1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Man Haron Monis yang Lolos dari Jerat Hukum

Cemas berganti lara saat drama penyanderaan di Sydney berakhir. Tapi kritik bermunculan. Benarkah pengadilan sebenarnya bisa menghentikan pelaku yang berulangkali lolos dari jerat hukum dengan membayar uang jaminan?

Sydney tengah berkabung. Suasana mencekam yang mengiringi drama penyanderaan di Cafe Lindt berganti menjadi duka. Tiga nyawa melayang. Satu milik pelaku, dua lainnya milik Katrina Dowson dan Tori Johnson - pengunjung dan manajer Cafe yang tewas di ujung moncong senjata.

Sejak pagi ribuan karangan bunga menyesaki lapangan Martin Place. Perdana menteri, pegawai bank, gubernur, buruh pabrik hingga mahasiswa berdatangan buat memberikan penghormatan terakhir kepada korban.

"Kesedihan akan selalu terasa jika anda mengingat peristiwa ini," kata Maliaka Ali kepada harian Sydney Morning Herald. Ibu tiga anak itu adalah seorang muslim. "Anak-anak saya ingin membawa kartu dan saya ingin menunjukkan tidak semua muslim sama," ujarnya.

Tidak Diam dan Meratap

Kepolisian masih menyegel stasiun kereta bawah tanah Martin Place yang bersebelahan dengan lokasi kejadian. Penumpang pun terpaksa turun di stasiun berikutnya untuk kemudian berjalan kaki ke kantor masing-masing.

Tapi Sydney tidak cuma diam dan meratap. Kota itu berupaya sebisanya mengembalikan rasa tentram yang hilang. Kedai-kedai kopi di pusat kota menawarkan minuman gratis. Berbagai acara di pusat kota urung dibatalkan. Kehidupan seakan kembali normal.

Namun ada yang berubah. Perkantoran kini memperketat keamanan. Lift cuma bisa berfungsi dengan kartu pegawai. Aparat bersenjata lengkap masih berjaga-jaga di beberapa sudut kota. "Saya naik kereta pagi ini. Semua orang terlihat memikirkan hal yang sama, syok dan horror," kata Menteri Komunikasi Malcolm Turnbull.

Padahal tragedi di Cafe Lindt itu tidak seharusnya terjadi.

Monis yang Lolos dari Jerat Hukum

Setahun lalu Man Haron Monis dibebaskan dengan uang jaminan setelah menjadi tersangka pembunuhan isterinya. Otoritas Australia sendiri mengakui pria asal Iran berusia 50 tahun itu "lolos dari jeratan hukum" kendati dakwaan berlapis dan prilaku ganjil yang ia tunjukkan.

Mon Haron Monis adalah residivis kambuhan. Ia pernah didakwa dalam kasus pelecehan seksual selama berpraktik sebagai "dukun spiritual." Pria yang oleh PM Tony Abott disebut "memiliki gangguan mental" itu juga tercatat pernah mengirimkan surat bernada kebencian kepada keluarga serdadu Australia tujuh tahun silam.

Dalam semua kasus yang mengurungnya, Monis mampu membebaskan diri dengan memanfaatkan celah hukum yang ada. Bukan kepolisian yang disalahkan oleh warga Australia dalam kasus ini, melainkan sistem hukum.

Hukum Gagal Mencegah

Desember tahun lalu pemerintah Australia mengamandemen undang-undang pemberian uang jaminan buat narapidana. Pasal yang tadinya dianggap longgar, lalu diperketat. Namun amandemen tersebut baru berlaku setahun kemudian - sebulan setelah Monis menyandera 30 orang di Cafe Lindt.

Sejauh ini 40.000 orang sudah menandatangani petisi internet yang menuntut pemerintah agar mempercepat pemberlakuan amandemen. "Kejaksaan mengatakan amandemen yang baru bisa mencegah hal semacam ini terjadi," kata aktivis sosial, Dr Miriam Giugni, yang ikut menggalang petisi tersebut.

"Ini membuat saya frustasi, membuat perdana menteri dan seluruh negeri frustasi," kata Jaksa Agung New South Wales, Brad Hazzard. "Tapi kami harus mematuhi arahan pakar yang menggariskan tanggal 28 Januari sebagai jadwal paling dini untuk pemberlakuan legislasi yang baru.

rzn/vlz

Laporan Pilihan