1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mimpi Buruk Turki

Serangan Istanbul kagetkan Jerman, terutama karena sebagian besar korban dari Jerman. Bagi Turki, bom Istanbul jadi puncak serangan baru dalam rangkaian kekerasan sejak tahun lalu. Perspektif Reinhard Baumgarten.

Mimpi buruk jadi realita dalam beberapa hari ini di Turki. Teror sudah mencengkeram kota metropolitan Istanbul. Itu tidak mengherankan. Di Jerman warga tercengang, karena sebagian besar korban tewas adalah wisatawan Jerman. Sekarang banyak orang mulai sadar, bahwa ini masalah kita juga, bahwa "di Turki bangsa-bangsa berperang," seperti digambarkan pujangga Jerman, Johann Wolfgang von Goethe.

Konflik paralel di Turki

Karena itulah yang skalanya tambah lama tambah besar. Tiga serangan teror besar-besaran dengan jumlah korban tewas hampir 150 terjadi di Turki dalam tujuh bulan terakhir. Korbannya pendukung haluan kiri dan warga Kurdi. Pelaku serangan adalah pendukung milisi teror yang menyebut diri Islamic State (ISIS).

Pada saat bersamaan, di daerah Kurdi di Turki terjadi perang saudara yang sulit dijelaskan antara aparat keamanan dan partai terlarang PKK. Sejauh ini ratusan nyawa sudah bergelimpangan. Korban tewas adalah teroris PKK, itulah yang selalu ditekankan pemerintah di Ankara. Sementara di wilayah Kurdi, orang selalu mengatakan, sejumlah besar warga sipil jadi korban.

Turki melaksanakan perang terhadap teroris. Selama ini pandangan terutama terarah pada "perang" terhadap partai Kurdi PKK. Sementara serangan paling parah terhadap warga sipil dilaksanakan ISIS.

Tapi sekarang wisatawan Jerman jadi korbannya. Mengapa orang Jerman? Kemungkinan itu hanya kebetulan saja, sesuai hukum perkiraan. Karena wisatawan Jerman yang jumlahnya lima juta adalah kelompok wisatawan terbesar di Turki. Juga karena serangan terhadap turisme Turki berarti serangan terhadap salah satu penunjang besar ekonomi negara itu.

Sikap lunak terhadap ISIS berdampak negatif

Menurut keterangan pemerintah Turki, pelaku serangan bom bunuh diri di Istanbul berhubungan erat dengan ISIS. Itu cuma salah salah seorang di antaranya. Bertahun-tahun Turki bersikap lunak terhadap militan Islam, memberi ruang gerak, bahkan mendukung. Begitu beberapa kali dilaporan media kritis Turki beberapa tahun terakhir ini. Ankara selalu menampik tuduhan seperti itu. Pimpinan Turki tidak perlu lagi takut terhadap kritik semacam itu, karena jurnalisme kritis di Turki hampir seratus persen dilarang. Tapi itu juga jadi salah satu mimpi buruk Turki belakangan ini.

Sekarang pendukung Ankara mendapat tuntutan. Mereka harus mendesak, agar Turki mengambil langkah lebih konsekuen untuk memerangi teror ekstrimis Islam. Mereka harus mendesak, agar konflik dengan PKK diselesaikan dengan kata-kata, bukan dengan senjata. Jika kedua hal itu dilaksanakan secara konsekuen, ada harapan, bahwa teror, dalam bentuk apapun, bisa sukses diperangi. Juga terperosoknya Turki dalam perang saudara bisa dicegah.

Laporan Pilihan