1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mogadishu: Normal dalam Ketidaknormalan

Rakyat Somalia masih menderita karena kelaparan dan perang saudara. Di bagian selatan negeri tanduk Afrika itu, jutaan orang menggantungkan harapan pada bantuan kemanusiaan.

default

Rakyat Somalia tergantung pada bantuan makanan internasional

Anak-anak kecil berteriak dan terjun ke ombak. Mereka terjun dari karang ke dalam air. Orang dewasa memilih di pasir, merebahkan diri bermalasan di bawah matahari.

Itulah gambaran kita tentang pantai di manapun di dunia. Tapi, hingga beberapa pekan lalu, itu adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan di Mogadishu, ibukota Somalia yang tercabik perang saudara dan kelaparan. "Menyenangkan buat saya bisa kembali ke pantai. Kami semua ke pantai hari ini untuk berenang dan berjemur. Perempuan dan anak-anak“ kata Jamal Abdi, seorang pelajar Universitas Mogadishu.

Dia dan teman-temannya menghabiskan waktu di pantai "Saya sempat tidak ke sini selama beberapa waktu, hingga akhirnya al-Shabaab keluar. Mereka tidak memperbolehkan berenang di pantai. Karena ancaman para Islamis ini saya tidak berani pergi ke pantai. Tapi kini, kami semua kembali. Tak ada lagi yang ditakutkan”

Kelompok Islam radikal al-Shabaab memutuskan meninggalkan Mogadishu Agustus lalu, untuk alasan taktis, sebagaimana disampaikan juru bicara mereka saat itu. Presiden Somalia Sheikh Sharif Ahmed menggambarkan penarikan al-Shabaab itu sebagai sebagai kemenangan pemerintahan transisi yang dia pimpin.

Empat tahun di bawah kendali al-Shabaab membuat Mogadishu lumpuh. Beberapa bagian kota berantakan, jalanan dipenuhi oleh puing-puing. Dalam beberapa pekan warga mulai memperbaiki rumah mereka yang hancur, dan juga memulihkan pasar yang selama al-Shabaab berkuasa ditutup. Pelan-pelan para pedagang kini kembali.

Meski beberapa penghuninya telah kembali dalam kehidupan normal di Mogadishu, tapi hati mereka masih jauh dari ke-normal-an. Di pinggiran kota, pertempuran sengit masih terjadi. Dan tidak jauh dari laut tempat anak-anak bermain, pada sepotong pantai berpasir, ada sebuah kamp miskin. Ratusan orang tinggal di tempat penampungan yang dibangun seadanya dari terpal plastik untuk para pengungsi Somalia Selatan. Mereka melarikan diri dari kelaparan dan teror di negara mereka sendiri dan untuk waktu yang lama, tergantung pada makanan dan obat-obatan bantuan dari luar negeri.

Andy Budiman

Editor: Hendra Pasuhuk