1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Mengukur Bima Sakti

Satelit Gaia merupakan misi ambisius Badan Antariksa Eropa ESA. Gaia bertugas membuat sebuah peta tiga dimensi galaksi Bima Sakti, dan dalam prosesnya menguak komposisi, pembentukan dan evolusi Bima Sakti.

Bima Sakti adalah galaksi dimana tata surya berada. Satu dari milyaran galaksi, terbentuk 13 lebih milyar tahun lalu. Sulit dipercaya tapi nyata: Bagaimana komposisi rincinya tetap tidak diketahui. Karena itu satelit Gaia akan membuat peta tiga dimensi pertama Bima Sakti. Satelit harus mengukur milyaran bintang.

Para peneliti dari Potsdam dengan data yang dihimpun hendak menyelidiki, bagaimana perkembangan galaksi ini. Bahkan mengungkap rahasia paling besar.Dr. Roelof de Jong, yang bekerja untuk Institut Leibniz menjelaskan: "Galaksi tidak cerai berai karena ditahan gaya gravitasinya. Dan gaya ini bisa kita kalkulasi dari bintang yang nampak. Tapi, dari hasil kalkulasi gravitasinya tidak mencukupi, untuk menahan galaksi agar tidak cerai berai. Pasti ada sesuatu yang lain. Ini yang kami sebut Materi Gelap. Tapi apa komponennya dan bagaimana distribusinya, kami belum tahu pasti."

Perlu 20 tahun

Pengembangan satelit Gaia perlu 20 tahun lebih. Satelitnya dilengkapi dua teleskop, yang memantau ke berbagai arah, serta sebuah chip kamera selebar satu meter. Sebuah payung surya dipasang untuk melindungi instrumen dari paparan panas dan radiasi. Satelit memiliki presisi tinggi, dapat mengenali selembar rambut dari jarak 1.000 Kilometer.

Presisi setinggi itu diperlukan, untuk mengukur jarak, posisi dan gerakan bintang, serta komposisi spektrum cahayanya. Kembali dijelaskan de Jong: "Amat menakjubkan, apa yang saat ini kami pelajari, dan betapa cepat semua bergerak maju. Teknologi berkembang amat pesat, hingga kami menghimpun makin banyak data. Gaia contoh terbagus, banyak data yang diperoleh, hingga kami kebingungan, mau mulai dari mana, karena amat banyaknya data.

Pakar Astrofisika di Potsdam ini bertanggung jawab untuk analisa spektrum cahaya. Inilah sidik jari kosmis yang bisa menjelaskan biografi bintang, menyangkut umur, tempat lahir, dan komposisi kimianya. Informasinya harus disaring dari data yang dikirim Gaia, mirip menemukan sebutir emas dari gunungan pasir. Institut di Potsdam mengembangkan piranti lunak untuk itu. De Jong mengatakan : "Institut kami adalah yang pertama mengekploitasi fisika spektrum cahaya. Dan kami juga belajar memanfaatkannya. Kita baru saja memahami tema ini sekitar 100 tahun."

Pencaplokan bintang

Gaia juga hendak meneliti bintang-bintang di pinggiran Bima Sakti. Para pakar Astro Fisika sangat tertarik, karena memperkirakan bintang itu berasal dari galaksi lebih kecil yang dicaplok oleh Bima Sakti.

Dengan Gaia para peneliti hendak meneliti: Berapa banyak bintang yang dicaplok oleh galaksi Bima Sakti?Dari mana bintang itu berasal?Juga Materi Gelap yang misterius, kemungkinan bisa dilacak dengan bantuan bintang-bintang tersebut. Dikatakan de Jong: "Dengan Gaia, kami bisa mengukur gerakan bintang yang amat jauh, kami bisa melacak dengan akurat, secepat apa pergerakannya dan seberapa besar massa yang dimiliki, hingga bintang-bintang ini tidak terlontar, tapi tetap berada dalam Bima Sakti. Artinya, harus ada massa amat besar, dan itu menjelaskan, berapa banyak Materi Gelap di sana." Peta tiga dimensi galaksi Bima Sakti diharapkan tuntas dalam 8 tahun. Dengan itu, pelacakan Materi Gelap bisa dimulai.

Laporan Pilihan