1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Mengurangi Methana di Peternakan Sapi

Para peneliti iklim di Jerman mencari solusi agar sapi dapat memproduksi lebih sedikit gas rumah kaca, mengingat seekor sapi menghasilkan 300 hingga 500 liter gas methana setiap hari.

Seekor sapi perah, sepanjang hari hewan ini cuma makan, mengunyah dan mencerna. Selama itu pula ia memproduksi susu - dan dengan bersendawa atau kentut, juga memproduksi gas methan yang berbahaya buat iklim.

Dr. Sebastian Hoppe, pakar ternak sapi menjelaskan: "Sapi adalah hewan pemamah biak dan tidak cuma punya satu lambung, melainkan sebuah sistem pra-pencernaan dengan lambung belakang, rumen dll. Pengolahan makanan secara mikrobiologis terjadi dalam rumen. Bakteri dalam rumen, menghasilkan berbagai jenis produk seperti misalnya methana."

1/3 emisi dari peternakan

Sepertiga emisi gas rumah kaca global berasal dari industri peternakan. Satu kilogram Methan bahayanya buat iklim berlipat ganda ketimbang gas CO2. Jika emisi gas Methan dari sapi bisa direduksi, dampaknya akan sangat positif buat iklim bumi.

Para ilmuwan Jerman mengembangkan metode untuk mengurangi emisi gas mthana pada sapi. Pada sebuah peternakan, mereka mencatat apa dan seberapa banyak pakan sapi setiap harinya. Pada delapan titik, sensor menyedot emisi yang diproduksi sapi.

Pakar dari Universitas Bonn, Alexander Schmithausen menjelaskan: "Konsentrasi gas dari kandang ditransfer ke ruangan ini. Melalui selang ini pompa vakuum menyedot udara dari peternakan ke mesin pengukur ini 24 jam sehari. Di belakang alat pengukur kami memiliki wadah, dimana udara diputar secara terus menerus. Dan monitor gas di belakang komputer menyedot sampel udara dari wadah dan menganalisa datanya."

Perbedaan pakan

Uap Methan dari sapi untuk pertamakalinya diukur dalam kondisi nyata di peternakan dan gerombolan sapi.

Ilmuwan ingin mengetahui, apakah jenis pakan yang berbeda memicu perbedaan konsentrasi gas Methan pada udara di peternakan. Dalam eksperimen tersebut sapi cuma diberi makan silase jagung atau silase rumput.

Percobaan menunjukkan, bahwa pakan berbasis jagung memproduksi lebih sedikit emisi methan. Jenis pakan ternak yang relatif kaya pati dan sebab itu diolah secara berbeda di perut besar serta memproduksi lebih sedikit emisi methana. Dibandingkan dengan silase rumput, pakan ini berstruktur kasar dan kaya serat. Kadar serat yang lebih tinggi, dalam lambung sapi memproduksi lebih banyak gas methana.

Tidak cuma sapi yang memproduksi gas methana. 20 persen emisi peternakan berasal dari kotoran dan limbah. Di peternakan ini, lantai bercelah dibersihkan oleh sebuah robot secara terus menerus. Sementara lantai datar di kandang dibersihkan 12 kali sehari dari kotoran sapi. Sistem mana yang memproduksi lebih sedikit gas methana? Kembali Alexander Schmithausen menjelaskan:

"Lantai datar menyebabkan lebih sedikit emisi ketimbang lantai bercelah. Tapi kita harus juga memperhatikan, di bagian berlantai datar kami menyimpan limbah di luar. Sementara di bagian berlantai celah, limbahnya terkocok lebih intensif hingga semakin banyak pula emisinya."

Bagaimana dan di mana peternak menyimpan limbah lebih penting ketimbang pilihan lantai yang tepat, jika hendak menurunkan konsentrasi gas methana.

Laporan Pilihan