1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Mahkamah Agung AS Perluas Hak Kepemilikan Senjata

Dalam keputusan yang diambil Senin (28/06) dikatakan, konstitusi AS memberi hak kepada semua warga negara untuk memiliki senapan dan membawanya. Dengan keputusan ini Mahkamah Agung memperluas keputusan darii tahun 2008.

default

Gambar simbol, senjata dan kriminalitas

Orang senang menyebutnya sebagai 'masalah paling konstutisional di Amerika. Apakah memiliki senjata api betul-betul merupakan hak asasi setiap warga Amerika? Otis McDonalds menjawab tegas 'ya' dan karena itu mengajukan tuntutan menentang undang-undang larangan memiliki senjata api yang diberlakukan di kota asalnya, Chicago.

"Sebaiknya kita tidak ke sana, itu kawasan panas. Perdagangan obat bius dan sejenisnya berlangsung terus," begitu dikatakan pensiunan tersebut beberapa bulan lalu ketika menunjukkan kawasan tempat tinggalnya kepada reporter CNN. McDonalds menceritakan perihal perdagangan obat bius dan para gang. Juga bahwa ia beberapa kali diserang di rumahnya sendiri. McDonalds lebih suka jika bisa membela diri, tetapi undang-undang yang berlaku ketat di Chicago tidak mengijinkan ia memiliki senjata api.

Kini McDonalds dan para penuntut lainnya dengan gembira menyebarluaskan keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang mengabulkan tuntutan mereka. Hasil tipis berdasarkan pemungutan suara 5 banding 4 memperluas hak kepemilikan senjata api, dan menyatakan larangan ketat seperti di Chicago sebagai pelanggaran terhadap konstitusi.

Dalam keputusan yang diambil Senin (28/06) dikatakan, konstitusi AS memberi hak kepada semua warga negara untuk memiliki senapan dan membawanya. Hak ini bukan hanya harus dihormati pemerintah federal Washington tetapi juga setiap negara bagian dan kota praja.

Dengan keputusan ini Mahkamah Agung memperluas keputusan yang diambil tahun 2008. Ketika itu merujuk pada konstitusi, Mahkamah Agung membalikkan larangan kepemilikan senapan di ibukota Washington. Karena Washington D.C. bukan kota melainkan distrik federal, keputusan itu tidak bisa dipindahkan begitu saja ke negara bagian.

Keputusan terbaru Mahkamah Agung merupakan kemenangan bagi asosiasi senapan nasional Amerika, yang giat melakukan lobi di Washington. "Masyarakat Amerika tahu bahwa ini adalah hak pemberian Tuhan, konstitusi hanya mengukuhkannya,“ kata März Wayne LaPierre, wakil ketua asosiasi senapan nasional NRA.

Tidak sedikit orang yang mendebat sengit pendapatnya. Di seluruh penjuru AS, lebih dari 200 juta senjata api beredar di tangan sekitar 90 juta pengguna pribadi. Rata-rata 80 orang tewas setiap harinya akibat tembakan senjata api. Kota Chicago beralasan, larangan kepemilikan senjata menekan angka kekerasan dan kriminalitas. Setiap tahunnya sekitar 700 nyawa manusia diselamatkan.

Pendukung undang-undang yang lebih ketat tentang kepemilikan senjata api berusaha tidak melihat keputusan Mahkamah Agung sebagai kekalahan total dan menunjuk adanya secercah harapan. Karena hakim tidak menerangkan bahwa hak kepemilikan tidak boleh dibatasi dalam kondisi apapun. Jadi, adalah sejalan dengan konstitusi jika misalnya penjahat yang dihukum tidak boleh memiliki senjata api.

Hal ini membuat para penentang senjata berharap, undang-undang larangan kepemilikan senapan, yang tidak begitu tegas, seperti di Chicago, dapat bertahan di depan pengadilan.

Sabine Müller/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid