1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Merkel Kecam Penahanan Jurnalis Jerman oleh Turki

Kanselir Jerman Angela Merkel memperingatkan Turki mengenai kebebasan pers dan mengecam penahanan wartawan Jerman oleh pemerintah Ankara. Deniz Yucel dituding terlibat terorisme karena mewawancarai tokoh oposisi.

Kanselir Angela Merkel mengecam penahanan wartawan harian Jerman, die Welt, oleh pemerintah Turki. Menurutnya kasus hukum yang digulirkan atas Deniz Yucel "pahit dan mengecewakan."

Sebelumnya pengadilan Turki memerintahkan penahanan Yucel atas dugaan menyebarkan propaganda teroris dan ujaran kebencian. Yucel yang berkewarganegaraan ganda, yakni Turki dan Jerman, ditangkap 14 Februari silam setelah menulis laporan tentang serangan peretas atas akun email milik menteri energi Turki.

Yucel kemudian diinterogasi aparat kepolisian selama lebih dari tiga jam sebelum ditangkap dan dipenjarakan. Ia akan menghadapi pengadilan dalam waktu dekat.

Deniz Yücel (picture-alliance/dpa/Privat)

Wartawan Die Welt, Deniz Yucel

Merkel mengaku kecewa karena menurutnya penahanan tersebut "sangat keras dan tidak proporsioonal, terlebih mengingat bahwa Deniz Yucel sendiri yang secara sukarela menyerahkan diri untuk diinterogasi," ujarnya. Ia berjanji pemerintahannya "akan terus mengupayakan agar Yucel diperlakukan secara adil menurut aturan hukum yang berlaku."

"Pemerintah Jerman mengharapkan pengadilan Turki memahami pentingnya kebebasan pers di setiap masyarakat demokratis," kata Merkel.

Yucel termasuk sekelompok jurnalis yang ditahan oleh pemerintah menyusul kudeta gagal, Juli tahun lalu. Sejak saat itu pemerintah Turki banyak membidik aktivis dan wartawan yang kritis dengan dakwaan terorisme. Sejauh ini sebanyak 100 kantor berita di Turki telah dibredel pemerintah.

Menurut laporan harian Dogan, Yucel ditanyai seputar wawancaranya dengan Cemil Bayik, seorang komandan sayap militan Partai Buruh Kurdistan dan berbagai laporannya mengenai kebijakan Ankara terhadap etnis Kurdi. Ia juga ditanya apakah berhubungan dengan peretas kolektif, RedHack, yang menjebol akun email Menteri Energi, Berat Albayrak, yang juga menantu Presiden Recep Tayyip Erdogan.

rzn/yf (afp,ap)

Laporan Pilihan