1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Menteri Aborigin Pertama di Australia Menjadi Harapan Rekonsiliasi

Menteri Federal Aborigin pertama Australia Ken Wyatt adalah seorang anak dari "generasi yang dicuri (stolen generation)". Karirnya adalah bagian dari pengelolaan "sejarah hitam" rasisme Australia.

Ken Wyatt berusia 13 tahun ketika Australia tahun 1967 mengamandemen konstitusinya dan untuk pertama kalinya menghitung populasi Aborigin dalam sensus nasional. Februari 2017, dia dengan mengenakan jubah tradisional kulit kanguru-kulit yang dihiasi bulu kakatua ekor merah disumpah menjadi menteri federal Australia. Dialah orang Aborigin pertama yang menduduki jabatan menteri.

Australia punya sejarah panjang penindasan dan kekejaman brutal terhadap penduduk asli Aborigin selama masa penjajahan Inggris dan sesudahnya. Ibu Wyatt berasal dari kelompok yang sering disebut "stolen generation" - anak-anak Aborigin yang direbut dari orang tuanya dan dipaksa tinggal di keluarga non-Aborigin sebagai bagian dari kebijakan asimilasi.

Baru sembilan tahun lalu, Perdana Menteri saat itu Kevin Rudd secara resmi meminta maaf kepada "stolen generation", dalam upaya melakukan rekonsiliasi antara penduduk kulit putih Australia dengan penduduk aslinya.

Pejabat Khusus PBB Hak-Hak Penduduk Asli, Victoria Tauli-Corpuz menyampaikan laporan khususnya tetang nasib penduduk asli hari Senin ini (3/4).

"Manifestasi rasisme muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari stereotip negatif yang muncul di publik bahwa mereka adalah pelaku kriminal sampai pada diskriminasi di lembaga peradilan", katanya di Canderra setelah meninjau Australia selama dua minggu dan mempelajari kondisi hak asasi di negara itu.

australische Aborigine (Getty Images/Three Lions)

Kamp penampungan Aborigin dekat Darwin, 1955

Victoria Tauli-Corpuz mengatakan, Australia perlu kerangka hak asasi yang lebih komprehensif untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat kepada penduduk aslinya. Dia juga mengeritik situasi yang masih memprihatinkan, seperti kecenderungan rasisme, minimnya pelayanan kesehatan dan tingginya angka kejahatan di kalangan penduduk asli.

Ken Wyatt mengatakan, situasi saat ini memang sudah jauh berbeda dari dulu.

"Kalau melihat ke belakang selama 60 tahun kehidupan saya, saya melihat perubahan yang luar biasa yang sudah membawa banyak perbaikan, dan ini penting" katanya kepada kantor berita dpa.

"Tapi masih tetap ada ketimpangan besar sehubungan dengan kepentingan penduduk asli. Jadi jalan masih panjang"," sambungnya.

Warga Aborigin dan kelompok penduduk asli lain masih menduduki posisi terbawah dalam berbagai indikator sosial dan ekonomi. Hanya 3 persen dari seluruhnya 24 juta penduduk Australia adalah penduduk asli. Namun 27 persen penghuni penjara berasal dari kelompok penduduk ini. Harapan hidup warga Aborigin rata-rata 10 tahun lebih pendek daripada penduduk lain. Dan mereka lebih sering menjadi korban aksi kekerasan dalam rumah tangga.

Menghadapi tantangan-tantangan itu, pengangkatan Ken Wyatt sebagai menteri urusan kesehatan dan manula penduduk menjadi harapan.

Australien Aborigines australische Ureinwohner (AP)

PM Australia Kevin Rudd (kiri) berpegangan tangan dengan tokoh Aborigin Matilda House (tengah) Februari 2008

"Seorang Aborigin untuk pertama kalinya ditunjuk sebagai menteri federal, ini adalah kebanggaan besar," kata Pat Turner, pensiunan birokrat dan aktivis Aborigin dari Canberra. Dia menambahkan, hal ini sebenarnya sudah sangat terlambat.

"Penunjukan adalah beban yang berat," kata Ken Wyatt, yang dalam pemilu tahun 2010 tepilih menjadi anggota DPR sebagai warga Aborigin yang pertama. Sebelum terjun ke politik praktis, Ken Wyatt selama 28 tahun aktif di kelompok akar rumput dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

Pejabat Khusus PBB Tauli-Corpuz mengatakan, banyak dokter dan tenaga kesehatan yang menceritakan kepadanya tentang diskriminasi dan rasisme terselubung dalam bidang kesehatan.

Dia juga mengeritik sistem pendidikan di Australia yang menurutnya masih mengajarkan "komponen-komponen tidak benar" tentang sejarah Aborigin dan dampak dari penjajajahan Inggris.

"Tidak diakuinya hak-hak sosial dan ekonomi secara penuh dan trauma antar generasi di kalangan penduduk asli sayangnya masih menghambat upaya rekonsiliasi", kata Tauli-Corpuz.

hp/vlz (dpa, ap)

 

Laporan Pilihan