1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Macron Gelar Pembicaraan 'Alot' Dengan Putin

Presiden Perancis Emmanuel Macron menyambut kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin di Versailles pinggiran Paris. Analis mengatakan pertemuan ini merupakan kesempatan untuk mengatur ulang hubungan antara kedua negara.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron menyambut kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan jabat tangan yang kuat di luar Istana Versailles, Perancis,  pada hari Senin (29/05). Inilah pembicaraan tatap muka pertama mereka.

Kunjungan Putin ke Perancis  dipandang sebagai kesempatan bagi kedua pemimpin itu untuk memperbaiki  hubungan yang tegang antara Moskow dan Paris di masa kekuasaan pendahulu Macron, Francois Hollande.

Putin dengan cepat mengucapkan selamat kepada Macron atas kemenangannya di pemilu, mendesaknya untuk "bergabung agar  memastikan stabilitas dan keamanan internasional."

Moskow membantah ikut campur pemilu Perancis

Namun selama kampanye Perancis, pemimpin Rusia tersebut secara luas dipandang sebagai pendukung pesaing Macron, pemimpin sayap kanan Marine Le Pen.

Ada juga dugaan bahwa peretas Rusia telah mencoba ikut campur dalam proses pemilihan lewat kampanye kotor melawan Macron. Moskow menolak semua tuduhan campur tangan itu.

"Banyak hal di masa depan tergantung pada pertemuan pertama ini,"   ujar Alexander Orlov, duta besar Rusia untuk Perancis. "Sangat penting bahwa kita mulai menghilangkan rasa tidak percaya yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir."

Tidak ada terobosan yang diharapkan

Macron adalah pemimpin Barat pertama yang bertemu dengan Putin sejak pertemuan puncak G7  di Sisilia, Italia akhir pekan lalu, di mana hubungan dengan Rusia masuk dalam agenda pembahasan.

"Sangat penting untuk berbicara dengan Rusia karena ada banyak isu internasional yang tidak dapat diselesaikan tanpa  pembicaraan alot dengan pihak Rusia," kata Macron pada pertemuan G7. Macron menambahkan bahwa dia akan membuat "tidak ada konsesi tunggal"  bagi Rusia mengenai konflik di Ukraina timur.

Hubungan antara Uni Eropa dan Rusia telah penuh karena aneksasi Krimea pada tahun 2014 dan pemberontakan berikutnya di Ukraina timur.

Konflik Ukraina diperkirakan akan menjadi agenda dalam pertemuan Senin (29/05) ini, serta sejumlah isu sengketa lainnya seperti perang di Suriah dan hubungan Rusia dengan Uni Eropa.

Nabi Abdullaev, associate director untuk kawasaan Rusia, lembaga konsultan global,  Control Risks Group, mengatakan  kepada kantor berita DPA, bahwa pertemuan tersebut terutama bersifat simbolis."Tidak akan ada terobosan, tapi tetap saja ini akan menjadi langkah untuk memperbaiki hubungan antara Rusia dan Prancis," pungkasnya.

ap/hp(dpa)

Laporan Pilihan