1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Merkel: Perundingan Timur Tengah Harus Dihidupkan Kembali

Situasi di Mesir mendorong Merkel mendorong Israel untuk mengintensifkan upaya perdamaian di Timur Tengah. Dalam pertemuan dengan Netanyahu, Senin (31/01), Merkel menyatakan keprihatinan terhadap perkembangan di Mesir.

default

Kanselir Jerman Angela Merkel bersama PM Israel Benjamin Netanjahu, Senin (31/01)

Waktunya mendesak, merujuk peristiwa di Mesir dan negara-negara Arab, perundingan damai Timur Tengah harus dihidupkan kembali. Stabilitas di kawasan itu tengah menghadapi masalah. Membawa pesan ini, Kanselir Jerman Angela Merkel tampil di konferensi pers di Yerusalem, seusai pertemuan 1,5 jam dengan PM Israel Benjamin Netanjahu, yang oleh pihak Jerman disebut 'sangat tegas dan serius'.

"Menurut saya, apa yang kita sebut proses perdamaian Timur Tengah justru mendapatkan arti sangat mendasar dalam situasi seperti sekarang. Kami menghendaki solusi dua negara. Jerman berulangkali mendukung sebuah negara Yahudi dan sebuah negara Palestina. Dan tentu saja saya mengatakan, perundingan harus dilanjutkan kembali, sesegera mungkin," dikatakan Angela Merkel.

"Apa yang terjadi di sekitar Israel," kata Merkel, mendesak dihidupkannya lagi perundingan langsung antara Israel dan Palestina. Untuk itu, kata Merkel berulangkali dalam konferensi pers, penghentian pembangunan pemukiman di kawasan Palestina menjadi syarat. Netanjahu, yang berterimakasih atas kunjungan Merkel dan para menterinya untuk konsultasi pemerintah bilateral, menekankan, masalah pemukiman harus dibicarakan dalam kerangka perjanjian damai. Konflik sudah ada lebih dari 50 tahun yang lalu dan tidak ada hubungannya dengan pemukiman.

Merujuk pada pembicaraannya lewat telepon dengan Presiden Mesir Husni Mubarak, pada hari Minggu (30/01), Kanselir Merkel menyatakan, situasi di hari-hari mendatang akan tergantung pada "kecerdasan bertindak". Tidak dapat ditawar lagi, kata Merkel, dialog harus dilakukan secara damai dan bahwa kebebasan berdemonstrasi dan berpendapat harus tetap dilindungi.

PM Israel Netanyahu mengatakan, ia kuatir bisa terjadi perkembangan yang sangat cepat di Mesir, mengingat tidak adanya situasi demokratis yang dibutuhkan bagi proses demokratisasi. Contoh yang terjadi Iran menunjukkan, bagaimana sistem pemerintahan Shah yang represif digantikan sistem Islam, demikian kata Netanyahu merujuk pada Revolusi Iran tahun 1979. Perspektif bahwa hal itu juga bisa terjadi di Mesir, kata Netanyahu, merupakan bahaya mengerikan bagi perdamaian.

Clemens Verenkotte/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid

Laporan Pilihan