1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Negeri Yang Indah dan Subur?

Indonesia selalu membangggakan alamnya yang indah, tanahnya yang subur, pantainya cantik. Tapi apa yang sudah dilakukan untuk memasarkan kekayaan alam itu agar memberi manfaat ekonomi luas?

“Kita juga punya nih yang kayak gini,” ujar Ian Alon kawan saya sembari menatap indahnya pemandangan laut dari sebuah resort mahal, eksotis, menyenangkan dan memanjakan di pulau kecil di negara Maladewa.

Ia lalu menyebut betapa indahnya pemandangan Morotai, Miangas, Sangalaki bahkan Raja Ampat. Menurutnya, tempat-tempat tadi tak sekedar dipunyai oleh Indonesia, tapi juga memiliki keindahan yang lebih baik dibanding apa yang sedang kami lihat di Maladewa dari sebuah sudut yang sungguh menyenangkan.

Ian tentu benar, negeri tempat kami berasal mungkin adalah negeri terindah di dunia. Kami jelas memiliki garis pantai terpanjang di dunia, karena negeri kami terdiri dari sekitar 19 ribuan pulau—ada yang bilang 18 ribuan, 13 ribuan….berapapun itu jumlahnya sangat banyak—dan bisa jadi adalah negara pemilik pulau terbanyak di dunia.

Sungguh mudah bagi bangsa kami untuk menemukan pantai tak jauh dari rumahnya. Masalahnya…tak banyak dari kami yang sadar bahwa kami sebenarnya tinggal di daerah kepulauan dan pantai letaknya tak jauh dari rumah siapapun.

Tak perlu Ian menyebut nama Morotai saya rasa, karena masih di Propinsi Jakarta saja sudah terdapat sekitar ratusan atau mungkin seribuan pulau yang juga memiliki keindahan alam bawah laut. Rasanya terlalu jauh bahkan jika ia—atau saya—menyebut Pulau Ora, padahal pada jarak seperloncatan macan saja dari ibukota yang hiruk pikuk ini, ada gugusan pulau kecil yang alamnya mampu membuat mulut berdecak kagum.

Masalahnya, berapa banyak orang—bahkan warga Jakarta sendiri—yang sadar bahwa negaranya terletak di pinggir laut? Bahkan unsur laut pada Jakarta sama sekali tak pernah terlihat pada medium-medium visual sampai ke sinema sekalipun! Tak ada misalnya adegan memancing pada film lokal dengan setting Jakarta, atau misalnya orang yang tinggal persis di pinggir laut. Kehidupan nelayan Jakarta?….ah saya yakin tak ada. Jikapun ada, paling mentok bagaimana orang kaya hidup di sebuah apartemen mewah di pinggir laut.

Miskin prasarana dan infrastruktur

Indonesia mungkin memang terlalu indah alamnya, kita jadi tak sadar bahwa kita memiliki segala yang bangsa lain mungkin tidak punya. Kita punya banyak sekali air terjun, banyak sekali pegunungan serta perbukitan, juga punya lahan yang luar biasa subur. Faktanya, apakah kita semua paham bagaimana cara mengakses tempat-tempat tersebut?

“Liburan tu gak usah keluar negeri, Indonesia ini indah lho, ada sekitar 5 juta turis asing datang ke Indonesia setiap tahun,” demikian sesumbar seorang penyiar radio remaja pada sebuah iklan wisata Indonesia. Masalahnya, apa iya berkunjung ke bagian lain negeri sendiri lebih mudah?

Semua harus dimulai dari Jakarta! Seperti seorang teman yang sudah berada di Manado harus kecewa karena untuk bisa mencapai ibukota propinsi Papua yang secara teori bisa dicapai dengan sekitar 2,5 jam terbang, ia harus kembali setidaknya ke Makassar dan kemudian menuju Jayapura dengan kemungkinan transit di Ambon atau Biak.

Jikapun kemudian Jayapura bisa dicapai langsung dari Jakarta, maka biaya yang dikeluarkan akan lebih besar dibanding jika terbang ke Tokyo menggunakan maskapai yang sama. Itu untuk tujuan jauh ke Timur negeri yang bagai masih misteri bagi kita yang berada di wilayah barat. Dari ibukota menuju Aceh saja biaya akan jauh lebih besar daripada menuju Bangkok misalnya. Itu jika dilakukan dari Jakarta sang ibukota dan pusat peradaban nasional. Bagaimana misalnya dari non ibukota negara seperti Bandung, Balikpapan, Jambi atau Palu misalnya?

Atau jika lalu kita sanggup mencapai tempat-tempat tersebut atas nama patriotisme pada negeri sendiri. Apakah mudah untuk mencari lokasi wisata yang ingin kita lihat? Bahkan sarana googling saja sering tidak mencukupi untuk bisa tahu apa yang bisa kita lihat di Jambi dan bagaimana cara untuk mengaksesnya. Jika sudah sampai di tujuan "peer" nya akan bertambah!Akses transportasi kita yang memang mengenaskan bahkan di era saat wisata menuju Mars sedang dirancang di barat sana.

Belajar dari luar

Maladewa jelas tak ada apa-apanya bagi kita. Secara rataan, mereka bisa kita sebut lebih miskin dari kita—apalagi jika dibandingkan dengan ekonomi Pulau Jawa—tapi mereka paham bahwa apa yang sudah Tuhan berikan adalah anugrah. Dan anugrah harus bisa dimanfaatkan untuk menghidupkan perekonomian mereka. Kota mereka sungguh bersih dan nyaman untuk dilakoni dengan kaki. Pelabuhan di ibukota mereka bersih! Bahkan bandara yang hanya berjarak sekitar 10 meter dengan laut pun tidak membuat birunya air menjadi hitam bagai got seperti yang bisa kita temukan di seluruh pesisir laut di ibukota Jakarta.

Konon mereka mengkopi apa yang dilakukan oleh Srilanka pada sektor wisatanya. Lalu mereka menyebut Srilanka meniru apa yang sudah dikembangkan dan lakukan oleh Singapura. Mereka tahu negeri kecil di barat Indonesia itu, tapi mereka sama sekali tidak tahu nama-nama tempat di Indonesia yang kita selalu sebut indah itu. Mereka lebih paham seperti apa Singapura menciptakan sendiri obyek wisatanya “Katanya mereka tak punya hutan, maka mereka ciptakanlah, kami jelas punya laut, kami tinggal manfaatkan saja,” ujar Azuwar Ahmed seorang pemiliki perusahaan perjalanan Precious Maldives.

Kita? Apa yang kita tak punya pada alam ini, mungkin hanya musim dingin dan salju. Tapi apakah kita punya fasilitator untuk membuat orang bisa mudah datang menikmati keindahan-keindahan tersebut? “Pantai di Indonesia sangat banyak, sayangnya 80% tempat tersebut tidak punya akses transportasi yang mudah dipahami,” ujar Diego, pelancong asal Mallorca, Spanyol yang datang ke Indonesia karena mendengar pantai di sini lebih indah daripada di pulau asalnya.

Ia kesal karena faktanya sulit menikmati Indonesia sesungguhnya. Jadwal kapal sering tak menentu, angkutan darat kadang tidak bisa diandalkan, pesawat? Hanya ada satu maskapai yang mampu mencakup seluruh Indonesia sampai ke pelosok, tapi itupun selalu terkoneksi dan tak bisa diandalkan ketepatan waktunya.

“Indonesia itu kan indah, kalian kok cari uang sampai jauh-jauh kesini?” tanya Yuli Sumpil pada rekan-rekan asal Malang nya di Kuala Lumpur. Saat ia didatangi banyak warga Malang yang menjadi tenaga kerja di berbagai kota Malaysia. Lugas salah satu dari mereka menjawab “Indonesia indah dan subur itu cuma ada di buku sekolahan aja sam (mas dalam bahasa Walikan Malang) kalau memang indah dan subur, gak akan banyak pengangguran di negara kita,” Yuli tersentak sementara saya merasa kecut…..karena faktanya, di negara saya yang ada hanya slogan dan kebanggaan yang semuanya semu bagi mayoritas.

Andibachtiar Yusuf -Pengamat wisata dan pembuat film

@andibachtiar

Laporan Pilihan