1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Neraca Paruh Waktu Cancun

Ancaman kegagalan semakin besar pada perundingan iklim, COP ke-16 di Meksiko. Pekan depan mulai perundingan tingkat tinggi yang menentukan.

default

Setelah satu minggu perundingan, Ketua Badan Iklim PBB, UNFCCC Christiana Figueres berusaha tampil optimis pada konferensi pers di Cancun, Meksiko. Diutarakannya, “Seperti Anda ketahui, pembicaraan tingkat tinggi baru akan mulai Selasa siang (7.12.) pekan depan. Sejumlah Menteri memang datang lebih awal agar bisa menikmati pemandangan indah Cancun. Tapi Selasa depan, semua menteri akan hadir dan proses negosiasi menjadi semakin intensif agar rampung pada saat kedatangan para menteri.“

Meski begitu, Figueres mengakui bahwa ancaman kegagalan semakin besar pada perundingan iklim, COP ke-16 yang berlangsung dari 29 November hingga 10 Desember mendatang. Koordinator organisasi lingkungan Greenpeace, Martin Kaiser mempermasalahkan tak adanya capaian konkrit. Kaiser mengungkapkan, "Setelah satu pekan berunding jelas sudah bahwa dua hal bisa dilakukan di Cancun. Pertama, kita bisa mengubur seluruh protokol Kyoto atau mulai membangun pilar-pilar dasar bagi kesepakatan baru untuk perundingan iklim yang mendatang di Afrika Selatan.“

Dari awal tidak ada harapan besar akan capaian perundingan iklim di Cancun. Memang ada kemungkinan untuk memperpanjang Protokol Kyoto yang berlaku hingga 2012 itu. Namun banyak orang menilai, waktu yang dibutuhkan untuk meratifikasi sebuah perpanjangan juga akan sangat lama, sehingga bakal terjadi jeda panjang di mana negara-negara terbebaskan dari kewajibannya. Hambatan lain datang dari Jepang, yang pekan lalu berulang kali menegaskan tidak bersedia memperpanjang masa berlaku Protokol Kyoto.

United Nations CLimate Change Conference in Cancun

Wakil Menteri Lingkungan Jepang, Hideki Minamikawa

Hampir sepertiga emisi CO2 di dunia diatur dalam Protokol-Kyoto. Kedua negara dengan emisi karbon dioksida terbesar, China dan Amerika Serikat tidak turut menyepakati protokol itu. Meski begitu, Protokol Kyoto hingga kini adalah satu-satunya kesepakatan internasional yang mengatur emisi gas rumah kaca.

Masalahnya bukan karena para delegasi kali ini tidak bekerja cukup keras. Namun pekan lalu, tidak banyak kesepakatan yang dicapai, baik dalam plenum maupun dalam lingkup kelompok-kelompok kerja. Begitu dikatakan jurubicara program lingkungan PBB, Nick Nuttall, “Sebagai neraca sementara, bisa saya katakan, bahwa perundingan ini masih belum jelas akhirnya. Dalam minggu pertama ini tidak ada hal mendasar yang tercapai. Di pihak lain, juga tidak ada langkah mundur. Janji yang dihasilkan pada KTT Kopenhagen 2009 masih berlaku, tantangannya kini adalah menjamin agar janji-janji itu dipenuhi“

Apakah hal ini bisa tercapai dalam pekan kedua perundingan di Cancun, masih harus ditunggu. Salah satu janji tersebut adalah menyediakan mulai 2020, dana senilai 100 milyar dolar untuk mengatasi dampak perubahan iklim global dan mengurangi drastis emisi gas karbon dioksida secara global.

Helle Jeppesen / Edith Koesoemawiria
Editor: Renata Permadi

Laporan Pilihan