya datang ke Amerika Serikat, 2 tahun lalu saya mampir ke Los Angeles selama 4 hari. Kali ini saya datang ke Pantai Timur demi sebuah kegiatan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pekerjaan saya. Dan hal ini biasa saya kerjakan di tanah air bersanding dengan klakson, debu dan para pengendara kendaraan yang menatap saya kesal karena kecepatan lari saya jelas jauh dari kecepatan kendaraan mereka.

Marathon dikemas jadi pesta rakyat

Saya mulanya mengenal bangsa Amerika lewat karya-karya budaya populer mereka. Mulai dari Seni Rupa, Musik sampai tentu saja Film yang kesemuanya mampu mereka kemas dengan sangat menjual. Sepengetahuan saya dari kesemua propaganda budaya yang mereka ciptakan itu, bangsa yang usianya belum sampai 3 abad ini gemar pada kegiatan berbau festival dan pesta. Mereka merayakan mulai dari kedatangan pertama para pendatang dari Eropa ke “Tanah Harapan” sampai sekedar perayaan ungkapan kasih sayang atau saat buruh pertama kali membangun Empire State Building di New York.

Demikian pulalah mereka melihat New York Marathon, sebuah kegiatan yang di negara kita mungkin hanya akan dianggap sebagai kegiatan mengganggu arus jalanan. Acara dikemas jadi pesta warga yang bertaraf internasional. Padahal Marathon massal seperti ini pasti butuh uang sangat banyak untuk bisa membebaskan seluruh rangkaian jalur lalulintas termasuk segala persimpangannya, agar bisa steril dan para pelari dapat bergerak bebas tanpa hambatan apapun.

Indonesien Andibachtiar Yusuf

Andibachtiar Yusuf, Filmmaker & Traveller

Di negara saya, pada sebuah event lari taraf internasional di ibukota, bahkan pelari elit yang terus berada di posisi terdepan saja harus “berdampingan” dengan mereka yang turun ke jalan karena saat itu sedang ‘Hari Bebas Kendaraan'. Seolah tak ada yang peduli bahwa sebuah acara olahraga bertaraf sedang digelar dan keramaian mempertaruhkan nama bangsa sedang terjadi.

New York adalah salah satu pusat bisnis dunia dengan 20 juta penduduknya yang semua berdiam di dalam kota tersebut. Sibuk? Sangat! Namun mereka sanggup rela menghentikan sebagian kegiatan mereka demi menjadi bagian dari keramaian berbentuk kegiatan berlari 42,195 km ini. Rela berteriak memberi semangat, bantuan moral sampai konsumsi pada 56 ribu lebih orang-orang asing yang jelas akan menutup berbagai ruas jalan penting di kota mereka selama setidaknya 16 jam!

Indonesia rasanya masih terlalu jauh sampai akhirnya kita bisa berpikir bahwa Marathon, kejuaraan dunia Badminton, Musik atau bahkan Film adalah kegiatan festival yang harus dirayakan sebesar dan seramainya oleh warga. “Karena kita masih sibuk mikir makan Bung!” tukas teman saya suatu hari setiap saya menyebut bangsa saya kadang kurang apresiatif pada hal kecil.

Well….saya pikir semua bangsa di negara bahkan New York juga butuh makan dan jumlah gelandangan mereka juga banyak. Sikap bangsa yang tertanam itu yang membedakan kita dengan mereka.

Andibachtiar Yusuf

Filmmaker & Traveller

@andibachtiar

Laporan Pilihan