1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Menlu Sigmar Gabriel: Jerman dan Eropa Perlu Mendekat ke Asia

Setelah Politik Luar Negeri AS di bawah Donald Trump bergerak ke arah proteksionisme, Jerman dan Eropa harus mendekat ke Asia, kata Menlu Jerman Sigmar Gabriel.

"Pusat gravitasi ekonomi kini berpindah ke Asia", kata menteri luar negeri Jerman Sigmar Gabriel di Hamburg hari Jumat (24/3), ketika menghadiri acara tahunan Ostasiatiescher Verein (OAV), yang didirikan tahun 1900.

Selanjutnya dia mengatakan, Asia adalah kawasan terpenting bagi masa depan Jerman dan Eropa.

"Itu sebabnya kita perlu orientasi baru dalam politik Asia", tandasnya. Namun, Menlu Jerman dari partai SPD itu menekankan, ini tidak berarti bahwa Jerman akan mengabaikan mitra-mitra yang lain.

Di hadapan sekitar 400 undangan dari 20 negara, Sigmar Gabriel mengatakan, Asia adalah kawasan ekonomi terbesar dunia, dengan 4,5 miliar penduduk. 9 dari 10 pelabuhan peti kemas terbesar dunia ada di Asia.

Tentu saja kawasan Asia masih penuh ketimpangan, kata Gabriel. Asia di satu pihak adalah investor terbesar dalam bidang energi ramah lingkungan, di lain pihak paling banyak mengkonsumsi batu bara, yang merusak lingkungan.

Menlu Jerman menekankan, sekitar 2 juta tempat kerja di Jerman tergantung langsung dari perdagangan dengan kawasan Asia.

"Selama puluhan tahun kota melihat Asia, terutama Cina, sebagai pasar untuk produk-produk kita", kata Gabriel. "Namun sekarang Cina sudah bangkit menjadi pengekspor teknologi".

Politik Jerman harus lebih menyadari potensi besar Asia, kata Menlu Jerman. Di sana tidak ada hanya ada India, yang merupakan negara dengan penduduk terbanyak di dunia, melainkan juga Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar dunia.

Sebuah haluan politik baru untuk Asia harus bisa fleksibel, namun tetap berada di dalam garis-garis haluan yang telah ditetapkan, "berdasarkan kepentingan dan nilai-nilai yang kita miliki", katanya.

Sigmar Gabriel selanjutnya mengatakan, dia ingin ada aturan-aturan yang tegas untuk pasar bebas. Misalnya, lebih banyak perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa dengan negara-negara Asia. Hingga kini, Uni Eropa baru memiliki satu perjanjian, yaitu dengan Korea Selatan. "Di sini kita harus bisa melangkah maju", tandasnya.

Orientasi politik luar negeri Jerman, kata menlu Sigmar Gabriel, harus menuntut penyelesaian konflik dengan cara-cara yang damai. Eropa dan Asia harus bekerjasama, "sehingga berbagai ketegangan bisa dihadapi dengan dialog, dengan mekanisme internasional dan prosedur internasional, misalnya melalui mahkamah-mahkamah internasional yang ada."

Sigmar Gabriel juga ingin memperkuat institusi-institusi regional di Asia dan melibatkan mereka dalam mekanisme internasional. "Di forum-forum PBB, baik secara formal maupun informal, kita harus mengajak negara-negara Asia agar memberi kontribusinya bagi penyelesaian berbagai masalah global".

Menlu Jerman selanjutnya mengatakan, orientasi politik luar negeri Jerman tetap harus didasarkan pada nilai-nilai universal yang diakui, didukung dan dipertahankan oleh Jerman.

hp/vlz (dpa)

 

Laporan Pilihan