1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mesir Tidak Akui Adanya Kebocoran Minyak

Di laut kembali terjadi kebocoran minyak. Kali ini di Laut Merah. Pemerintah Mesir mencoba untuk menutup-nutupinya, karena pariwisatanya terancam. Nampaknya kebocoran terjadi anjungan minyak laut lepas.

default

Pelabuhan di pesisiran Hurghada dan El Gouna, Laut Merah, Mesir

"Laut berlinang-linang bagaikan zamrud dan batu safir, bagaikan berlian dan permata hijau. Dan pasir emas berteberan di sepanjang pantai.“ Demikian harian Mesir berbahasa Inggris Al-Ahram mengiklankan keindahan alam kawasan pariwisata Hurghada. Iklan itu terbit di koran Kamis lalu (24/6). Tepat dua hari setelah Laut Merah di kawasan pesisiran Hurghada dan El Gouna tercemar minyak dan menjadi berita utama. Waktu yang kurang tepat untuk mengiklankan kawasan tersebut. Tetapi nampaknya, iklan itu sudah terlanjur berada di percetakan.

Pertengahan pekan lalu, mungkin dari anjungan minyak laut lepas 100 kilometer dari utara Hurghada, ada minyak yang bocor di laut. Namun dikatakan tanggal 17 Juni lalu kebocorannya berhasil ditangani. Empat hari setelah diketahui ada minyak yang bocor, juru bicara pemerintah Mesir Magdy Rady membenarkan laporan tersebut. Ia pun menyebutkan, bahwa penyebabnya kemungkinan adalah kebocoran di anjungan. Selama empat hari pemerintah Mesir bungkam.

Berkat organisasi lingkungan independen HEPCA di Hurghada, berita itu bisa tersebar ke masyarakat luas. Pemimpin HEPCA Amr Ali geram dan ia menyalahkan politik penerangan pemerintah Mesir. Amr Ali, "terjadi sebuah kebocoran dan tidak ada pihak yang diberitahu. Sampai sekarang tidak ada perusahaan yang bersedia bertanggung-jawab. Ini skandal!“

Pencemaran minyak adalah bencana yang terburuk bagi kawasan Hurghada, yang pemasukan utamanya didapat dari sektor pariwisata. Bagi pemerintah Mesir, pariwisata juga termasuk pendapatan negara terpenting. Dan tidak ada kalangan yang meragukan, bahwa karena itu pemerintah Mesir menyimpan berita bencana minyak di laut selama itu. Amr Ali menuturkan, "itu menunjukkan ada maksud tertentu yang sungguh aneh. Saya tidak ingin menggunakan kata-kata drastis. Tidak sekarang. Tapi nanti kami akan memberikan formulasi yang tepat. Dulu, bila terjadi pencemaran minyak, kami lega, pantai kami tidak kena. Pariwisata adalah harapan kami. Namun sekarang ada anjungan yang bocor dan taman nasional kami di utara tercemar. Memang kawasan itu bukan tujuan utama pariwisata, akan tetapi merupakan taman nasional. Tetapi, tetap saja tidak kalangan yang bertindak. Semua hanya melihat dan menunggu.“

Demikian paparan Amr Ali kepada stasiun berita Jerman ARD di Kairo Selasa pekan ini (22/6). Sejak hari itu, ia tidak dapat dihubungi lagi. Di situs internet HEPCA pun tidak ada informasi baru mengenai bencana minyak di Laut Merah. Koran-koran Mesir tidak memberitakan lagi tentang kejadian itu. Dan sampai sekarang, pemerintah Mesir tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait penyebab kebocoran.

Berdasarkan keterangan kementerian perminyakan Mesir, sekitar 180 anjungan minyak dikelola oleh pemerintah di wilayah utara Laut Merah. Sebagian bekerja sama dengan perusahaan asing. Menurut Amr Ali, urusan ini ditutup-tutupi bukan demi kepentingan pariwisata saja, akan tetapi juga demi kepentingan industri perminyakan. Amr Ali, "bila ada orang membuang kantong plastik ke laut, maka ia akan ditangkap, kemudian disiksa dan dijatuhi denda uang. Tetapi, sekarang yang membuang kotoran adalah perusahaan minyak. Saya tahu, perusahaan minyak sangatlah kuat. Tetapi, kami sebagai organisasi sipil, tidak akan membiarkan perusahaan itu lolos begitu saja.“

Kini pantai-pantai di kawasan pariwisata sudah kembali bersih. Ratusan tenaga bantuan dikerahkan selama berhari-hari. Jika HEPCA melakukan apa yang dikatakannya, maka organisasi itu akan menghadapi pertempuran yuridis yang sangat alot.

Jürgen Stryjak / Andriani Nangoy

Editor: Ayu Purwaningsih