1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Menyulap Sampah jadi Barang Trendi

Sebuah Yayasan bernama XS Project di Jakarta mendaur ulang sampah plastik yang ada di Jakarta. Pasarnya mendarat di Eropa.

Recycling von Kunststoffen

Symbolbild Müll Recycling

Yayasan yang berdiri sejak 2002, berlatarbelakang atas keprihatinan penumpukan sampah di Jakarta. Sambil menyelam minum air; mengurangi sampah sambil meraup keuntungan. Sampah plastik telah disulap jadi tas belanja, dompet dan sofa.

Mengadu Nasib

Jupri, tenggelam dalam keseriusan saat menjahit sebuah tas mungil berbahan plastik bekas bungkus sambun cuci. Dalam sehari, Warga Cilandak, Jakarta Selatan ini sehari bisa menghasilkan lima unit produk kerajinan tangan dari sampah plastik. Sebelumnya, hidup Jupri luntang-lantung. Mengamen dari satu gerbong ke gerbong kereta api yang lain. "Sekarang, saya bisa berumah tangga. Dulu saya tinggal di Depok dan belum dapat kerjaan. Nganggur pun perlu makan. Teman ngajak ngamen, satu tahun. Abis gitu kerja serabutan. Tapi setelah di sini..stabil."

Dari sampah plastik, Jupri kini bisa menghidupi isterinya yang sedang hamil tua. Begitu pun Saminah. Ia bisa melanjutkan cita-cita dua anaknya untuk terus sekolah. Sejak suaminya menganggur, ia bekerja membersihkan sampah-sampah plastik untuk segera disulap jadi produk-produk kerajinan tangan.

Pasarnya Mendunia

Jupri dan Saminah bekerja untuk produk-produk kerajinan tangan dari sampah plastic di Yayasan XS Project. Pasarnya, sudah melanglang buana; ke Eropa, Amerika dan Australia. Pembina XS Project, Retno Hapsari mengatakan, tiap bulan bisa menjual 500 unit produk olahan sampah plastik. Seperti tas, dompet, tas laptop, tas kecantikan, sampai sofa. Ia menunjukkan salah satu tas mungil serbaguna yang dilapisi dari sampah plastik bekas berwarna-warni. Di situ ada tulisan yang menjelaskan proses produksi. Tulisannya: Hand Made in Indonesia from Waste Supporting Scavengers. Sampahnya dibeli dari pemulung.

Keuntungan Dibagi untuk Pendidikan Anak Pemulung

Saat ini ada sekitar 20 anak pemulung yang biaya sekolahnya dibantu Yayasan XS Project. Biaya itu berasal dari 5 persen hasil penjualan produk kerajinan sampah plastik. Kata Retno, Yayasan XS Project berdiri 2002 silam. Penggagasnya, seniman asal Amerika, Ann Wizer yang kini tinggal di Manila. Retno bercerita bagaimana Ann Wizer berjuang mengurangi sampah di Jakarta dan menambah kesejahteraan bagi para pemulung : "Waktu dia tinggal di Jakarta, dia tinggal di Apartemen di daerah pondok indah. Terus dia liat, di bawah itu ada kampung pemulung. Dia puny aide, karena dia selalu memikirkan lingkungan, ia ingin membersihkan lingkungan di Jakarta. Dia lihat banyak sekali plastik-plastik. Ke dua, dia ingin membantu pemulung menambah penghasilan."

XS Project telah menghasilkan lebih dari 20 jenis produk kerajinan tangan dari sampah plastik di Jakarta. Sayang, kata Retno, produk ini justru 90 persen laku di luar negeri. Menurut dia, masyarakat Jakarta masih malu menggunakan produk dari olahan sampah. Selain itu, harganya juga lebih mahal dari produk sejenis.

Salah satu warga Jakarta, Nungki Suciningtyas mengakui produk-produk daur ulang masih mahal "Menurut saya pribadi sih, yang membuat tas daur ulang ini, atau jenis lain dari produk daur ulang ini, kurang booming, karena harganya sedikit lebih tinggi dari produk sejenis. Satu lagi, mungkin sosialisasinya yang kurang."

Sementara, warga Jakarta lainnya, Nanda Hidayat mengatakan, produk kerajinan tangan dari sampah plastic masih sangat terbatas jenisnya: "Memang ada barang-barang daur ulang yang saya temui di beberapa kota, khususnya di Jakarta. Tapi, masih sulit untuk dapat yang saya inginkan. Misalnya dari bentuk, ukuran dan jenis yang saya butuhkan."

Mengurangi Gunung Sampah Plastik di DKI

Upaya mengurangi sampah plastik dengan cara mengolahnya kembali jadi produk kerajinan tangan hanyalah upaya kecil. Seperti XS Project yang mengurangi sampah plastik sekitar 600 kilogram sebulan. Berdasarkan laporan 2010 Dinas Kebersihan DKI Jakarta, sampah plastik yang dihasilkan warga Jakarta tiap harinya mencapai 870 ton lebih. Jika sampah plastik dibentangkan, cukup untuk menutupi seluruh tanah di Jakarta.

Kementrian Lingkungan Hidup, KLH berencana mengontrol jumlah plastic kemasan yang diproduksi oleh perusahaan dengan menerbitkan peraturan pemerintah. Asisten Deputi Pengelolaan Sampah KLH, Sudirman mengatakan, dalam aturan itu dijelaskan kewajiban perusahaan untuk mendaur ulang sampah plastic yang telah mereka produksi. Selain itu, perusahaan juga wajib mengganti plastik kemasan dengan plastik ramah lingkungan: "Produsen sudah tak bisa tawar-tawar lagi. Bisa juga sanksi pidana. Karena, sampah yang dihasilkan terpapar ke lingkungan punya efeknya sekian. Tapi perlu kajian lagi. Plastik yang ramah lingkungan 3 tahun bisa hancur itu sudah banyak."

Rencana ini justru ditanggapi dingin LSM Pemerhati Lingkungan Sindikat Musik Penghuni Bumi, Simponi. Manajernya, M. Berkah Mulya tidak begitu yakin aturan ini nantinya bisa mengontrol sampah plastik. Pasalnya, kata dia, sudah ada Undang-undang Sampah yang mengatur agar seluruh perusahaan dan perkantoran mengelola sampahnya sendiri. Dengan pemilahan sampah kering-basah, organik dan non-organik. Tapi banyak kantor dan perusahaan tak melakukan itu: "Implementasi jadi masalah besar di negara kita. Apalagi soal lingkungan hidup yang belum jadi prioritas. Agak pesimis sih, apakah bisa, tapi sebenarnya kita akan dukung, kalau kontrolnya itu kuat dan bagus pada produsen-produsen ini. dan juga jangan perusahaan-perusahaan kecil. Perusahaan besar juga harus dikontrol."

Usaha produksi kerajinan tangan dari sampah plastik bertujuan untuk mengurangi sampah. Tapi tetap perlu dukungan dari pemerintah. Dengan adanya peraturan pemerintah soal sampah, M. Berkah Mulya berharap pemerintah bertangan besi menindak tegas perusahaan-perusahaan yang masih mengemas produknya dengan plastic tak ramah lingkungan. Kata dia, kalau aturan itu nantinya hanya berlaku di atas kertas. Ia usul, agar menteri lingkungan segera diganti.

Muhammad Irham

Editor : Ayu Purwaningsih

Laporan Pilihan