1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Myanmar Bebaskan Tahanan Politik Terkemuka

Pembebasan para tahanan politik ini merupakan langkah terbaru dari serangkaian reformasi dramatis di bawah pemerintahan sipil yang berkuasa sejak Maret 2011.

default

Min Ko Naing, salah seorang pemimpin gerakan mahasiswa Generasi 88

Jumat (13/01), pemerintah Myanmar membebaskan 651 tahanan. Beberapa pemimpin dari kelompok Generasi 88, gerakan mahasiswa pro demokrasi yang melakukan protes anti pemerintah di tahun 1988 dan 2007, juga turut dibebaskan. Demikian dikatakan seorang pejabat Myanmar yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Sumber lain menyatakan, para pemimpin Generasi 88, Min Ko Naing, Htay Kywe, Zaw That Htwe, Jimmy dan Nilar Thein, termasuk dalam daftar tahanan yang dibebaskan. “Saya sangat senang mendengar kabar pembebasan para pemimpin Generasi 88,” dikatakan seorang sopir taxi di Yangon.

Dialog dengan Oposisi

Tokoh penting yang hari Jumat (13/01) dibebaskan, termasuk pemimpin kelompok pemberontak Shan, Khun Tun Oo, biksu Budha Gambira, salah seorang pemimpin protes di tahun 2007, dan mantan Perdana Menteri Khin Nyunt.

Khin Nyunt Birma Myanmar Amnestie

Mantan Perdana Menteri Khin Nyunt

Di tempat kediamannya di Yangon, kepada para wartawan Khin Nyunt mengatakan bahwa ia menyambut baik dialog baru antara pemeimpin oposisi Aung San Suu Kyi dan pemerintah. "Juga satu tanda baik, bahwa masyarakat internasional berkunjung ke sini. Saya pikir Myanmar akan berkembang di masa depan. Saya tidak akan terlibat lagi dalam politik," ditambahkan Khin Nyunt yang juga pernah menjabat sebagai kepala dinas intelejen Myanmar.

Sementara itu Democratic Voice of Burma, kelompok media di pengasingan yang sejak lama menjadi pengritik rezim militer pimpinan Thab Shwe, mengarakan, beberapa wartawannya turut juga dibebaskan.

Masih Banyak Tahanan Politik yang Belum Dibebaskan

Friedensverhandlungen zwischen Zentralregierung und Karen Birma Myanmar

Sulang merayakan kesepakatan gencatan senjata Myanmar dengan kelompok Karen

Amerika Serikat dan Uni Eropa, melihat langkah-langkah menuju reformasi yang dilakukan pemerintah yang mulai berkuasa tahun 2011, menuntut pembebasan para tahanan politik, sebelum pencabutan sanksi terhadap Myanmar dipertimbangkan. "Kebebasan untuk beroposisi merupakan syarat untuk normalisasi hubungan dengan Barat," dikatakan pengamat politik Aung Naing Oo dari wadah pemikir yang berbasis di Thailand.

Bulan Oktober 2011, pemerintah Myamar telah membebaskan sekitar 200 tahanan politik. Tapi para aktivis memperkirakan, 500 sampai 1.500 tahanan politik masih mendekam di penjara-penjara Myanmar.

Setelah puluhan tahun berada di bawah pemerintahan militer, sejak bulan Maret 2011 Myanmar kini dipimpin oleh pemerintahan sipil pimpinan Thein Sein. Serangkaian reformasi telah dilakukan pemerintah Thein Sein, dan juga membuka dialog dengan oposisi. Hari Kamis (12/01), setelah konflik lebih dari 50 tahun, pemerintah Myanmar menyepakari gencatan senjata dengan pemberontak kelompok minoritas etnis Karen.

Yuniman Farid/dpa/dap/afp

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan