1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Masa Depan Tunisia Belum Jelas

Pemerintah sementara di Tunisia sudah dibelit krisis, bahkan sebelum mengambilalih kerja pemerintahan. Sejumlah menteri menyatakan mundur.

default

Presiden ad interim Fouad Mebazza

Perang mulut terjadi di jalan-jalan ibukota Tunis. Seorang dosen perempuan tak bisa lagi menahan diri. Baginya, adalah skandal bahwa partai oposisi Ettajdid ikut dalam partai pemerintah dan dengan begitu bekerjasama dengan kader-kader mantan diktator Ben Ali. "Jadi siapa yang tahu, siapa yang menembak orang-orang yang berdemonstrasi secara damai?" tanya dia. Tunisia harus mandiri sekarang. Tapi chaos mengancam, sambar seorang pria di dekatnya, yang lantas memaki wanita itu dan berkata 'Kamu pasti komunis."

Kantor pusat partai oposisi berhaluan kiri, Ettajdid, terletak di gedung bertingkat dua. Ketua partai Jouneidi Abdeljawad menutup pintu ruang rapat. Tidak mudah mencari tempat yang tenang di sini. Karena di mana-mana terdengar suara gaduh orang berdiskusi, bertelepon, beradu argumen. Ditambah lagi deru helikopter yang tak henti berputar-putar di atas kota.

Jouneidi Abdeljawad menekankan, tidak mudah bagi oposisi untuk mengambil keputusan. Namun situasi di Tunisia sangat serius, dan masa depan negeri itu terancam bahaya. Karena itu partainya ingin bertanggungjawab secara kongkret. Membentuk pemerintahan sementara, menyiapkan pemilu yang demokratis dan reformasi politik yang sesungguhnya.

Para pemimpin serikat buruh UGTT awalnya juga ingin menyaksikan hal yang sama. Tetapi kemudian terjadi demonstrasi besar di depan kantor serikat buruh tersebut. Ratusan orang menuntut mundurnya pemerintah sementara. Mereka menyerukan agar UGTT tidak berhubungan dengan para mantan pendukung Ben Ali, melainkan menjalankan awal baru secara radikal. Hasilnya, serikat buruh menarik kembali tiga menteri mereka. Konsekuensinya, sehari setelah dibentuk, pemerintahan sementara Tunisia kembali guncang.

Karena itu juga Presiden ad interim Fouad Mebazza dan PM Mohammed Ghannouchi, Selasa (18/01) menyatakan keluar dari RCD, partai lama Ben Ali. Tapi hal itu tidak bermanfaat banyak, kata Jürgen Theres, utusan kawasan Magribi dari yayasan Jerman Hanns-Seidl-Stiftung, di Tunis. "Orang harus menyerahkankan pada pemilih tentang sejauh apa politisi dapat dipercaya bahwa mereka tidak berperan penting dalam rejim diktator atau sejauh mana mereka tetap jujur. Persoalan sekarang hanyalah, bagaimana kita mengatur masa transisi?"

Banyak warga Tunisia hanya menginginkan satu hal, bahwa pemerintahan sementara berjalan relatif lancar, dan negeri itu kembali tenang. Hal itu memang terjadi, walaupun lamban. Semakin banyak toko dan tempat usaha di Tunis yang kembali dibuka, kehidupan normal kembali terlihat di jalan-jalan ibukota.

Namun antrian di depan toko roti masih tetap panjang. Orang harus menungu lama untuk akhirnya bisa membawa pulang roti. Bagi kebanyakan warga Tunisia, itu bukan masalah. Yang jadi persoalan adalah jika sama sekali tak ada roti. Bertahun-tahun, mereka diumpani oleh Ben Ali dengan segala yang mungkin. Tapi sekarang lain, kata Nebil, seorang pria warga Tunis. Kami berdemonstrasi turun ke jalan bukan untuk roti, kata Nebil, tapi untuk kebebasan. Dan kami sabar, tandasnya.

Marc Dugge/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid