1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Memerangi Kelaparan

Kurangi kelaparan dan kemiskinan, juga kecilkan kerugian yang diakibatkan pertanian terhadap lingkungan. Itu adalah tujuan CGIAR, kerjasama penelitian internasional di bidang pertanian.

After weeks on the move Somali mothers have finally arrived at a refugee camp in Dadaab, northeastern Kenya Friday, August 5, 2011 and are now waiting to be granted access to a first medical examination and registration. Somalia and parts of Kenya have been struck by one of the worst droughts and famines in six decades, more than 350.000 refugees have found shelter in the world's biggest refugee camp. Foto: Boris Roessler dpa

Banyak ibu sampai di kamp pengungsi setelah berjalan kaki berhari-hari.

Dilatarbelakangi kekeringan dan kelaparan yang sekarang telah menyebabkan tewasnya puluhan ribu orang di daerah Tanduk Afrika, organisasi CGIAR (The Consultative Group on International Agricultural Research), yang berpusat di Montpellier, Perancis meluncurkan inisiatif penelitian senilai jutaan Dolar yang bertujuan untuk mendorong penelitian bagi penjaminan penyediaan makanan di seluruh dunia.

1971, CGIAR didirikan untuk memerangi kurangnya bahan pangan di negara-negara tropis dan subtropis. Yaitu dengan mengadakan penelitian untuk menemukan panen yang lebih produktif dan meningkatkan hasil peternakan. 40 tahun kemudian, organisasi itu telah berkembang menjadi jaringan internasional dari 15 pusat penelitian, yang tersebar di empat benua dan bekerja dengan pemerintah berbagai negara serta sejumlah organisasi non pemerintah.

Ubah Cara Pandang

Dalam tahun-tahun itu, organisasi CGIAR telah mengubah cara pandangnya atas masalah. Yaitu dari mengkonsentrasikan diri pada panen tradisional di daerah tertentu, ke arah fokus yang lebih mengintegrasikan semua aspek. Organisasi itu juga dilengkapi sejumlah tim yang tersebar di seluruh dunia tetapi saling berhubungan. Setiap tim mengikutsertakan masalah air, tanah, biodiversitas dan iklim dalam cakupan kerjanya di sektor pertanian. Inisiatif yang memakan dana jutaan Dolar itu ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, di samping menciptakan kesempatan baru bagi petani untuk memperbaiki hasil panennya.

NO FLASH!!! Lebensmittel liegen am Mittwoch (20.07.2011) in einem Zelt im Lager in Kobe. Mittlerweile sind alle drei Flüchtlingslager in Äthiopien an der Grenze zu Somalia voll. Foto: Carola Frentzen dpa

Gambar simbol. Kelaparan di Tanduk Afrika

Tetapi mengingat satu trilyun orang kelaparan di dunia, tantangan untuk memberikan makanan cukup bagi populasi dunia yang berkembang sangat cepat menjadi lebih besar. Demikian dikatakan Lloyd Le Page, pejabat eksekutif tertinggi CGIAR, "Kekeringan di Tanduk Afrika adalah contoh penting, bahwa kita harus mampu mengantisipasi krisis, sebelum krisis itu terjadi. Kekeringan diakibatkan kondisi cuaca tertentu, tetapi kelaparan disebabkan situasi politik dan situasi lain yang dapat dihindari, jika kita membuat rencana terlebih dahulu."

Untuk Mengantisipasi Kekurangan Pangan

Penelitian di bidang pertanian memang hanya dapat memberikan sedikit bantuan untuk menyelesaikan masalah politik dan keamanan, yang memperburuk situasi di Somalia saat ini, tetapi penelitian itu dapat membantu dalam mengantisipasi kekurangan pangan. Meskipun demikian, prosesnya sangat panjang. Demikian Le Page. "Penelitian membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan menemukan jenis tanaman yang cocok dengan daerah tertentu dan kondisi tertentu membutuhkan waktu dan komitmen. Itu mencakup masalah mencari staf dan sumber dana. Sementara dalam 10 hingga 15 tahun terakhir, dana untuk penelitian pertanian berkurang dari tahun ke tahun."

Le Page menjelaskan, tren itu harus dibalik, sehingga petani dapat memiliki padi-padian yang lebih resisten terhadap kekeringan, dan kuat menghadapi penyakit-penyakit baru, yang disebabkan perubahan iklim. "Padi-padian itu juga harus efisien dalam penggunaan air serta tahan menghadapi suhu tinggi dan hal-hal lain." Program-program baru dikembangkan untuk bagian-bagian bumi, di mana hidup jutaan orang miskin terancam akibat krisis pangan yang terus mengancam, ditambah lagi dengan situasi keuangan global, harga energi yang tinggi, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan perubahan iklim.

Program Pendorong Kestabilan Penyediaan Pangan

Titel: Lloyd Le Page Beschreibung: Lloyd Le Page Fotograf/Credit: CGIAR

Lloyd Le Page

Gandum, yang menjadi seperlima makanan manusia dan menjadi sumber protein utama di negara-negara berkembang, adalah salah satu contoh bagaimana program ditujukan untuk mendorong kestabilan penyediaan pangan untuk jangka panjang, "Saat ini, tuntutan atas gandum di dunia diperkirakan akan naik sekitar 60% tahun 2050 mendatang. Di saat bersamaan, perubahan iklim dapat mengurangi produksi sekitar 20-30%. Kami berusaha mengembangkan variasi gandum yang lebih produktif. Sebagian besar gandum di dunia tumbuh bukan di negara maju, dan terus dihasilkan petani kelas menengah sampai rendah. Jadi kami terutama ingin meningkatkan produktivitas gandum.”

Ketahanan terhadap penyakit adalah masalah lain yang mengancam gandum serta tanaman lain. Itu tidak hanya menyulitkan negara-negara berkembang, mengingat zona iklim sekarang bergeser, sehingga penyakit dapat menyerang tanaman di area-area yang selama ini terbebas darinya. Misalnya di daerah yang lebih tinggi dari permukaan laut atau terletak lebih utara. Tanaman padi yang mampu selamat walaupun terendam banjir untuk waktu lama akan membantu negara-negara berkembang, karena itulah yang menjadi sumber kalori, sehingga dapat menghadapi peningkatan perubahan cuaca yang ekstrem.

Bukan Tanaman Saja Yang Harus Diperbaiki

Tetapi bukan tanamannya saja yang bisa diperbaiki. Kultivasi tanah atau pergantian tanaman yang dipanen juga dapat membuat pertanian lebih produktif dan efektif untuk jangka panjang. Pesan itu harus disampaikan ke petani-petani kecil yang memainkan peranan penting, terutama di negara-negara berkembang. Kaum perempuan adalah kelompok yang menjadi target kunci program-program CGIAR. Le Page menjelaskan, "Sebagian besar petani di dunia ini perempuan, saya rasa lebih dari 60%, terutama di negara berkembang, jadi mereka harus diikutsertakan dalam keputusan yang diambil untuk praktek pertanian."

Ia memaparkan lebih lanjut, "Mereka adalah orang-orang yang berpengaruh dalam membuat keputusan, bibit mana yang akan dipakai, akan dijual ke mana, dan tentu juga untuk menambah pendapatan rumah tangga, yang biasanya dipimpin perempuan. Bagi generasi masa depan sangat penting untuk menambah uang, sehingga mereka mendapat pendidikan lebih baik, dan anak-anak mereka lebih sehat."

### Achtung, nicht für CMS-Flash-Galerien! ### Somalis from southern Somalia carrying their belongings make their way to a new camp for internally displaced people in Mogadishu Somalia, Thursday July, 28, 2011. Heavy fighting erupted Thursday in Somalia's capital as African Union peacekeepers launched an offensive aimed at protecting famine relief efforts from attacks by al-Qaida-linked militants, officials said. The al-Shabab militants already have killed men who tried to escape the famine with their families, saying it is better to starve than accept help from the West. The World Food Program says it cannot reach 2.2 million people in need of aid in the militant-controlled areas in southern Somalia because of insecurity. (Foto:Farah Abdi Warsameh/AP/dapd)

Warga Somalia berjalan menuju tempat penampungan baru di Mogadishu (28/07/11).

Urbanisasi Ikut Memperuncing Masalah

Meningkatkan produktivitas daging dan susu juga menjadi sasaran penelitian. CGIAR memperkirakan, warga miskin di pedesaan yang tergantung pada ternak berjumlah lebih dari 600 juta. Pada saat bersamaan, permitaan atas daging dan susu juga meningkat. Terutama akibat urbanisasi yang berjalan cepat, ke beberapa kota di dunia yang tumbuh dengan cepat, termasuk di beberapa daerah Afrika.

"Karena orang pindah ke kota-kota, mereka cenderung beralih ke lebih banyak produk susu dan daging. Produk-produk ini membutuhkan lebih banyak padi-padian supaya dapat diproduksi. Itu juga membutuhkan lebih banyak air. Untuk memproduksi sekilo daging memerlukan lebih banyak air daripada sekilo padi-padian.”

Selain mengembangkan tanaman yang lebih efisien dan metode pertanian baru, penelitian pertanian baru juga menjadikan pemerintah dan pemerintah daerah sebagai sasaran. Peneliti bertujuan membantu para pembuat keputusan untuk dapat membuat kebijakan dan institusi yang efektif. Sejalan dengan sering terjadinya krisis pangan di negara-negara berkembang, manajemen yang efektif di semua tingkat adalah elemen penting dalam perjuangan tanpa henti untuk mengurangi kemiskinan, mendorong perkembangan daerah pedesaan untuk jangka panjang dan jaminan penyediaan bahan pangan.

Irene Quaile / Marjory Linardy

Editor: Ayu Purwaningsih