1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mundurnya Blatter: Sebuah Hari Baik Bagi Sepak Bola

Perubahan sikap Blatter secara tiba-tiba memicu banyak pertanyaan. Tapi yang terpenting, setelah ia mundur FIFA kini punya peluang untuk melakukan reformasi menyeluruh. Perspektif Joscha Weber.

Duduk, bungkam dan hanya tertawa. Begitulah selama ini ketua FIFA Joseph S. Blatter menyikapi krisis. Sekali waktu ia bahkan bertanya retorik: Krisis apa? Sebuah sikap yang lebih banyak tidak peduli ketimbang retorik, melihat banyaknya krisis kepercayaan dalam federasi sepak bola dunia itu. Kasarnya, kita bisa mengatakan, Blatter tidak peduli pada kritik. Hingga Selasa 2 Juni.

Tokoh yang selama 40 tahun mempengaruhi FIFA dari segala aspek, menyatakan mundur. Kita sekarang bisa bernafas lega. Ini sebuah hari baik bagi sepakbola. Ada tiga alasan untuk merasa optimis.

Weber Joscha Kommentarbild App

Joscha Weber redaktur olahraga DW

Pertama, karena Blatter bertanggung jawab atas budaya kotor yang nyaris menjadi sistem korupsi yang mengakar di dalam tubuh perhimpunan sepak bola dunia itu. Memang sejauh ini, belum ada bukti bahwa dia terlibat skandal penyogokan. Tapi kejaksaan menduga ia tahu kasus penyuapan senilai 142 juta Swiss Franc dan membiarkannya.

Blatter tidak melakukan tindakan memerangi korupsi dalam organisasi yang dia pimpin. Sejauh ini puluhan pejabat tinggi FIFA yang terkenal sebagai orang-orang kepercayaan sudah ditahan terkait dugaan korupsi. Sikap membiarkan dari Blatter bisa ditafsir sebagai mendukung dan komplotan para koruptor.

Yang kedua, minimal FIFA bisa meraih kembali sedikit kepercayaan. Juga ada harapan, ini akan jadi akhir dari politik "lip service" FIFA. Banyak dibicarakan tentang transparansi, tapi semua masalah tetap berada dalam kegelapan. Contoh paling gampang, berapa gaji Blatter tidak ada yang tahu dan ibaratnya ini adalah rahasia negara yang dijaga ketat. Bagaimana dengan skandal amplop berisi uang yang dibagikan saat pemilihan 1998 yang mengangkat Blatter ke kursi presiden FIFA? Atau bagaimana tanggung jawab skandak korupsi terbaru?

Yang ketiga, kini awal baru FIFA sudah terbuka. FIFA bisa mereformasi diri, mendepak semua aturan main lama dan memecat semua fungsioner yang korup. Juga Eropa yang dalam pemilihan ketua terlihat tak berwibawa serta memalukan, kini bisa menghimpun barisan. UEFA harus mengambil alih tanggung jawab, dan menunjukkan bagaimana tampilan FIFA zang lebih baik. FIFA harus jadi perusahaan yang berorientasi laba, bukan lagi sebuah lembaga nirlaba kecil di bawah hukum Swiss.

Harus diakui, semua ini harapan muluk. Apakah lengsernya Blatter dalam realitanya akan jadi sebuah awal baru dan revolusi dalam FIFA, masih harus ditunggu buktinya. Tapi peluangnya sudah terbuka. Masalahnya, diperlukan tokoh yang mampu memanfaatkan momentum ini.

Laporan Pilihan