1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Luapan Lumpur Kimia Capai Sungai Danube

Bocornya bak penampungan limbah di sebuah pabrik aluminium Hungaria menyebabkan bencana lingkungan besar. Senin (04/10), limbah kimia beracun meluap dari bak penampungan dan mencemari kawasan seluas 40 kilometer persegi.

Warga Devecser menuang lumpur merah dari jendela rumahnya

Warga Devecser menuang lumpur merah dari jendela rumahnya

Luapan lumpur limbah kimia kini sudah mencapai Sungai Donau atau Danube. Pemerintah dan penduduk setempat masih berusaha keras untuk membersihkan lumpur beracun berwarna merah yang menyelimuti rumah warga dan jalanan di sekitar pabrik aluminium itu. Di desa Devetcsar yang berpenduduk 5.000 jiwa, seorang warga usia lanjut menunggu tiga jam di teras rumahnya, tapi bantuan tak kunjung tiba. Masalahnya, pemadam kebakaran terhambat luapan lumpur beracun.

“Lumpur merah membakar kulit saya dari kaki sampai ke dada. Ketika pemadam kebakaran datang, saya belum merasakannya, tapi sekarang, sehari setelahnya, sakitnya luar biasa."

Lumpur limbah kimia yang beracun merenggut empat nyawa dan menyebabkan 100 lebih cedera. Menteri dalam negeri Hungaria Sandor Pinter mengatakan bahwa lumpur ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan luka bakar kalau bersentuhan langsung dengan kulit. Kalau terkena mata, lumpur limbah kimia menyebabkan kebutaan, tambah Pinter.

Petugas penyelamat sampai sekarang belum tahu pasti kandungan lumpur limbah kimia beracun itu. Lumpur berwarna merah tersebut merupakan limbah pabrik pengolahan Aluminium, penuh dengan logam berat dan bersifat korosif. Kemungkinan besar, sebagaian lahan pertanian di sekitar kawasan bencana tidak dapat digunakan selama bertahun-tahun. Operasi pembersihan lumpur limbah kimia yang kini sudah menutupi kawasan seluas 40 kilometer persegi akan butuh waktu lama.

Setidaknya, di tengah-tengah bencana ini juga ada kabar baik. Pakar medis Pal Kalasi mengatakan bahwa terkait pencemaran radioaktif, tidak ditemukan peningkatan radiasi. Pal Kalasi menambahkan, setidaknya ini tak terlalu jadi masalah.

Pabrik Aluminum yang mengalami kebocoran bak penampungan limbah ditutup sementara atas perintah pemerintah Hungaria. Kantor kejaksaan Hungaria kini memeriksa apakah kebocoran bak penampungan tersebut disebabkan kelalaian pihak pabrik. Ada kemungkinan limbah yang disimpan dalam bak itu melebihi kapasitas penampungan yang diizinkan. Wakil pabrik aluminium Lajos Tolnay menampik tuduhan itu.

“Kami tidak bertanggung jawab atas bencana ini. Kami secara berkala melakukan pemeriksaan. Sepuluh hari lalu bak penampungan limbah itu diperiksa oleh petugas berwenang dan waktu itu tidak ada masalah. Bahkan, satu jam sebelum kecelakaan itu, pakar kami masih memeriksa bak penampungan dan ia tidak menemukan kejanggalan apapun" demikian tegas Lajos Tolnay.

Sementara Perdana Menteri Viktor Orban menegaskan: “Sangat penting bahwa kita mengetahui bahwa bak penampungan tersebut sebelumnya diperiksa. Artinya, ada pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tapi ini tidak mengubah fakta bahwa tragedi ini terjadi. Kita harus mengambil sejumlah tindakan pencegahan. Warga diminta untuk tidak mengkonsumi bahan pangan dari kawasan bencana, meski terlihat aman sekalipun.“

Untuk jangka panjang, perdana menteri Hungaria menguatirkan masa depan ekonomi kawasan itu. “Skenario terburuk adalah pabrik aluminium tidak lagi beroperasi, artinya mereka juga tak punya uang untuk membayar ganti rugi. Sementara ini kami membekukan produksinya selama satu minggu, akhir pekan depan kami akan memutuskan apakah proses produksinya akan dilanjutkan.“

PM Orban mendesak pabrik Aluminium untuk segera melakukan perbaikan bak penampungan yang bocor. Sementara itu, di kawasan bencana mulai dilakukan pembersihan lumpur limbah kimia yang beracun. Seluruh kawasan itu, mulai dari tembok rumah, jalan, pekarangan dan lahan pertanian dicemari luapan lumpur berwarna merah. Daerah yang sudah dibersihkan pun masih diselimuti bau kimia yang menyengat, bau yang akan lama mengusik indera penciuman warga setempat.

Andreas Meyer-Feist/Ziphora Robina
Editor: Ayu Purwanigsih