1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Metamorfosa Seorang Gembong Teror

Ia diduga kuat merencanakan serangan teror di Paris. Tidak banyak yang diketahui dari sosok Abdelhamid Abaaoud, kecuali rekaman masa mudanya yang jauh dari agama. Kini ia dinyatakan tewas dalam penggerebekan di St. Denis

Hakikat seorang teroris bisa penuh kontradiksi. Tidak berbeda dengan Abdel-Hamid Abaaoud. Pria asal Belgia yang diduga kuat mendalangi serangan teror di Paris dan kini dinyatakan tewas dalam ledakan bom bunuh diri di tengah aksi penggrebekan di St. Denis, Paris.

Pria yang diburu oleh aparat keamanan itu tewas setelah rekan perempuannya meledakkan diri di dalam sebuah apartemen di Paris. Kepolisian memastikan kematiannya setelah berhasil mengidentifikasi potongan tubuh Abaaoud.

Tidak banyak yang diketahui tentang sosok yang mendalangi serangan di Paris itu.

Abaaoud dikenal periang dan gemar bercanda. Ia bahkan pernah mengenyam pendidikan menengah atas di salah satu sekolah paling prestisius di Belgia, Saint-Pierre d'Uccle.

Sepanjang hidupnya Abaaoud jarang bersentuhan dengan lingkup keagamaan yang kental di tempatnya dibesarkan, Molenbeek - sebuah distrik bermayoritaskan pendatang asing di Brussels. "Dia tidak pernah pergi ke Masjid," tutur saudara perempuannya, Yasmina, kepada New York Times.

Kehidupan Abaaoud berakhir pada Januari 2014, ketika ia hijrah ke Suriah buat bergabung bersama kelompok teror Islamic State. Akhir tahun silam IS mengklaim Abaaoud telah meninggal dunia. Tapi laporan tersebut terbantahkan ketika ia muncul di Eropa awal tahun ini.

Sejak saat itu sosok yang dulunya periang itu berubah wajah menjadi pembunuh berdarah dingin. Abaaoud kini dikenal gemar berpose bersama jenazah yang telah dibunuhnya atau telah dimutilasi. "Melihat darah kafir bercucuran membuat saya senang," ujarnya dalam wawancara dengan majalah ISIS, Dabiq.

Video yang dirilis IS beberapa bulan silam menampilkan Abaaoud sedang mengendarai truk yang penuh dengan korban eksekusi mati. Jenazah itu lalu dibuang di sebuah kuburan massal.

"Saya tidak tahan lagi," kata sang ayah, Omar, seperti dilansir New York Times awal tahun ini. "Dia telah menghancurkan keluarga kami. Saya bahkan tidak ingin melihatnya lagi."

Pria yang bernama lain Abu Umar al-Baljiki itu pernah nyaris diringkus kepolisian dalam penggrebekan di Verviers, sebuah kota kecil di timur Belgia, Januari silam. Tapi ia berhasil melarikan diri dan kembali ke Suriah.

"Saya bisa pergi dan kembali ke Sham (Suriah) walaupun diburu oleh banyak dinas rahasia," katanya pongah. "Nama dan foto saya ada di berbagai surat kabar. Tapi saya tetap bisa bersembunyi di negara mereka, merencanakan operasi melawan mereka dan pulang dengan aman jika diperlukan," ujarnya kepada majalah Dabiq.

rzn/yf (dpa,ap,nytimes,cnn,guardian)

Laporan Pilihan