1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Membuka Luka Lama

Para korban perang saat pendudukan Belanda meninggalkan keluarga. Bukan hanya istri, anak-anak para pejuang pun menuntut kompensasi.

Abdul Khalik mengingat dengan jelas, ketika pada tujuh dekade lalu ia melihat ayahnya yang ditarik keluar dari desa terpencil oleh tentara Belanda untuk dieksekusi.

"Dia berkata kepada saya, 'Pulanglah, Nak' tapi saya menolak," kenang pria berusia 75 tahun yang hidup di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi. Matanya menerawang ke suatu tempat di masa lalu. Ayahnya yang ditembak mati, adalah salah satu dari ribuan orang yang dibunuh oleh tentara Belanda ketika Indonesia berjuang untuk mengusir pemerintahan kolonial.

Pada tahun 1946-1947, Belanda melancarkan operasi untuk menegaskan kembali kontrol mereka di Sulawesi. Masa ini adalah salah satu episode paling gelap dari perang kemerdekaan. Para pejuang dibunuhi.

Setelah beberapa janda memenangkan guguatan atas kompensasi tahun lalu, Belanda meminta maaf atas semua eksekusi yang dilakukan selama perjuangan kemerdekaan dan mengatakan akan membayar kepada pasangan dari korban yang tewas.

Kini, Khalik dan orang-orang lain menuntut bahwa anak-anak korban -bukan hanya janda– juga seharusnya menerima kompensasi.

"Ini tidak adil. Penangkapan yang sama, penjara yang sama, penembakan yang sama, kejadian yang sama, jadi mengapa anak-anak mendapatkan perlakuan yang berbeda?" tanya Khalik.

BdT Unabhängigkeitstag Indonesien

Upacara peringatan kemerdekaan Indoensia

Shafiah Paturusi, 82 tahun usianya. Ia kehilangan ayah dan saudara laki-lakinya di Sulawesi pada masa itu. Ia menegaskan: "Saya menginginkan keadilan dari Belanda, karena rasa sakit kehilangan seorang ayah adalah sama dengan –atau tidak lebih buruk daripada- kehilangan suami."

Kenangan masa lalu

Seorang kapten pasukan Belanda, Raymond Westerling, mendalangi pembantaian di Sulawesi itu. Pasukannya mengepung desa dan kemudian membunuh pejuang tanpa proses pengadilan.

Ada ketidaksepakatan yang kuat atas jumlah yang meninggal selama aksi berbulan-bulan itu. Beberapa kalangan di Indonesia mengklaim bahwa jumlah korban tewas mencapai 40.000 orang, meskipun penelitian sejarah menempatkan angka korban tewas antara 3.000 hingga 4.000 orang.

Operasi pembantaian Westerling ini sangat kontroversial. Westerling kemudian dibebastugaskan pada tahun 1948, meskipun ia tidak pernah menghadapi pengadilan atas kejahatan perang yang dilakukannya.

Untuk generasi tua di Sulawesi, kenangan itu masih lekat dalam ingatan.
Khalik teringat ayahnya dan para korban lain "menumpuk di sebuah truk seperti binatang" sebelum akhirnya dibawa pergi.

Ayahnya masih berhasil melambaikan tangan kepada anaknya ketika kendaraan yang mengangkutnya melaju pergi. "Keesokan harinya ayah saya diambil dari penjara, dirantai dengan delapan orang lain dan mereka semua dieksekusi," katanya.

Ikuti kisah selanjutnya tentang kenangan masa lalu keluarga korban di laman berikut.