1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mengintip Korut: Anak-anak Dilatih Perang

Sejumlah calon tentara masa depan Korea Utara -- anak-anak kurus berumur 11 tahun dengan kepala plontos -- digembleng di Sekolah Revolusi Mangyongdae. Mereka belajar keras untuk bersiap perang.

Di sepanjang negeri, spanduk, slogan dan lukisan digambar ulang untuk memusatkan perang atas “Imperialis Amerika dan para pengkhianat pengikut mereka,“ yang merujuk kepada Korea Selatan.

Berbagai slogan untuk meningkatkan ekonomi Korea Utara sejak 2009 mendominasi, tapi anti Amerika telah berkembang selama satu tahun terakhir, khususnya menyusul kecaman yang dipimpin oleh Amerika atas keputusan Korea Utara untuk meluncurkan roket jarak jauh dan melakukan percobaan senjata nuklir.

Di sekolah militer, di mana para pelajar sedang bekerja dengan komputer tanpa akses internet dan melatih kemampuan bahasa Inggris mereka dengan teriakan seperti “Yang Mulia Marshal Kim Jong Un adalah bapak kami,“ mengisi ruang kelas dengan konflik.

Tugas Revolusioner

“Mengingat situasi saat ini, saya sekarang mencoba belajar lebih keras, saya betul-betul berpikir bagaimana caranya saya bisa belas dendam terhadap para imperialis Amerika: dengan mendapat nilai paling tinggi di kelas,“ kata salah satu pelajar Jo Chung Hyok.

“Itu adalah tugas revolusioner saya,“ kata Jo. “Saya bekerja ekstra untuk mendapat nilai tinggi dalam mata pelajaran militer seperti soal taktik serta menembak.”

Sentimen anti Amerika naik setelah munculnya kecaman dunia dan sanksi PBB atas uji coba rudal jarak jauh Korea Utara pada Desember tahun lalu serta percobaan nuklir bawah tanah pada bulan Februari, yang dituduh oleh Pyongyang adalah akibat hasutan Washington dan Seoul. Latihan militer bersama Amerika dengan Korea Selatan di selatan perbatasan Korea Utara yang membuat marah Pyongyang.

Beberapa pekan terakhir Korea Utara mengancam akan menyerang Amerika dan Korea Selatan terkait latihan militer bersama dan atas dukungan mereka bagi sanksi PBB. Washington dan Seoul mengatakan bahwa mereka tidak melihat bukti bahwa Pyongyang kini sedang betul-betul mempersiapkan diri untuk sebuah konflik besar, meski para pejabat pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara telah mempersiapkan sebuah uji coba rudal jarak menengah yang mampu menjangkau wilayah Amerika di Guam.

Sejauh ini Pyongyang memberikan daftar panjang, sebagai syarat awal bagi sebuah dialog, termasuk diantaranya adalah pencabutan sanksi PBB, diakhirinya latihan militer Amerika dengan Korea Selatan, dan penarikan aset senjata nuklir milik Amerika dari wilayah itu. Pada hari Jumat, mereka juga meminta Korea Selatan untuk meminta maaf atas pernyataan mereka yang dianggap telah melukai perasaan pemimpin Korea Utara.

Dalam kompleks Sekolah Revolusioner Mangyongdae, para pelajar juga mempelajari kata-kata kecaman dan kutukan yang disampaikan pemerintah atas musuh-musuh mereka, sebagai tambahan di luar pelajaran biologi, sejarah dan bahasa asing.

Calon Inti Tentara Rakyat

“Pada saat ini ada ketegangan di semenanjung Korea, dan Amerika sudah berbuat jahat kepada kami,“ kata Letnan Kolonel Kim Hak Bin, seorang pimpinan akademi militer tersebut. “Tapi anda bisa melihat bahwa pelajar di sini tetap ceria seperti biasa, dan kehidupan serta kelas-kelas berjalan sama seperti hari-hari biasa sebelumnya.

“Para pelajar kami siap pergi ke garis depan kapanpun perang pecah, dan kini mereka belajar lebih keras,“ kata dia. Para pelajar ini dipersiapkan untuk menjadi “inti“ Tentara Rakyat Korea, kata guru biologi Ri Kyong Hui.

Kunjungan ke akademi militer ini menawarkan sebuah pemandangan tentang bagaimana para pemuda Korea Utara belajar berbaris sambil bernyani dengan presisi yang sama seperti yang digelar dalam parade militer besar.

Sekelompok pelajar yang mengenakan seragam, berusaha untuk berbaris persis seperti posisi tangan yang diajarkan seorang instruktur. Seorang anak terlihat meringis frustasi. Di dalam kelas, pelajar lainnya berlatih dengan menggunakan senapan palsu sebagai alat peraga.

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, bocah berusia 11 tahun yang baru bergabung di akademi itu tidak bisa dijadikan contoh disiplin. Berbaju olahraga hijau dan biru muda, mereka menggeliat, terkikik dan mempermainkan mimik mereka saat berlatih taekwondo.

ab/hp (ap/dpa/afp)

Laporan Pilihan