1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Mimpi Warga Haiti untuk Awal Baru Sirna

Badan PBB UNICEF melaporkan masih ada sekitar satu juta orang tidak memiliki tempat tinggal dan terancam berbagai penyakit pasca bencana. Bagaimana mereka dapat bertahan hidup?

default

Port-au-Prince yang hancur dilanda gempa

Hanya satu gambar terjual - itu pun sudah membuat Arlos Renodin, seorang pelukis, dapat bertahan hidup selama tiga hari. Satu gambar harganya 10 Dollar Amerika, tapi sekarang jarang ada turis datang ke Haiti. kesempatan terbaik untuk menemui mereka adalah tepat di muka simbol nasional, seperti yang dulunya merupakan kantor presiden, Istana Negara.

Satu tahun pasca gempa besar yang melanda Haiti, istana kepresidenen belum sekalipun kembali berfungsi. Tepat di depannya ada sebuah taman. Di situ sekarang berdiri sebuah penampungan dengan tenda-tenda. Di sinilah, Carlos tinggal hampir satu tahun, sebelumnya ia bekerja di kantor pajak. Penyediaan air bersih dan obat-obatan hampir tidak ada. Para penghuninya betul-betul tergantung pada organisasi bantuan.

Carlos menghuni sebuah gubuk dari seng. Ia sempat tinggal di situ dengan kekasihnya, yang kemudian meninggalkannya demi orang lain yang tidak harus tinggal di kamp penampungan. "Setelah gempa, saya kehilangan pekerjaan dan mulai menggambar. Untuk bertahan hidup. Di sini tidak ada yang membantu. Semua harus mencari sendiri bagaimana cara mendapatkan uang," papar Carlos.

Hari ini, sama beratnya dengan hari hari pasca gempa. Orang-orang mencoba bertahan hidup dengan mengandalkan air, cuci mobil misalnya. Tidak insentif bagi perusahan yang investasi. Infrastruktur betul-betul hancur. Menurut perkiraan, dari seluruh reruntuhan gempa, belum sepertiga dibersihkan. Sejak tiga bulan lalu, epidemi kolera mewabah dan menewaskan sekitar 3.500 orang.

Rosa Maria Mallard dari organisasi Doctors Without Borders atau Dokter Lintas Batas mencoba untuk menolong. Perawat medis khusus anak dari Jerman ini merawat bayi-bayi yang terserang kolera. "Dua dari anak-anak ini menderita kolera. Mereka tertular Kolera dari ibunya sendiri."

Mallard masih punya beberapa pasien lain. Banyak dari mereka adalah bayi prematur atau diterlantarkan ibunya. Leo si Bayi, tergeletak sendirian selama setengah hari di ruang bersalin, sebelum ada yang menyadari keberadaanya. Tapi ia akan baik-baik saja. 1,5 milyar Dollar dana bantuan sejak gempa terjadi telah disalurkan. Banyak wanita hamil datang ke situ dan melahirkan anak-anak yang sakit keras.

"Kami bekerja di Rumah Sakit dengan sistem kesehatan publik dan orang menyadari, sebetulnya tidak ada yang berfungsi. Semua di rumah sakit ini, terjadi atas bantuan Dokter Lintas Batas. Bila anda pada hari kerja mengunjungi kantor dinas kesehatan, tidak ada orang di situ, tidak ada kertas, tidak ada apa apa," diungkapkan Mallard.

Hal ini terjadi tidak hanya pada pelayanan kesehatan. Pelayanan umum seperti dinas kebersihan di Port au Prince hanya mimpi belaka. Haiti, yang tampak pada lukisan lukisan Carlos tidak ada lagi. Pasca gempa, banyak warga Haiti yang memimpikan sebuah awal baru. Tapi tidak ada yang tersisa. Bahkan mimpipun hancur, seperti halnya negeri itu.

Max Hofmann/Miranti Hirschmann
Redaktion: Yuniman Farid