1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Louis Deubalbet Wewaye - Jurnalis Chad Dalam Bahaya

Wewaye ialah koresponden DW di Chad. Ia baru saja menerima penghargaan dari klub pers Marseille atas laporan yang menyebabkannya diancam mati di negara asalnya.

default

"Jika sesuatu yang tidak benar terjadi dan kamu tidak memberitakannya, maka kamu turut bersalah atas situasi tersebut.“

Ini prinsip jurnalis Louis Debaulhet. Bagi dunia barat, ini mungkin sesuatu yang sudah sewajarnya. Tapi di negara asalnya, Chad di Afrika Tengah, pendiriannya ini bisa menyulitkannya. Semenjak akhir 2008, ia kerap mendapat telepon ancaman dari orang tak dikenal. Sebelumnya, ia dalam berbagai laporan mengungkap ketidakmampuan militer yang bertugas di wilayah perbatasan antara Chad dan Darfur. "Mereka mengincar saya, karena saya memberitakan tentang apa yang terjadi disini. Saya menunjukkan mereka sisi yang lain. Sisi yang gelap, ketidakmampuan mereka, dan keterlibatan mereka dalam kekacauan saat ini di wilayah timur Chad.”

Selama bertahun-tahun ia bekerja bagi radio lokal yang berbeda di timur Chad sebagai seorang reporter. Disana juga lah terdapat perbatasan antara Chad dan wilayah krisis Sudan, Darfur. Semenjak 2003, warga disana menderita akibat pertempuran antara gerakan kelompok pemberontak yang berbeda dan pemerintah pusat di Khartum. Lebih dari 180 ribu orang tidak tentu nasibnya. Di kamp pengungsi ada lebih dari 300 ribu warga Sudan. Perampokan dan penculikan sudah menjadi bagian dari keseharian. Di wilayah semacam itu, suara-suara kritis tidak akan diabaikan begitu saja. Louis Deubalbet telah mengalaminya. Akhir 2009, dua orang pria bertopeng menyerangnya dengan pisau dan mengancam : "Kami tahu kamu siapa, kami tahu apa yang kamu lakukan, dan kami akan menemukan kamu.“

Dalam peringkat kebebasan pers ‘Reporter Lintas Batas', Chad berada pada peringkat 132 dari 175 negara. Pergerakan pers disana sangat terbatas. Ambroise Pierre, yang bertanggung jawab bagi Afrika di ‚Reporter Lintas Batas‘ di Paris menjelaskan : "Ini mengenai negara yang meresmikan peraturan pers dalam keadaan darurat. Mereka yang melanggar peraturan tersebut akan terkena hukuman penjara. Ini berarti, setiap kali Anda menulis tentang korupsi dan masalah lain, Anda terancam masuk penjara.“

Sejak beberapa minggu, Louis Deubalbet mendapat kesempatan magang di redaksi Perancis Deutsche Welle di Bonn. Walau pun ia menyukai pekerjaannya dan ia senang bisa berada di Jerman, akhir-akhir ia tidak bisa tidur. Telepon ancaman dari Chad mengikutinya hingga ke Bonn. Apakah selanjutnya ia akan mengubahnya gaya menulisnya dan lebih berhati-hati dalam melaporkan berita? "Berubah? Saya menulis semau saya. Saya tidak akan mengubah cara pandang saya. Mereka ingin menakuti saya, supaya saya tidak berani lagi menulis laporan. Tetapi saya akan merasa bersalah. Ini sikap pengecut, jika ada kejadian dan saya memberitakannya dengan salah. Ini tidak benar dan berlawanan dengan etik penulisan saya.”

Susanne Fuchs / Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Hendra Pasuhuk