1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mengapa Berlin Tunda Bantuan bagi Yunani?

Pertemuan demi pertemuan susul menyusul. Para wakil dari organisasi ekonomi dan keuangan besar silih berganti menemui Kanselir Jerman Angela Merkel agar suntikan dana bagi Yunani bisa disiapkan sesegera mungkin.

default

Kanselir Jerman Angela Merkel dengan bendera Yunani di latar belakang

Direktur Badan Moneter Internasional IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan, "Kita harus memulai program bantuan ini sesegera mungkin. Lebih cepat, lebih baik. Setiap hari yang dibiarkan berlalu, berarti membiarkan situasi makin buruk. Bukan hanya di Yunani tapi juga Eropa dan  bisa lebih jauh lagi.“

Sejauh ini Jerman  bersikap hati-hati, jika tak mau dibilang enggan. "Tidak ada cek kosong untuk Yunani!", begitu diserukan Menlu Guido Westerwelle pada kongres partainya Demokrat Liberal FDP, akhir pekan lalu. Sementara Menkeu Jerman Wolfgang Schäuble berulangkali menekankan, tidak mungkin memberi Yunani uang dari kas Jerman.

Perusahaan pemeringkat akhirnya membunyikan alarm bahaya dan masalah kredit Yunani semakin genting sampai mengancam akan menjalar ke negara anggotaUni Eropa lain.

Gerhard Schick dari fraksi Partai Hijau di parlemen Bundestag menyatakan, "Kesan kami, semakin lama pemerintah Jerman menunda, biayanya akan lebih mahal dari seharusnya.   Solusi di bulan Februari atau Maret akan lebih murah. Tanggungjawab ada di pundak pemerintah Jerman karena menunda begitu lama."

Tapi dimana letak masalahnya sehingga Berlin menunda sekian lama? Mungkin karena topik 'uang untuk Yunani' sangat tidak populer. Separuh dari rakyat Jerman menolak gagasan memberi bantuan. Apakah pemerintah di Berlin kuatir kehilangan dukungan rakyat? Ataukah ini terkait anggaran belanja Jerman yang diramalkan mencatat hutang tertinggi?

Dalam diskusi di sebuah televisi Jerman, Menkeu Schäuble menerangkan alasan dibalik kehati-hatiannya selama ini. "Harus dijelaskan bahwa setiap orang yang memegang jabatan publik, di pemerintahan misalnya, harus berpikir jauh tentang apa yang akan dia katakan, dan mempertimbangkan apa reaksi pasar uang dunia.“

Justru itulah yang dikritik para ekonom dan pakar keuangan. Jerman adalah pembayar iuran terbesar di Uni Eropa. Tidak heran, saat pemerintah Jerman menahan diri, krisis bertambah kuat. Padahal, kata-kata positif dari Berlin mungkin bisa menenangkan pasar uang.

Jerman bersedia membantu, tapi, seperti ditekankan Kanselir Merkel, persyaratannya harus lebih dulu dipenuhi. Meski begitu, di balik hiruk pikuk upaya Berlin untuk membantu Athena, masih terendus keenganan yang disimpan dalam-dalam.

Heiner Kiesel/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid

Laporan Pilihan