1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Membela Tuvalu dengan Seni

Di Bienale Seni Rupa Venesia, Tuvalu, sebuah negara kecil di kepulauan Polynesia diwakili oleh Vincent J. F. Huang yang pesan-pesan lingkungannya menciprati halaman muka media Italia.

Vincent Huang sudah lebih 10 tahun menggulati tema lingkungan. Lelaki yang biasanya bisa ditemui di Taipeh atau London itu rajin menghadiri kongres internasional mengenai pemanasan global. Ia juga menghadiri Konferensi Iklim PBB yang digelar di Kopenhagen, 2009 dan di situlah ia pertama kali mendengar tentang Tuvalu.

Tuturnya, "Delegasi Tuvalu menyampaikan pidato mengharukan dan berakhir dengan isak tangis. Cerita  mengenai negara itu begitu menggugah, sehingga saya terdorong untuk menelitinya."

Sebagai negara Persemakmuran yang paling miskin dan kecil, Tuvalu hanya berpenduduk 12.000 orang. Pulaunya berada di Samudra Pasifik, di antara Australia dan Hawaii dan bakal menjadi negara pertama yang tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global. Huang segera memutuskan untuk mendukung upaya Tuvalu, yang kebetulan termasuk salah satu dari sedikit negara yang mengakui kedaulatan Taiwan.

Seni Yang Membela

Sejak 2009, Vincent Huang merancang berbagai proyek yang bertujuan menyorot nasib Tuvalu. "Saya diundang ke Bienale Venezia karena karya-karya saya telah membantu penduduk pulau-pulau itu menggambarkan krisis yang mereka hadapi. Pemerintahnya juga menghargai upaya saya untuk mendapatkan perhatian internasional.”

Huang telah dua kali mengunjungi Tuvalu dan memproduksi berbagai karya seni secara lokal. Pada Konferesi Iklim PBB di Doha, proyeknya "Animal Delegates" (delegasi binatang) yang menampilkan beruang kutub, penguin dan kura-kura Tuvalu, berhasil menarik perhatian media pada nasib Tuvalu.

"Bagi komunitas kecil nelayan di Tuvalu, segalanya sudah terlambat. Mereka sendiri tidak menghasilkan emisi karbon dioksida, tapi merekalah yang pertama-tama akan kehilangan tanah airnya, akibat emisi CO2 yang disemburkan negara-negara industri." Pamerannya menggambarkan pesan Huang bahwa kehancuran pulau kecil nan jauh itu merupakan nasib kita bersama. 

Nasib Yang Berkaitan

Karya instalasinya yang terbesar, “Atas Nama Peradaban”, adalah sebuah pompa miyak berukuran besar yang diubah menjadi mesin pembunuh dengan pompa bensin di bawahnya.

Seekor kura-kura duduk di atas pompa bensin itu menunggu dipancung. Sedangkan banteng pelambang Wall Street bergantung tanpa daya. Pengunjung dipersilahkan menggunakan pompa seperti kalau mengisi bensin mobil.

Angka penunjuk pada pompa itu kemudian mulai bergerak, sementara alat pemancung mulai turun perlahan untuk lambat laun menebas kepala kura-kura. Sementara lidah banteng kemudian menjulur hingga ke tanah. Itu adalah tudingan terhadap kapitalisme negara industri yang menghabiskan sumber alam. Setiap kenaikan permukaan air laut terpampang pada meteran pompa bensin, sesuai dengan konsumsi bensin.

Karya-karya Huang banyak yang mengangkat hubungan dilematis antara negara industri besar dan masyarakat kecil. Dalam “Proyek Atlantis Modern”, sebuah aquarium diisi dengan ikon dan bangunan dunia yang bersejarah. Semua berada di bawah permukaan air dan ikan-ikan lalu lalang berenang di antaranya. Ini adalah metafora bahwa alam akan membalas kebiadaban manusia”.

Suara kura-kura Tuvalu yang menjerit dan Pinguin yang kepanasan menohok pengunjung dengan tuntutan perlindungan.

Lokasi simbolis

Ini kala pertama Tuvalu hadir di Bienale Seni Rupa Italia. Kondisi Venesia yang juga terancam tenggelam bagaikan simbolisme bahwa masalah iklim merupakan urusan bersama. Pun lokasi pavilyun Tuvalu yang jauh dari lokasi utama, mengingatkan bahwa "Tuvalu kerap dianggap jauh dari perdebatan mengenai perubahan iklim”.

Bienal Seni Rupa Venezia berlangsung dari 1 Juni hingga 24 November, 2013.

Laporan Pilihan