1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

040112 Syrien Beobachter

4 Januari 2012

Liga Arab menimbang penghentian misi pemantau di Suriah. Ada sekitar 100 pemantau Liga Arab di Suriah, guna memastikan berakhirnya kekerasan pasukan pemerintah terhadap oposisi. Namun kritik oposisi semakin lantang.

https://p.dw.com/p/13dtF
Foto: picture-alliance/dpa

Warga Suriah beringas menyerbu para pemantau Liga Arab di kota Homs. Kritik terhadap Liga Arab semakin menjadi-menjadi. Kekerasan pemerintah terhadap oposisi tidak berkurang, begitupun serangan terhadap para desertir dari militer Suriah.

Kecaman semakin lantang terdengar, bahwa para pemantau sengaja dikelabui oleh pemerintah. Panser dan tank militer diganti warnanya. Dicat biru supaya disangka kendaraan polisi. Anggota militer kini menggunakan seragam polisi, palang nama kawasan dan kota ditukar, semua ini hanya agar para pemantau percaya bahwa pasukan militer Suriah sudah ditarik keluar dari kota-kota.

Sejumlah video menunjukkan anggota tim pemantau berompi kuning berdiri tak jauh dari panser-panser berwarna biru. Kebenaran video itu tak bisa diperiksa. Pasalnya, pemerintah Suriah sekali lagi mengabaikan salah satu kewajibannya. Yakni agar para pemantau didampingi oleh jurnalis asing.

Dengan begitu ketidak pastian terus menyelimuti kondisi di lapangan. Masing-masing pihak berpijak pada penilaiannya sendiri. Gerakan perlawanan rakyat yang damai menuding cara kerja Liga Arab sebagai tidak profesional. Rejim Assad mengatur gerak gerik tim pemantau.

Syrien Beobachter der Arabischen Liga
Foto: picture-alliance/dpa

Hazem Nahar dari kelompok oposisi menuntut, "Para pemantau Liga Arab seharusnya didukung oleh tim ahli internasional. Mereka punya lebih banyak pengalaman, dan tampaknya itu tidak dimiliki oleh tim pemantau yang berada disini“.

Pihak oposisi juga menilai para pemantau Liga Arab tak bisa diandalkan. Para pemantau tidak datang tepat waktu, atau tak memenuhi janji yang dibuatnya. Di Suriah saat ini, kelalaian seperti itu bisa berakibat korban jiwa.

Tim pemantau juga dituding, kurang siap dan kurang perlengkapan. Bukan saja ada yang tidak membawa kamera, kadang bahkan tak membawa alat tulis. Kantor-kantor pemantau yang berada di kawasan yang diawasi pasukan pemerintah menyulitkan penduduk untuk datang dan menceritakan situasinya atau melaporkan sesuatu.

Selain itu, banyak anggota tim yang takut dan menolak memantau di jalan-jalan tertentu karena bisa menjadi sasaran penembak jitu, yang berjaga-jaga. Menurut pakar Timur Tengah, Joseph Kechechian, Liga Arab terjepit, ingin menanganinya sendiri sebagai upaya mengakhiri masalah keluarga, sebelum masyarakat internasional bertindak.

Tapi ada juga yang mendukung tim pemantau Liga Arab. Burhan Ghaliun, pemimpin Dewan Nasional Suriah, kelompok oposisi yang berkiprah di luar negeri, menilai bahwa meski gagal menghentikan kekerasan, tim pemantau itu tetap membantu secara politik, moral dan psikologis.

Menurut kelompok oposisi lokal, ratusan warga sipil tewas dan ada juga tentara yang dibunuh oleh kaum desertir. Sembilan bulan setelah awal pemberontakan terhadap Assad, gerakan perlawanan semakin terpecah belah, tanpa kesepakatan mengenai langkah ke depan. Sementara Liga Arab, hari Sabtu (07/01) akan meninjau hasil-hasil awal misi di Suriah.

Ulrich Leidholdt/Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk