1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Mobbing di Internet alias 'Cybermobbing'

Jika kini remaja ingin cool, ia harus on. Jadi seusai sekolah mereka menyalakan komputer dan bertemu dengan teman baru dan lama di jaringan online. Seperti kehidupan nyata, pertemuan di dunia cyber tidak selalu harmonis.

default

Murid-murid yang semakin banyak meng-internet juga semakin terancam bahaya Cybermobbing

Sebuah studi di Jerman menunjukkan bahwa 20 persen remaja terlibat mobbing di internet, baik sebagai pelaku atau korban. Untuk menarik perhatian masyarakat tentang tema Cybermobbing, remaja dari Wuppertal kini mengolah tema tersebut dalam sebuah film dokumenter yang mengisahkan pengalaman para remaja yang pernah mengalami mobbing melalui internet. Seperti Heiko, yang dalam film dokumenter itu tampak mendekatkan tangannya ke depan kamera dan menunjukkan bekas lukanya

"Saya menjadi berang karena ia menghina ibu saya. Saya lalu memukul layar monitor komputer. Bekas luka ini akibat kecelakaan komputer, ketika saya sendiri memukul komputer."

Apa yang terjadi padanya beberapa tahun lalu di internet, meninggalkan bekas luka. Dulu ia benar-benar mengenal rasa takut, kata murid berusia 14 tahun itu. Sedikitnya 15 e-mail diperoleh Heiko dari remaja pria tidak dikenal, yang menghina, memaki dan mengancamnya.

"Saya tidak menjawab e-mail tersebut. Saya membiarkan mereka terus menulis, saya selalu menghapus e-mail itu dan setelah tiga bulan saya mulai menjawabnya: Ada apa dengan kamu? Mengapa kamu mengganggu saya? Lalu mereka menjawab, ya, karena saya kenal kamu. Saya menemukan kamu di manapun. Saya akan membunuh kamu. Saya merasa takut kepadanya."

Baru ketika Heiko melaporkannya kepada polisi, aksi mobbing itu berhenti. Spesialis komputer juga menemukan alamat remaja-remaja pria lainnya dan menginterogasi mereka. Pengalaman yang mirip dengan Heiko juga dialami Madita dan Diandra. Ketika proyek media remaja Wuppertal mencari mereka yang ingin ikut berbicara dalam proyek film dokumentasi ‚Sengketa di Internet', keduanya juga ikut mendaftar.

Kebanyakan sengketa dimulai di sekolah dan dilanjutkan di internet. Seperti yang terjadi pada Diandra. Ia terlibat pertengkaran dengan murid lain, yang kemudian memanipulasi foto Diandra di internet. Kepalanya Diandra, sedangkan badannya foto bintang film porno. Walau murid perempuan berusia 12 tahun itu dapat segera menghapus gambar tersebut, banyak teman sekolah dan internetnya sempat melihat dan mengolok-oloknya

"Orang merasa seperti seluruh dunia melawan satu orang, seolah orang benar-benar dibiarkan sendiri, masuk ke dalam lubang yang dalam dan semua menginjak-injak dia dan tidak membantunya. Itu benar-benar perasaan yang tidak enak.“

Diskriminasi, memaki dan menjadikan bahan tertawaan. Bagi banyak murid 'Cybermobbing' saat ini sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari, demikian pengamatan Catarina Katzer. Psikolog bidang media asal Köln ini, mempublikasikan satu-satunya studi selama ini tentang ‚Cybermobbing' di Jerman. Ia meminta agar orang tua dan guru mengantisipasi serius pelecehan secara virtual.

Tapi dukungan itu jarang terjadi. Madita merasa tidak terlalu mendapat dukungan dari guru-gurunya, ketika ia mengajukan keberatan tentang sebuah kelompok internet di kelasnya. Para murid membentuk chatroom atau ruang chatting, yang bertujuan untuk mengganggu murid perempuan berusia 14 tahun tersebut.

Meskipun pengalaman buruknya Madita tidak mau meninggalkan jejaring sosialnya. Demikian pula Diandra, seperti juga remaja lain yang ambil bagian dalam proyek film dokumenter ‚Sengketa di Intenet'.

Sabine Damaschke/Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk