1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Mobil Listrik Masih Hadapi Banyak Kendala

Krisis di cabang otomotif konvensional dan isu perlindungan iklim, seharusnya menjadi impuls yang mendorong pengembangan lebih lanjut mobil listrik.

default

EWE E3, mobil listrik produksi Jerman, yang merupakan proyek bersama perusahaan pemasok energi EWE dengan pprodusen mobil Karmann

Pabrik otomotif terkemuka dan perusahaan pemasok bahan bakar minyak menetapkan target yang tidak terlalu ambisius dalam tema mobil listrik ini. Hingga tahun 2020 ditargetkan produksi mobil listrik antara dua hingga tiga persen, dari seluruh produksi mobil. Tidak dirinci, apakah targetnya hanya berlaku di Eropa dan Amerika Serikat saja atau secara global. Namun sejauh ini belum ada pabrikan otomotif terkemuka di dunia yang memproduksi mobil listrik secara massal. Kebanyakan pabrik otomotif memprioritaskan pengembangan mesin konvensional yang lebih hemat bahan bakar.

Jadi dimana sebetulnya produksi mobil listrik itu dilakukan? Salah satunya di Norwegia. Sebuah perusahaan pemasok energi regional di kawasan Voralberg di Austria, hendak menjadi perintis dalam tema mobil listrik ini. Christoph Germann, ketua dewan direksi perusahaan pemasok energi di Austria itu menjelaskan bagaimana kesulitan mereka menemukan pabrik mobil listrik dan seperti apa konsep bisnisnya. “Satu-satunya produsen mobil listrik adalah perusahaan Norwegia “Think“. Kami menjalin kontak dengan perusahaan ini. Pasarnya sudah eksis, dan kami pada saat ini memperoleh pesanan yang melebihi jumlah kendaraan yang dapat kami pasok.“

Sampai saat ini perusahaan pemasok energi regional dari Austria itu, sudah membeli 35 unit mobil listrik “Think“ dari Norwegia. Hingga akhir tahun ini ditargetkan pemasokan hingga 100 unit mobil listrik. Sistemnya dengan cara leasing seharga 550 Euro sebulan. Dalam leasing itu selain mobilnya, juga tercakup biaya parkir dan pengisian kembali baterei mobilnya, asuransi serta tiket langganan untuk bus dan trem.

Perusahaan di Austria itu berada pada jalur yang sudah tepat. Demikian kata Tomi Engel pakar mobilitas sel surya dari Eurosolar di Jerman. Ia mengatakan, pasar mobil listrik dalam beberapa tahun mendatang akan meliputi nilia milyaran Euro. Engel juga menyebutkan, sebetulnya mobil listrik lahir terlebih dahulu daripada mobil bermesin bensin. “Mobilitas berbahan bakar fossil terutama dipopulerkan oleh Henry Ford, yang kala itu ibaratnya pelaku revolusi di bidang ini. Revolusi berkembang hingga menjadi monopoli pada saat ini. Dan pemonopoli di masa lalu, kini kembali melakukan revolusi. Begitulah sejarah berulang.“

Pabrik otomotif kini mulai menyadari, mesin berbahan bakar bensin atau diesel tidak akan bertahan terlalu lama sebagai pencetak uang. Sebab akan tiba saatnya, semua cadangan minyak bumi di dunia ini habis. Satu-satunya solusi bagi pertumbuhan ekonomi adalah mobilitas listrik, demikian kata Tomi Engel. Namun sejauh ini belum jelas, bagaimana energi listriknya hendak diproduksi. Tapi menurut Engel yang paling menentukan adalah faktor ekonominya. “Dan jika mobil listrik membantu kita menghemat uang, maka mobil listrik akan datang.“

Perusahaan pemasok sukucadang Magna Steyr di Graz Austria mematok target produksi mobil listrik secara massal mulai tahun 2012 mendatang. Diharapkan hingga tahun 2020 mendatang, sekitar 1,1 juta mobil listrik sudah berkeliaran di jalan raya. Masalah terbesar, yakni biaya riset dan pengembangan yang cukup mahal, akan ditanggung secara urunan oleh sejumlah produsen mobil listrik yang bergabung dalam apa yang disebut “E-Mobil Platform.“

Masalah utama dalam pengembangan mobil listrik adalah daya, siklus hidup dan bobot dari baterai Lithium-Ion yang digunakan. Saat ini bobot rata-rata baterainya 250 kilogram, sementara daya jangkaunya hanya 100 hingga 150 km untuk satu kali pengisian. Untuk satu kali isi ulang baterainya, diperlukan daya antara 20 hingga 25 kilowatt. Sementara bahan baku baterainya, yakni logam Lithium yang langka, diperkirakan cadangannya cukup hingga 150 tahun mendatang. Demikian diungkapkan Othmar Peier, insinyur di bagian riset dan pengembangan Magna Steyr. Peier menegaskan, Eropa kini harus bertindak cepat, karena jika terlambat pasarnya akan segera direbut oleh pabrik otomotif Asia, khususnya dari Cina.

Di Cina pada tahun 2006 lalu, tercatat lebih dari 20 juta mobil listrik yang beroperasi di jalanan. Jumlahnya jauh melebihi mobil berbahan bakar fossil yang ada di negara industri baru Asia ini. Kini pertanyaan lainnya yang muncul adalah, apakah jejaring pemasokan listrik akan mencukupi, jika mobil-mobil listrik itu mengisi ulang baterainya dalam waktu bersamaan? Dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk isi ulang? Bagaimana menghitung ongkosnya? Dan siapa yang berhak mengoperasikan stasiun-stasiun pengisian ulang baterai mobil itu?

Perusahaan “Better Place“ di California mencari jalan alternatifnya. Demikian diungkapkan Amit Yudan, penanggung jawab pemasaran untuk Eropa. Jika baterainya melemah di tengah perjalanan, pengguna mobil listrik dapat menggantinya dengan yang kapasitasnya penuh di stasiun pengganti baterai. “Di sana, baterainya dapat ditukar dengan yang kapasitasnya penuh. Proyek pertama sudah dilakukan di Israel dan Denmark. Di pameran mobil IAA di Frankfurt, kami sudah membuat kontrak dengan Renault. Sekitar 100 ribu mobil listrik buatan Renault mulai 2011 akan dikirimkan ke Israel dan Denmark. Jumlahnya cukup besar, dan bukan lagi produk sampingan atau pilot proyek, tapi benar-benar mobilitas elektrik massal.“

Proyek semacam itu, dengan produksi sekitar 100.000 mobil listrik setahun, memang masih jauh di bawah jumlah produksi mobil konvensional berbahan bakar fossil. Namun secara bertahap, melewati fase teknologi hybrida, pabrik-pabrik otomotif terkemuka juga mulai menyasar pasar yang menggiurkan itu. Jika masalah utamanya, yakni teknologi baterai yang lebih handal, lebih ringan dan lebih efektif ditemukan, maka dorongan bagi produksi mobil listrik akan semakin kencang.

Alexander Musik/Agus Setiawan

Editor: Yuniman Farid