1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Masih Perlukah Turki Menjadi Anggota UE?

Di hari terakhir masa jabatan Spanyol sebagai dewan kepresidenan Eropa, dimulai babak baru dalam perundingan penerimaan Turki dalam Uni Eropa.

default

Koordinator Laut Tengah, pusat bagi hubungan internasional dan pekerjaan pembangunan di Barcelona, Eduard Soler i Lecha, menganggapnya sebagai bukti kemajuan perlahan perundingan. Tetapi di lain pihak Soler i Lecha pesimis memandang kondisi hubungan Turki dan Eropa. “Tidak jelas arahnya kemana. Beberapa pihak di Turki mulai percaya, mereka tidak perlu Uni Eropa, bahwa mereka cukup kuat dengan kekuatan ekonomi dan gengsi politik sendiri. Dan banyak pihak Eropa yang percaya, bahwa mereka tidak memerlukan Turki."

Soler tidak memprediksi akan terjadinya perubahan haluan, selama pemerintahan di Eropa tidak mengubah strategi politik mengenai Turki. Sehingga, karena konflik Siprus, dari 35 bab pembahasan dalam perundingan, ada delapan tema yang masih tidak akan diungkit-ungkit. Selain itu ada tentangan dari barisan partai konservatif akan masuknya Turki ke Uni Eropa. Di Jerman, Partai Uni Kristen CDU/CSU hanya siap untuk setuju akan kemitraan dengan hak istimewa. Perancis di bawah pimpinan Presiden Nicolas Sarkozy, merupakan anggota penting Uni Eropa lainnya yang menentang ambisi Turki tersebut.

Profesor Heinz-Jürgen Axt dari lembaga ilmu politik Universitas Duisburg-Essen merujuk pada kekecewaan besar Turki akan sikap Uni Eropa. Kekecewaan ini juga menyebabkan perubahan haluan politik luar negeri Turki. “Mereka merasa seperti dibuang. Sekarang dicari fokus baru yang bisa menampilkan politik Turki. Kekecewaan ini tentu memainkan peranan. Tetapi saya menyarankan politik Turki untuk tidak bersikap berlebihan, melainkan tetap berhubungan terus dengan Uni Eropa. Karena, Turki yang melepaskan diri dari Uni Eropa, tidak akan bisa menjalankan program yang mereka rencanakan."

Perwakilan pemerintah Turki memang mengatakan, bahwa proses penerimaan Uni Eropa akan dilanjutkan. Tetapi pakar urusan Turki tidak sependapat, dan menyatakan bahwa Uni Eropa tidak lagi memegang prioritas dalam politik luar negeri Turki. Pakar politik Ahmet Kasim Han dari Universitas Istanbul melihat alasan bagi kuatnya citra politik luar negeri Turki adalah negara tersebut merasa terus dibiarkan menunggu oleh Uni Eropa. "Saat ini Eropa adalah mitra dagang terbesar Turki. Tetapi kami masih harus menunggu dan melihat, bagaimana krisis ekonomi di negara-negara kuat Eropa berpengaruh terhadap hubungan Turki Eropa. Ini tidak akan bisa diabaikan begitu saja. Bagaimana pun juga, hubungan Turki Eropa tidak hanya bergantung pada hubungan ke Uni Eropa."

Jülide Beria Danisman / Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Ziphora Robina