1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Mengenang Kontak Pertama dengan Suku Asli Amazon

Salah satu suku paling terisolasi di dunia telah membuka kontak dari rumah mereka di pedalaman hutan hujan Brasil. Keberadaan unik mereka kini terancam aktivitas ilegal dan serbuan peradaban.

Hutan hujan lebat di Brasil dapat menyembunyikan apapun, termasuk manusia.

Tak jauh dengan perbatasan dengan Peru, sebuah suku asli Amazon melakukan kontak dengan para pekerja Yayasan Indian Brasil Nasional (Funai). Untungnya seorang pekerja menguasai bahasa terkait suku itu, dan dapat berkomunikasi dengan suku. Pertemuan tak terduga itu sempat terekam dan videonya sudah diunggah ke internet.

Diperkirakan ada sekitar 100 orang terisolasi di seluruh penjuru dunia

Diperkirakan ada sekitar 100 orang terisolasi di seluruh penjuru dunia

Kejadian semacam ini tak lazim karena anggota suku biasanya menghindari kontak dengan dunia luar. Anggota suku cenderung galak terhadap orang non-suku asli.

Ketakutan mereka berpangkal pada sejumlah pengalaman negatif dengan pembalak liar atau produsen narkoba yang membunuhi anggota suku. Peradaban sendiri membawa ancaman lain, penyakit seperti flu atau campak dapat menyebar cepat di antara anggota suku yang sistem kekebalan tubuhnya tidak terbiasa dengan patogen asing.

Akhir Juni 2014, sebuah laporan pada 'Blog Amazon' situs majalah Terra sudah menerangkan bahwa tiga lelaki muda dari desa Indian Ashaninka keluar dari hutan hujan dekat perbatasan Brasil-Peru. Mereka kemudian disusul dua lelaki lagi dan dua perempuan, yang diperkirakan berusia antara 12 hingga 21 tahun.

Laporan kekerasan

Yayasan Funai mengkonfirmasi bahwa suku terisolasi itu membahas pembantaian. "Mereka mengaku sebagai korban kekerasan yang terjadi di wilayah Peru," demikian tertulis dalam pernyataan yayasan. Para anggota suku kemungkinan besar kabur ke wilayah Brasil untuk menyelamatkan diri dari pembalak liar di hutan Amazon Peru.

Lembaga nirlaba itu menyerukan kepada pemerintah Brasil dan Peru untuk segera bertindak.

"Anggota suku terisolasi adalah warga dunia yang paling rentan. Mereka sangat tergantung dengan alam untuk bertahan hidup," tulis pernyataan Survival International.

Linda Poppe, koordinator kepala organisasi itu di Jerman, menambahkan: "Kalau kami tidak dapat memastikan hak asasi manusia mereka terlindungi, apa lagi yang dapat kami lakukan? Kematian para anggota suku tidak mendapat perhatian."

Hindari kontak

Yayasan perlindungan suku asli yang dinaungi pemerintah Brasil, Funai, juga langsung waspada. Seorang penjaga selalu patroli di wilayah yang dinilai bermasalah, namun pos ini dikenal berbahaya, dengan banyaknya laporan ancaman dari kelompok penyelundup narkoba.

Kelompok aktivis Survival International yakin masih ada sekitar 100 orang terisolasi di muka bumi. "Berapa banyak orang sebenarnya, kami tidak tahu," ungkap Linda Poppe. Konsentrasi tertinggi suku terisolasi adanya di wilayah Amazon, dengan sekitar 70 orang yang sudah terdaftar. Pemerintah lokal umumnya menyadari kehadiran orang-orang terisolasi, dan kerap menemukan bekas rumah atau senjata tradisional mereka.

Namun ancaman terbesar bagi suku terisolasi adalah luas hutan hujan yang terus menyusut. Bahkan anggota suku yang membuka kontak dengan peradaban melaporkan aktivitas pembalakan liar. Keberlangsungan hidup suku terisolasi juga mencerminkan harapan hidup hutan Amazon yang sama-sama rapuh.

Laporan Pilihan