1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Mencari Pasangan dari Aroma Pakaian

24 Juli 2014

Di sebuah bar di London, puluhan orang berdesak-desakan, mengendus-endus kantong plastik. Tetapi tidak ada obat di dalam kantung. Yang terhisap di hidung hanyalah aroma T-shirt yang bau.

https://p.dw.com/p/1Chr3
Screenshot Pheromone Parties
Foto: pheromoneparties.com

Para lelaki dan perempuan lajang itu tengah berada di "pesta foremon“ atau “pheromone party": tren ajang kencan alternatif yang didasarkan pada gagasan, bahwa bau memainkan peran kunci dalam pemilihan pasangan seksual.

Masing-masing dari mereka memakai T-shirt selama tiga malam berturut-turut, tanpa deodoran atau parfum, dan membawanya ke pesta. Aroma murni tubuh pemakainya terserap dalam pakaian yang ditempatkan dalam kantong plastik transparan dengan label angka berwarna -pink untuk perempuan, biru untuk laki-laki.

"Endus baunya di sebanyak kantung yang Anda inginkan, silakan bersenang-senang!" demikian kata penyelenggara, Judy Nadel. Beberapa orang membuka tas dengan hati-hati, mengambil mengendus dengan malu-malu, sementara yang lain langsung menerjunkan hidung mereka tepat di dalam kantung.


"Yang ini sudah dipakai selama beberapa hari," gurau seorang pemuda, sementara temannya Steven Lucas, yang berusia 23 tahun, menyatakan bahwa semua pakaian "baunya sama".

Mereka yang sudah memilih pasangan lewat endusan bau pakaian membuat foto diri dengan dengan kantung pilihan. Foto-foto tersebut kemudian diproyeksikan ke dinding, dan pemilik kaus atau pakaian yang beruntung memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pengagum mereka.

Saat membuat foto diri, seorang pemuda berjenggot dan mengenakan kemeja putih membuka kancing pakaiannya, sehingga tampak bulu dadanya. Ini dilakukan untuk meningkatkan peluang agar lawan jenis yang dia pilih tertarik Ia meraih segenggam tas - nomor 35, 88, 52, 128 ... dan berfoto.

Membantu cari pasangan

Judy Nadel mengatakan meluncurkan pesta feromon-nya di London tahun ini. Pesta ini mengambil konsep yang pertama kali dipromosikan di Amerika Serikat pada tahun 2010, oleh seniman Judith Prays.

Ide ini terinspirasi oleh percobaan yang dilakukan seorang ilmuwan Swiss, Claus Wedekind tahun 1995. Ia berkeyakinan bahwa bahan kimia feromon, yang mendasari gagasan bahwa perilaku seksual hewan - juga dapat diambil manfaat oleh manusia.

Pesta pertama digelar di London pada bulan Maret 2014. Para peserta dikenakan biaya sekitar 220 ribu rupiah. "London adalah kota yang menakjubkan dan bersemangat, tapi sulit untuk bertemu pasangan. Orang-orang cenderung cuma bergaul dalam kelompok mereka sendiri," kata Nadel, seorang wanita lajang yang sempat frustrasi dalam mencari pasangan dari situs-situs kencan tradisional.

Tak semua beruntung

Untuk merangsang perasaan romantis di dalam ruangan, seorang tukang pijat menawarkan aromaterapi untuk para peserta. “Saya punya campuran geranium dengan lada hitam, saya menggunakan itu untuk memberikan pijat guna membantu sedikit relaksasi," kata Laurie Nouchka.

Setelah sesi pijat, Marta Montserrat, yang berusia 33, bergabung kembali adiknya Berta, 29 tahun. Mereka bergerak antusias dari kantung ke kantung, menghirup aroma dan mencoba untuk menilai karakter pemakai dari gaya dan warna T-shirt, dan bagaimana pakaian-pakaian itu dilipat atau meringkuk di kantong.

Tak semua orang beruntung mendapatkan pasangan. Malam makin larut, Marta Montserrat mulai putus asa untuk menemukan belahan jiwanya. "Tidak peduli apa yang saya endus, jika saya tidak suka apa yang saya lihat," ujarnya, sambil memandangi peserta lain. Tapi tak satu pun dari mereka adalah tipenya.

Bob, berusia 48 tahun, berdiri terpisah dari kerumunan dan menyesap minumannya. Ia berkelakar, "Lucunya saya takut bahwa seseorang akan menciumi bajuku dan melemparkannya ke bawah." Untungnya, semua orang di pesta itu tetap beradab dan tak melakukannya.

ap/ab(afp)