1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mencari Hilal, Menyikapi Perbedaan

Islam adalah agama menyenangkan dan penuh rahmat jika kita melakukannya dengan cara lebih rileks dan nyaman. Perlu cara baru untuk menyikapi berbagai perbedaan pandang dalam Islam. Blog Andibachtiar Yusuf.

Seorang pria dengan headphone besar menutupi telinganya, suara musik hip hop lamat-lamat terdengar berdentam kencang. Sesekali ia bergoyang mengikuti irama, tapi ia tidak bergumam mengikuti lagu yang berbunyi. Sebaliknya ia sedang membaca Al Qur'an kecil yang ia pegang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menahan tas ransel yang ia sematkan di bagian kanan tubuhnya.

Sore itu di stasion Waterloo, London beberapa tahun lalu—seingat saya 2011—saya baru saja kembali dari Belfast untuk konferensi karya William Shakespeare. Saya kemudian menuliskan kesan tersebut tentang betapa nyamannya jika agama yang tertulis di KTP saya itu bisa dilakukan dengan cara lebih menyenangkan. Membaca kitab suci sembari mendengarkan musik misalnya. Saya lalu kembangkan arah pandang saya tersebut kearah bahwa Islam adalah agama yang sesungguhnya menyenangkan dan beneran penuh rahmat jika kita melakukannya dengan cara lebih rileks dan nyaman.

Faktanya…..inilah tulisan di blog saya dengan komentar terbanyak. Banyak yang menyebut saya sebagai seorang JIL (Jaringan Islam Liberal), tidak mampu memahami Islam dengan benar, sok kebarat-baratan bahkan ada akun twitter yang dengan “baik hatinya” rela membahas kemungkinan pribadi saya yang tidak memahami Islam dengan kaffah.

Saya sama sekali tidak merespon segala komentar itu, karena saya pikir apa yang sudah saya lempar ke publik adalah milik publik dan siapapun berhak meresponnya dengan pengetahuan, pemahaman dan pengalamannya masing-masing. Karena bagi saya, pesan moral dari tulisan, film, musik atau karya seni lainnya selalu bergantung pada daya perspektif penikmatnya. Soal perbedaan pendapat mereka? Bagi saya justru multitafsir adalah bukti suatu karya jadi layak untuk dibicarakan.

Menghargai perbedaan

Seperti itulah saya menghargai perbedaan, seperti itu pula saya melihat realita bahwa perbedaan justru sering menjadi awal dari pertentangan. Entah itu dilarang nikah karena beda agama, salah persepsi karena beda budaya atau ras sampai teman akrab yang bermusuhan akibat beda pilihan presiden di pilpres 2014 lalu di negeri ini.

Dengan cara yang beda tapi agak sama, Mencari Hilal karya Ismail Basbeth melakukan interpretasinya tentang perbedaan itu. Seorang ayah, Pak Mahmud (diperankan dengan cemerlang oleh Deddy Soetomo) yang taat beragama dengan anaknya (Oka Antara) yang merasa bahwa menjadi orang baik jauh lebih penting dari sekedar beragama “Bahkan saat ibu sakit, bapak masih saja pergi hanya untuk berdakwah,”

Bagi saya, inilah film yang dibutuhkan oleh penonton film Indonesia. Karena alasan budget, kita memang sulit mewujudkan mimpi menjungkirkan bumi sembari membiarkan gedung dan kendaraan terhisap gravitasi, merobohkan jembatan Semanggi atau mencuri emas Monas yang legendaris itu. Penonton film Indonesia butuh sesuatu yang tidak melulu menghibur, tapi juga memberi mereka sebuah isi yang bisa berkorelasi dengan keadaan kehidupan bangsa ini sekarang.

“Film yang baik adalah film yang mampu menjadi penanda suatu era,” kata alm Usmar Ismail, legenda Sutradara nasional. Negeri ini dalam beberapa tahun terakhir mengalami krisis terhadap jenis film semacam itu—karena saya keberatan bangsa saya disebut mundur 400 tahun akibat sinemanya pernah didominasi kisah-kisah supranatural. Dan sibuk memindahkan realita yang terjadi di budaya orang—itupun modal melihat media—ke layar lebar nasional.

Lewat skenario yang sungguh kuat, Ismail dengan trampil mengingatkan pada kita apa yang sedang terjadi di sebagian wilayah penting negeri ini, Pulau Jawa! Tanpa pretensi menginspirasi penontonnya alias memberitahu apa yang harus dilakukan oleh penontonnya setelah keluar dari bioskop, Mencari Hilal praktis mengalir sangat lancar dan memberi siapapun penontonnya, apapun rasnya, agamanya ataupun presiden pilihannya untuk merasa terkorelasi dengan peristiwa yang sedang terjadi di dalam film.

Saya selalu menduga bahwa Tuhan memberi kita perbedaan sebagai bagian dari kekayaan, namun karna kita tidak sepintar Dia, maka perbedaan justru tanpa kita sadari sering menjadi tembok pemisah. Lalu saya pun teringat kalimat ibu saya di setiap menjelang lebaran yang juga menjadi tema utama karya panjang kedua Ismail ini “Hari pertama puasa nyaris gak pernah ada perdebatan, sebaliknya dengan penentuan 1 Syawal, seolah mereka kepingin buru-buru selesai puasa aja,”

Saya pun teringat ibu saya, memastikan diri untuk mengajaknya nonton film ini setelah rilis 15 Juli 2015. Masalahnya, seperti Pak Mahmud yang diperankan oleh Deddy Soetomo…..ibu saya sulit lepas dari Masjid dan tentu saja ibadahnya, sementara jam tayang bioskop dan jarak dari rumahnya menuju teater jadi faktor pembatas.

Andibachtiar Yusuf Filmmaker & Constant Traveller

@andibachtiar

Laporan Pilihan