1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Masih Ada Harapan di Kopenhagen

Meski tidak tercapai hasil mengembirakan dalam putaran perundingan iklim di Barcelona, beberapa lembaga non pemerintah masih optimistis akan tercapai kesepakatan dalam KTT Iklim di Kopenhagen.

default

Logo KTT Iklim Kopenhagen

Judul-judul pemberitaan media massa internasional dalam tema perlindungan iklim sejak akhir pekan kemarin, selalu bernada negatif: bahwa Konferensi Iklim Internasional di Kopenhagen tidak akan sukses. Pemicunya adalah pernyataan Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen dalam Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC akhir pekan lalu di Singapura. Ia menunjukkan sikap skeptis akan tercapainya kesepakatan mengikat untuk mengatasi perubahan iklim dalam KTT Iklim di Kopenhagen.

Meski pemberitaan KTT Iklim bernada pesimistis, pimpinan lembaga non pemerintah Germanwatch , Christoph Bals, memandang sebaliknya. Laporan dari KTT APEC di Singapura yang mengerikan itu, disebutnya sebagai hanyalah strategi tim public relation Amerika Serikat, yang berkepentingan agar tidak tercapai hasil konkrit dari KTT tersebut. Optimisme itu didasarkan pada pernyataan para politisi tingkat tinggi pada beberapa hari belakangan ini. Kanselir Jerman, Angela Merkel, misalnya, akan hadir di KTT Iklim dan diperkirakan akan memainkan peranan pimpinan di kalangan delegasi Uni Eropa. Kini tinggal menentukan kesepakatan substansial, yang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca.

"Substansinya adalah Uni Eropa harus meningkatkan rencana pengurangan emisi gas rumah kacanya dari 20 persen menjadi 30 persen hingga tahun 2030. Mereka telah mengumumkannya, bahwa mereka siap melakukannya dalam kerangka kesepakatan Kopenhagen itu. Kini tibalah saatnya menunjukan kesiapan."

Keyakinan Bals inipun meningkat melihat hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao di Beijing, sesaat setelah pertemuan APEC usai: "Dua aktor utama dunia telah menunjukkan langkah maju. Jika mereka menyatakan: "Kami siap untuk mendukung tercapainya kesepakatan mengikat dalam KTT Iklim di Kopenhagen dan melakukan kewajiban berdasarkan hukum yang mengikat", ini menciptakan kepercayaan bahwa kita akan sukses. Perasaan akan gagal, yang ditiupkan saat ini, yang seolah-olah menunjukkan kita telah kalah, sama sekali tidak menolong, dalam melakukan tekanan yang diperlukan untuk menyukseskan kesepakatan ini.“

Namun Christoph Bals dan lembaga-lembaga non pemerintah lainnya juga menyadari bahwa pernyataan itu harus diwujudkan dalam tindakan. Mereka mendesak negara-negara maju, untuk mendukung negara-negara miskin dalam perlindungan iklim. Uang yang berasal dari bantuan pembangunan tidak boleh dialokasikan dengan mengorbankan tujuan lain yang lebih penting, seperti pendidikan dan kesehatan. Melainkan harus ada instrumen baru untuk pendanaan perlidungan iklim. Misalnya lewat hasil jual beli emisi.

Walaupun terdapat skeptisisme, lembaga-lembaga bantuan yang independen mengharapkan sinyal positif yang akan datang dari KTT Iklim di Kopenhagen. Diharapkan tidak terjadi pengulangan sejarah seperti sikap yang ditunjukkan AS dibawah kepemimpinan mantan presiden George W. Bush yang menolak Protokol Kyoto.

Marcel Fürstenau / Ayu Purwaningsih

Editor : Agus Setiawan