1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

MAVEN Masuk Orbit Mars

Satelit NASA bernama, Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN) berhasil memasuki orbit planet Mars. MAVEN membawa misi untuk mempelajari perubahan iklim planet merah tersebut.

Tibanya MAVEN di planet Mars, Minggu (21/09) menggembirakan banyak pihak. Pasalnya, untuk bisa sampai ke planet itu, MAVEN harus menghabiskan perjalanan selama 10 bulan atau menempuh jarak sekitar 711 juta kilometer.

Data-data yang bakal dikumpulkan oleh MAVEN akan sangat membantu para ilmuwan memahami apa yang terjadi pada sumber mata air di Mars. Bukan hanya itu, data yang diperoleh dari satelit tersebut juga akan mengungkap kandungan karbon dioksida, yang ada dalam atmosfir Mars sejak miliaran tahun lampau.

Misteri atmosfir

Bagi para ilmuwan, bagaimana Mars kehilangan atmosfirnya adalah salah satu misteri terbesar dan jawabannya kemungkinan bisa terlihat dari potensi yang dimiliki Mars sebagai tempat untuk hidup beberapa tahun lampau, termasuk mikroba. Misi lain MAVEN yang tidak kalah penting adalah membantu menemukan pemahaman bagaimana manusia bisa bertahan saat menginjakkan kaki ke Mars yang diproyeksi pada awal 2030.

“Mars adalah tempat yang dingin, tetapi tidak banyak atmosfir disana. Suhu disana sungguh dingin, bahkan dibawah nol derajat. Sedangkan atmosfir yang ada hanya setengah persen dari yang kita hirup,“ kata John Clarke, ilmuwan dari MAVEN.

Akan tetapi, sambung Clarke, suhu di Mars sebetulnya bisa berubah-ubah dan kemungkinan di masa lampau pun suhunya berbeda dengan saat ini. Hal itu bukan sekadar praduga karena sudah cukup banyak bukti, seperti jejak arus air, yang nampak di permukaan Mars sejak sejarah kuno Mars.

Misi Dimulai

Dengan tibanya satelit MAVEN di Mars, itu artinya resmi dimulainya misi untuk melakukan serangkaian uji coba yang sudah direncanakan. Misi yang pertama kali hendak dilakukan, yakni mempelajari sejumlah gas yang ada lapisan luar atmosfir Mars serta bagaimana gas-gas tersebut berinteraksi dengan matahari dan angin.

“Kami akan mengamati sampai awal November nanti karena saat itu secara resmi penelitian dimulai,“ kata kepala investigator MAVEN, Bruce Jakosky.

Dikatakannya, banyak misi-misi jangka panjang MAVEN yang akan menghabiskan waktu dengan berputar-putar pada jarak 3.730 mil dari atas permukaan planet Mars. Akan tetapi, lima misi MAVEN akan terfokus pada kedalaman jarak sekitar 78 mil diatas permukaan planet tersebut supaya bisa menganalisa atmosfir Mars dari level yang berbeda-beda.

MOM dari India

NASA adalah badan antariksa yang paling sukses di dunia dalam mengirimkan satelit-satelit dan melakukan penelitian ke Mars. Beberapa misi terakhir yang pernah dilakukan badan ini, diantaranya Viking 1 dan Viking 2 pada 1975 dan Mars Reconaissance Orbiter pada 2005 silam. Sedangkan robot terakhir yang pernah dikirim NASA ke planet merah ini adalah Curiosity, yang menjelajahi Gale Crater dan Mount Sharp.

Tidak mau kalah, sebuah misi ruang angkasa dari India, Mars Orbiter Mission (MOM), juga diperkirakan akan tiba di Mars dalam beberapa hari mendatang. Sama seperti MAVEN, MOM menempuh perjalanan 10 bulan dari bumi ke angkasa. Misi tersebut, akan menjadi misi India pertama di Mars.

“Kami sungguh tidak sabar menunggu masuknya MOM dalam dua hari ini ke planet Mars. Kami sungguh berharap MOM bisa sukses menjalankan misinya. Seluruh tim MAVEN berharap MOM akan memasuki orbit planet Mars dan menjalankan misinya dengan sukses,“ pungkas Jakosky.

ss/vlz (afp)

Laporan Pilihan