1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Mengharumkan Tenunan Nasional di Dunia Internasional

Marjory Linardy
16 Juli 2023

Lurik kurang dikenal bahkan di Indonesia, jika dibandingkan dengan batik. Tapi Lina Berlina melihat garis-garis magis lurik jadi identitasnya di negeri orang. Sekarang ia sudah jadi desainer lokal Berlin.

https://p.dw.com/p/4Tuwu
Lina Berlina
Desainer mode Lina Berlina saat acara peragaan busana dan aksesori karyanya, di hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

"Kebetulan saya memang rencana mau ke Eropa juga, mau ke Paris," kata Lina Berlina sambil berusaha mengingat. Tapi detailnya ia sudah tidak ingat seratus persen lagi. "Udah lama banget sih," katanya sambil tertawa, "udah tahun 1992, udah 30 tahun."

Yang jelas, ia pertama kali datang ke Jerman karena diundang KBRI di Berlin untuk mengadakan "mode show", memperagakan karya-karyanya, pada acara Indonesia Kulturabend, atau malam kebudayaan Indonesia, yang diadakan di Haus der Kulturen der Welt atau rumah kebudayaan dunia. Waktu itu sebagai perancang busana, ia sudah punya nama di Indonesia. Dari pertama kali dulu, hingga sekarang, dia sudah berkali-kali mengadakan pameran rancangannya di Berlin, yaitu di hotel Hilton. Sekarang dia sudah menjadi pembuat mode lokal Berlin.

Lina Berlina Reichl lahir di Bandung. Tahun 1993 ia menikah dan sejak itu tinggal di Berlin. Dia bercerita, ketika datang ke Jerman pertama kali, koleksinya masih menggunakan batik. Ia sekarang terkenal dengan rancangan pakaian dan tas yang menggunakan lurik.

Menemukan identitas sebagai desainer di negeri orang

Ia bercerita, dulu di Bandung, tepatnya di Cihampelas, dia membuat koleksi dengan bahan batik, yang dikenal dengan nama Batik Tabrak. Disebutnya begitu karena dalam rancangannya, ia ibaratnya "menabrakkan" berbagai motif batik. "Nah, akhirnya jadi beken tuh, di Cihampelas," tuturnya. Iapun sempat diwawancara harian Pikiran Rakyat.

Lina Berlina
Lina Berlina saat pameran mode karyanya di hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

Ia beralih dari batik ke lurik tahun 2005. Ketika itu ia membaca berita yang membuat dia merasa harus menetapkan identitasnya sebagai desainer dengan lebih jelas lagi. "Kok batik kaya' dipaten, gitu loh, oleh Malaysia," katanya, dan menambahkan, batik memang sulit untuk dijadikan identitas, karena di Indonesiapun, batik dibuat di berbagai daerah. "Saya ya mikir, kalo saya sebagai desainer di sini [di Jerman] ga punya identitas, ya ga bisa lah, kalah sama yang lain-lain."

Ia menekankan, desainer bisa dengan cepat tidak diberitakan lagi, tidak mengadakan pameran dan berhenti berkarya karena tidak punya identitas sendiri. "Karena sekarang ada segala macem yang lain-lain," kata Lina Berlina, dan mengambil contoh beberapa merek yang banyak beredar di Jerman, misalnya H&M dan Zara, dan semuanya membuat produk baju. "Karena itu saya tuh, produknya ke asesoris, ke tas, hip bag [tas pinggul] karena bisa jadi identitas."

Lina Berlina
Lina Berlina saat memperagakan koleksinya di hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

Jika hanya membuat baju atau pakaian, terlalu banyak saingan, dan menjual produknya juga sulit, meskipun dia sekarang menggunakan lurik. "Saya bikin baju pake lurik tuh kalau ada show [pertunjukan] aja," kata Lina Berlina dan baju ia kombinasikan dengan tas hasil rancangannya pula. "Jadi itu realitasnya aja," katanya.

Lurik: garis-garis magis yang kurang dikenal

"Kenapa coba, tahun 2005 saya cari lurik?" Ia bertanya sambil tertawa dan mengingat-ingat. "Keponakan saya aja kaga tau. 'Apaan sih itu, teh, lurik?'" katanya sambil tertawa lagi. Sebelum beralih ke lurik, Lina Berlina sudah membaca berbagai informasi pula tentang kain tenunan khas tanah air itu.

Dia bercerita, dulu dia pernah ikut "study tour" ke Yogyakarta. Di sana ia antara lain pergi ke keraton dan melihat sejumlah perempuan memintal kain lurik sambil mengunyah sirih. Ia mendatangi ibu-ibu itu dan melihat apa yang mereka buat. "Karena itu saya inget, oh iya, kan ada lurik, gitu lo." Akhirnya ia berusaha menambah pengetahuannya tentang lurik dan asal lurik, juga lewat buku.

Karena batik semakin beragam cara pembuatannya, bukan ditulis lagi atau dicap, melainkan juga dicetak, batik semakin menyebar. "Lurik tuh ilang," tuturnya sambil merasa kehilangan. "Itu tahun 2005, ya," katanya, "sekarang dia udah bagus lagi, gara-gara saya promosiin," katanya sambil tertawa. Ketika tahun 2005 dia berusaha mencarik lurik, tenunan itu sulit ditemukan.

Lina Berlina
Sebagian karya Lina Berlina yang menggunakan bahan lurik dan dipamerkan di hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

"Cuma dapet 20 lembar!" katanya. Untuk membuat koleksi baju, bahan yang ia peroleh tidak cukup. Tapi oleh sebab itu, dia mendapat ide untuk membuat tas. Kebetulan beberapa tahun setelahnya Indonesia punya stand dalam pameran produk yang diselenggarakan di Berlin. "Jadi UKM-UKM [Usaha Kecil Menengah] Indonesia dibawa ke Berlin," dijelaskan Lina Berlina. Ia kebetulan diundang untuk ikut serta tahun 2007, dan saat itulah ia mulai memperkenalkan rancangannya yang menggunakan lurik. "Ternyata jadi gute Idee [ide bagus]," katanya. Sejak itulah ia mulai menggunakan lurik dalam rancangannya.

Dibanding batik, lurik memang jauh lebih tidak dikenal, dan jauh lebih jarang tampak diperjualbelikan atau dikenakan orang. "Tau ga, kenapa orang ga mau pake lurik?" tanya Lina Berlina ketika bercerita tentang lurik. "Nih, lurik itu, dulu dipake sama abdi dalemnya keraton," begitu dikemukakannya, "jadi kaya pembantu-pembantu di keraton." Itu masalahnya, mengapa lurik kurang dikenal orang, katanya.

Rupanya lurik bukan sekedar kurang dikenal pula. Ada orang yang punya pandangan buruk tentang tenunan asli Indonesia itu. Lina Berlina bercerita, di Facebook, dulu dia pernah dihina orang yang melihat foto-foto rancangannya yang menggunakan lurik. Dia dikatakan menggunakan lurik yang berasal dari sebuah pasar tertentu di Yogyakarta. Ia juga diejek karena menjadi desainer tapi memakai lurik. "Dihina kaya gitu!" ceritanya, "Tapi biarin ajalah, namanya juga orang sirik," katanya, "tapi saya terus pake lurik." Ada pula orang yang pernah bertanya, mengapa hanya memakai lurik, karena motif lurik selalu garis-garis.

Dalam rangkaian produknya, Lina Berlina sudah pernah membuat produk yang menggabungkan kain lurik dengan kulit kayu. "Di sini [di Jerman] itu ide bagus karena natürlich [alamiah]." Lina Herlina mengatakan anaknya yang memberikan saran agar produknya vegan, karena bahan lurik yang ia gunakan juga berasal dari alam. Sekarang ia memakai kulit imitasi. Dengan perpaduan itu, produk-produknya bisa terjual. Sedangkan jika menggunakan kulit asli, produknya akan jadi sangat mahal.

Lina Berlina membuat semua produknya di Indonesia, karena ia ingin menolong keluarganya di sana, yang punya pegawai sekitar 30 orang. "Saya hidup sederhana di sini, tapi saya bantuin mereka supaya tetap bisa hidup." Kepada para pelanggan produknya, dia kerap mengatakan, dengan membeli produk buatannya, berarti mereka juga sudah menyokong para pekerja di Indonesia.

Lina Berlina
Lina Berlina juga membuat aksesori seperti tas dari bahan lurik, yang ikut dipamerkan di hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

Meskipun produk tas yang dipadukan dengan kulit imitasi relatif lebih murah, tetapi biaya pembuatannya sebuah tas tetap tinggi, jadi dia biasanya hanya membuat tas jika yang berminat sedikitnya 12 orang. "Kalau hanya satu-dua tidak lohnt sich [kurang untungnya]," katanya.

Lurik ditenun dengan cinta dan bawa rezeki

Selain cantik tapi kurang dapat perhatian orang, Lina Berlina bercerita, lurik benar-benar membawa keuntungan. Dia juga memperkenalkan sebuah buku berjudul Lurik Garis-garis Bertuah - The Magic Stripes karya Nian S. Djoemena. Menurut informasi, dulu lurik menjadi hadiah orang tua untuk anak yang menikah, atau punya anak dan sebagainya. Kain itu kemudian tidak dijadikan baju melainkan disimpan, karena diyakini membawa keberuntungan. Itu juga yang ia dengar dulu dari para ibu pemakan sirih, yang memintal kain untuk calon cucu, dan sebagainya. "Jadi kan dibuatnya dengan cinta," kata Lina Berlina.

Dia sendiri yakin lurik juga sudah membawa keuntungan bagi dia dan bagi bisnisnya. Tepatnya ketika pandemi dan banyak bisnis terpaksa terhenti karena orang tidak bisa berkumpul menyaksikan peragaan busana atau bekerja bersama-sama. Ketika itu dia membuat masker dari bahan lurik, dan dari penjualannya dia mendapat keuntungan, "Karena itu saya bisa behalten Gewerbe [mempertahankan bisnis] saya," kata Lina Berlina dengan terharu.

Masker-masker dari lurik yang ia buat sendiri, ia kenakan kemudian fotonya ia tempatkan di media sosial. Kenalannya yang melihat foto-fotonya akhirnya membeli dan menyebarkan informasinya ke banyak orang. KBRI misalnya membeli dari dia 150 buah masker dengan bahan lurik. "Coba kalau aku ga bikin masker, wah, udah teing deh," kata Lina Berlina sambil cekikikan.

Lina Berlina
Acara peragaan busana karya Lina Berlina disertai acara makan malam, di mana tamu-tamu diminta mengenakan warna putih. Hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

Sebagian keuntungan juga ia kirim ke Indonesia, karena ketika itu, keponakannya juga hampir mengeluarkan sebagian pekerjanya, karena mereka hanya membuat produk bagi label LB atau Lina Berlina, tetapi akibat pandemi semua aktivitas dan pesanan menurun drastis. Tapi biar bagaimanapun sulitnya hidup ketika masa pandemi, mereka tidak pernah kehabisan uang total. Itu juga sangat ia syukuri.

Kembali lagi ditekankan Lina Berlina, sebagai desainer orang harus punya identitas. Yaitu dengan garis-garis luriknya. "Jadi orang udah tahu, oh itu LB [Lina Berlina], kalau di Berlin." Ia menambahkan, "Saya sendiri juga selalu pakai produk saya."

Menjadi desainer karena memang suka

"Kalau buat keluarga saya dulu penting, musti jadi insinyur, musti jadi dokter, kan zaman dulu," katanya sambil mengenang masa lalu. Karena keinginan keluarga akhirnya dia berkuliah di Universitas Parahyanan, tapi karena tidak berminat, dia hanya berkuliah setengah semester kemudian keluar. Akhirnya dia mengambil kuliah di Akademi Sekretaris Taruna Bakti jurusan manajemen, hingga selesai.

Ia bercerita, ibunya memang seorang pelukis. Jadi jiwa seninya menurun ke Lina Berlina. Selain itu, sejak dulu, jika ia dandan dan memilih baju yang dikenakan, ia selalu tampak lain daripada yang lain. "Karena saya selalu dapat inspirasi sendiri, gitu lo," katanya. Ditambah lagi, ibunya selalu bergaya sangat modern untuk orang zaman itu. "Ibu saya tuh, udah pake baju yang gayanya Tiffani, gitu lo,"  tutur Lina Berlina. Selain itu, ibunya juga menyetir mobil, yang untuk perempuan zaman itu tentu sangat modern.

Lina Berlina
Lina Berlina di depan label koleksi karyanya, di hotel Hilton, Berlin, 9 Juli 2023 Foto: Peter Röther Fotopress

Karena melihat ibunya, ditambah ia juga tertarik pada mode, dia memang berminat besar pada dunia mode. Tapi kala itu di Indonesia belum ada desainer, jadi dia memutuskan untuk belajar tentang seni. Setelah selesai sekolah sekretaris, ia bekerja pada I Nyoman Nuarta. Dari seniman kondang Indonesia itulah dia belajar banyak tentang seni.

Karena minat yang tambah besar, dia meminta izin dari I Nyoman Nuarta untuk bisa bekerja sambil sekolah desain. Selesai sekolah desain, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya karena ingin mulai berkarir sendiri. Ditambah lagi, ketika ujian akhir, koleksi yang ia buat menjadi yang terbaik. Dulu Nicky Ardila dan Vina Panduwinata termasuk kliennya, yang membeli baju rancangannya untuk pertunjukan mereka. Ia juga jadi perancang seragam pegawai antara lain seragam Bank Duta dan Bank Niaga, juga seragam sekolahnya yang masih dikenakan hingga sekarang.

Pelajaran yang ia dapat sejak mulai tinggal di Jerman 30 tahun lalu adalah, jika ingin sukses, di samping bekerja keras, sebagai orang asing juga harus mengikuti filsafat hidup di Jerman. Jadi: tepat waktu, bilang minta maaf kalau salah, disiplin, saling menghargai. Begitu diungkap Lina Berlina.

Jika ingin sukses sebagai pengusaha, orang bukan hanya harus bekerja keras dan ulet, tetapi juga harus percaya diri, paparnya. Di samping itu, orang harus loyal, kata Lina Berlina. Jangan sering pindah kerja, ditambahkannya. Karena kalau tidak loyal tidak bisa berkarier bagus apapun profesinya. (ml/hp)