1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bundeswehr Kekurangan Panser Untuk Penuhi Misi NATO

16 Februari 2018

Militer Jerman tidak memiliki cukup panser untuk ikut misi-misi NATO di masa depan, kata sebuah dokumen yang bocor. Oposisi mengatakan menteri pertahanan yang salah.

https://p.dw.com/p/2so8G
Deutschland Kampfpanzer Leopard 2
Foto: picture-alliance/dpa/P. Steffen

Militer Jerman Bundeswehr dalam sebuah dokumen yang dibocorkan ke surat kabar Die Welt hari Kamis (15/2) mengakui bahwa mereka tidak dapat memenuhi janjinya kepada aliansi pertahanan NATO.

Bundeswehr sebenarnya dijadwalkan untuk mengambil alih kepemimpinan Satuan Tugas Gabungan Bersama Multinasional (Very High Readiness Joint Task Force -VJTF) awal tahun depan. Namun Bundeswehr tidak memiliki cukup kendaraan lapis baja, kata dokumen yang dirilis Kementerian Pertahanan itu.

Secara khusus, Brigade Panser IX Bundeswehr yang berkedudukan di Münster hanya memiliki sembilan panser Leopard 2 yang beroperasi – padahal Bundeswehr berjanji siap mengambil alih kepemimpinan VJTF. Selain itu, hanya ada 3 dari 14 kendaraan lapis baja tipe Marder yang siap dikerahkan.

Dokumen tersebut juga mengungkapkan, Angkatan Udara Jerman tidak punya cukup pesawat tempur dan pesawat transportasi militer. Pesawat tempur Eurofighter dan Tornado serta helikopter pengangkut CH-53 hanya bisa digunakan empat bulan dalam setahun. Delapan bulan dibutuhkan untuk perawatan dan menyiapkan persenjataan. Selain itu, Bundeswehr tidak memiliki cukup peralatan penglihatan malam, peluncur granat otomatis, pakaian musim dingin dan baju anti peluru.

Irak Erbil - Bundesverteidigungsministerin von der Leyen reist in den Irak
Menteri Pertahanan jerman Ursula von der Leyen di Erbil, Irak (Februari 2018)Foto: picture-alliance/dpa/K. Nietfeld

Lebih dari sekadar masalah uang

Mark Galeotti, peneliti senior dan direktur Center for European Security, mengatakan bahwa kesulitan yang dihadapi militer Jerman bukan rahasia lagi bagi  NATO. "Sudah lama, militer Jerman kekurangan anggaran secara dramatis" namun hal itu ditutup-tutupi dengan kebijakan luar negeri yang non-militeris."

Menurut dokumen yang bocor tersebut, Bundeswehr sekarang mencoba untuk menutup "defisit kapasitas dengan persediaan dari unit-unit lain" - meskipun hal itu akan mempengaruhi pelatihan militer di tempat lain.

Mark Galeotti mengatakan, tantangan teknis itu belum tentu bisa diselesaikan hanya dengan penyediaan anggaran yang cukup.

"Ini bukan hanya soal membeli perangkat keras yang dibutuhkan, melainkan soal infrastruktur teknis, sistem transportasi, stasiun pengisian bahan bakar dan pengadaan suku cadang" katanya. "Panser perlu perawatan intensif, karena itu defisit kapasitas tidak bisa segera diselesaikan, bahkan jika uangnya tersedia cukup."

Eurofighter Typhoon, Mehrzweckkampfflugzeug
Pesawat tempur Jerman EurofighterFoto: picture-alliance/Photoshot

Rencana ambisius NATO di Eropa

NATO tahun 2014 merencanakan pembentukan VJTF yang mencakup 5.000 tentara, untuk menangkal ancaman agresi militer Rusia ke Eropa Timur. Namun untuk itu, pasukan gerak cepat NATO harusnya siaga dalam waktu 24 jam. Dokumen tersebut menyatakan, Perancis dan Inggris saat ini adalah satu-satunya kekuatan besar di Eropa yang memiliki kapasitas semacam itu.

Pengamat militer Mark Galeotti mengatakan, pembentukan VJTF lebih merupakan "keputusan politik" daripada kekuatan militer. "Intinya adalah bentuk untuk mengatakan kepada Rusia: Ya, Anda mungkin berencana mengirim pasukan ke Polandia atau Estonia, tapi Anda harus berhadapan dengan pasukan Jerman, dan negara-negara lainnya, kalau  Anda melakukan itu," katanya.

Tapi Galeotti mengatakan, kekurangan kapasitas Bundeswehr tidak telalu penting dalam pembentukan VJTF. "Militer Rusia tidak terlalu kuat dalam ekspansi atau invasi. Di masa depan, Rusia pasti segan pada kekuatann NATO." NATO di Eropa cukup kuat, bahkan tanpa pengerahan pasukan Amerika Serikat atau Kanada. "Eropa memiliki lebih banyak pasukan darat daripada Rusia," tandasnya.

Ben Knight/hp/yf