1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Menteri Pertahanan Jerman Mengaku Keliru Membuat Pernyataan

Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg membela diri mengenai keputusan pemecatan petinggi pemerintah dan militer yang terkait kasus serangan udara di Kunduz, Afghanistan.

Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg di depan komisi penyidikan kasus serangan udara Kunduz parlemen Jerman, Berlin, Kamis (22/04).

Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg di depan komisi penyidikan kasus serangan udara Kunduz parlemen Jerman, Berlin, Kamis (22/04).

Dalam penjelasannya di depan komisi penyidikan di Berlin, Menteri Pertahanan Jerman Karl Theodor zu Guttenberg memberikan alasan keterangannya yang kontradiktif berkaitan kasus serangan udara di Kunduz.

Pernyataan bahwa serangan udara di dekat Kundzs itu adalah tindakan yang benar, disampaikannya benar-benar atas dasar kesalahanpahaman pemberian informasi dari militer dan kementerian pertahanan.

Dalam kesempatan yang sama, Guttenberg membela habis-habisan keputusan komandan pasukan Jerman di Kunduz saat itu Kolonel Geog Klein. Guttenberg mengatakan, perwira yang memerintahkan serangan pada tanggal 4 September tahun lalu itu, sudah melakukan tindakan secara sesuai informasi yang tersedia.

Dalam keterangannya di parlemen Kamis (22/04) kemarin Menteri Pertahanan Guttenberg juga membela keputusannya memecat Inspektur Jenderal Bundeswehr Wolfgang Schneiderhahn dan wakil menteri pertahanan Peter Wichert. Dikatakannya ia tidak memiliki kepercayaan lagi kepada keduanya setelah mereka tidak mengajukan laporan tentang serangan udara yang kontroversial itu.

Hal utama adalah bukanlah mengenai isi laporan itu, melainkan dirinya tidak mendapatkan akses untuk mendapatkan dokumen penting seperti laporan polisi militer yang dalam kasus tersebut amatlah sensitif.

Rainer Arnold, anggota komisi penyelidikan kasus Kunduz di parlemen Jerman dari Partai Sosial Demokrat (SPD) mengatakan, "Tapi dia belum dapat menjelaskan secara rinci, isi informasi apa yang tidak diperolehnya."

Secara tegas Guttenberg menyangkal tudingan bahwa dirinya telah mengorbankan Inspektur Jenderal Wolfgang Schneiderhahn dan mantan deputi menteri pertahanan Peter Wichert, guna menutupi kesalahannya.

Awalnya Guttenberg pada November 2009 menyatakan bahwa serangan udara militer Jerman terhadap dua truk tanki yang dibajak Taliban di Kunduz, Afghanistan merupakan tindakan yang 'sesuai prosedur militer'. Sebulan kemudian, pada 3 Desember lalu, dia menyatakan hal sebaliknya bahwa serangan udara tersebut 'melanggar prosedur militer'.

Lebih lanjut Guttenberg mengaku bertanggung jawab atas kekeliruan yang dilakukannya. Ia mengakui bahwa pernyataan awalnya didasari pada laporan Schneiderhahn dan Wichert. Waktu itu, Guttenberg masih baru memangku jabatan sebagai menteri pertahanan. Disebutkannya, ia tidak punya alasan untuk meragukan laporan kedua petinggi tersebut.

Berdasarkan laporan NATO yang diterima Deputi Menteri Pertahanan Peter Wichert dan Inspektur Jenderal Wolfgang Schneiderhahn, kedua orang tersebut sependapat bahwa serangan udara di Kunduz yang menewaskan sejumlah warga sipil merupakan tindakan yang 'sesuai prosedur militer'.

Baru kemudian Zu Guttenberg mencabut pernyataannya itu, karena pada tanggal 25 November 2009, dirinya menerima informasi bahwa selain laporan NATO, terdapat sejumlah laporan lainnya mengenai serangan udara itu.

Ditambahkannya, setelah berkali-kali meminta penjelasan kepada Wichert dan Schneiderhahn, petinggi pemerintah dan militer itu mengakui terdapat laporan dari misalnya polisi militer Jerman.

Anggota parlemen Jerman dari Partai Hijau Omid Nouripour mengomentari pengakuan Guttenberg. "Menteri zu Guttenberg telah mengakui kekeliruannya. Itu bagus. Itu melegakan, juga karena harus diakui dan diamati bahwa dia terburu-buru menyatakan sesuatu dan sangat lambat mengakui kesalahan yang mungkin dilakukannya, tapi dia telah melakukannya dengan baik. Ini merupakan langkah pertama yang kami sambut,“ katanya.

LS/DK/dpa/ap/ARD