1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Menlu Retno Marsudi Upayakan Perbaikan Hubungan Arab Saudi-Iran

Presiden Joko Widodo menulis surat untuk pemimpin Arab Saudi dan Iran. Menlu Retno Marsudi diutus menemui para pemimpin kedua negara untuk menyerahkan surat Jokowi dan menengahi ketegangan.

Indonesia ingin mengupayakan mediasi antara Arab Saudi dan Iran demi mencairkan ketegangan antara kedua negara yang punya peran penting dalam menjaga situasi damai di Timur Tengah. Ketegangan kedua negara yang terlibat dalam berbagai konflik di kawasan belakangan makin meruncing. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi diminta Presiden Joko Widodo segera berangkat ke kedua negara yang sedang bersitegang itu.

Situasi awal tahun ini makin memburuk, ketika Arab Saudi dengan populai mayoriotas Islam Sunni mengeksekusi ulama Syiah Nimr Baqr al-Nimr, 2 Januari lalu. Hal itu membangkitkan kemarahan kaum Islam Syiah, yang merupakan populasi mayoritas di Iran. Pengunjuk rasa sempat menyerang kedutaan Saudi di Iran. Sebagai reaksi, Arab Saudi memutuskan hubungan diplomasi dengan negara Syiah itu.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sebagian besarnya penganut Islam Sunni, Indonesia kini ingin memainkan peran diplomasinya. Itu sebabnya Presiden Jokowi menulis surat khusus dan mengutus menteri luar negeri Indonesia berkunjung ke kedua negara dan melakukan pembicaraan langsung.

"Ini menunjukkan kedekatan Presiden Jokowi dengan Raja Arab dan juga Presiden Iran. Dan ini pertama kali loh surat Presiden langsung dibawa oleh menteri luar negerinya," kata Menlu Retno Marsudi di kantornya, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (12/01).

Kepada kantor berita Reuters, juru bicara kementerian luar negeri Armanatha Nasir menegaskan Indonesia siap membantu pencairan ketegangan.

"Indonesia siap memainkan peran untuk membantu proses (pencairan ketegangan) dan apa saja yang perlu dilakukan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah," kata dia.

"Karena jika tidak dipertahankan, dampaknya tidak hanya untuk daerah, tetapi akan ada dampak global," tambahnya.

Armanatha Nasir selanjutnya menyatakan, Indonesia berharap kedua belah pihak bisa menyelesaikan perbedaan mereka secara damai.

Di Indonesia sendiri selama beberapa tahun terakhir terjadi serangan sporadis terhadap minoritas kelompok Islam Syiah, yang dianggap sebagian orang menyimpang dari ajaran Islam.

Di pihak lain, kepolisian Indonesia sibuk membongkar jaringan sel teror yang bergabung dengan kelompok ISIS, sebuah kelompok ekstrimis Islam Sunni yang punya basis kuat di Arab Saudi.

Satuan anti teror Detasemen Khusus (Densus) 88 dalam beberapa hari terakhir menangkap empat orang yang dicurigai sedang merencanakan serangan terhadap para tokoh Syiah di Indonesia.

Menurut kalangan aparat keamanan, di Indonesia ada lebih dari 1.000 pendukung kelompok Sunni garis keras yang menamakan diri Islamic State (IS) atau sering disebut ISIS. Puluhan aktivis ISIS diduga sudah kembali ke Indonesia setelah ikut berperang di Timur Tengah, terutama di Suriah.

hp/ml (rtr, afp)

Laporan Pilihan