1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

NRS-Import

Lawatan Merkel ke Vietnam dan Mongolia

Kanselir Jerman Angela Merkel Senin (10/10) melakukan lawatan beberapa hari ke Vietnam dan Mongolia. Kedua negara menunjukkan perspektif menarik bagi industri Jerman. Tapi di Vietnam Merkel juga akan membahas tema HAM.

+++DW/Peter Wozny+++, Reportertagebuch, 15.12.2010, Global Ideas, Ideas for a cooler World

Ho-Chi-Minh City Vietnam

Sementara Mongolia masih berada di tahap awal keajaiban ekonomi, perekonomian Vietnam sudah melejit drastis beberapa tahun terakhir. Itu membuat Vietnam menarik bagi pengusaha Jerman yang ikut dalam delegasi. Sebaliknya Vietnam berharap hubungan yang lebih erat. Ketika Menteri Luar Negeri Guido Westerwelle mengunjungi Hanoi Juni lalu, kepada wakil menteri luar negeri Vietnam Pham Binh Minh Westerwelle mengatakan „Kami harap agar kerjasama kita di bidang ekonomi dan perdagangan semakin menguat. Di sini masih banyak potensi."

Merkel Sadari Dilema Vietnam

Tapi Kanselir Jerman melawat ke sebuah negara sosialis satu partai, yang di banyak penjaranya mendekam tahanan politik. Dari kesejahteraan yang meningkat paling banyak sepertiga penduduknya yang menarik keuntungan, terutama di ibukota Hanoi dan Ho-Chi-Minh City. Mayoritas warga Vietnam hidup dalam kemiskinan di kawasan pedesaan. Merkel tidak ingin menutup mata akan hal ini: "Saya pikir Vietnam berada dalam apa yang kita sebut proses transformasi. Jadi sedang melalui perubahan besar yang di satu sisi di bidang ekonomi membuka diri amat luas dan di sisi lain harus diikuti sikap lebih baik dalam hal hak asasi manusia. Dan saya tentu saja akan membahas masalah tersebut."

Kesempatan itu akan dimiliki Merkel, jika dibahas tema rencana perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Vietnam sangat berminat mencapai status ekonomi pasar. Perundingan masih berjalan, dan perjanjian itu masih belum dalam kondisi aman. Kanselir Jerman dapat memberi tekanan, mengajukan syarat juga menuntut kondisi lebih baik bagi para investor. Perusahaan Jerman mengritik korupsi dan kurangnya jaminan hukum dalam kontrak bisnis.

Korupsi dan HAM Juga Masalah Mongolia

Masalah serupa juga terjadi di Mongolia, yang akan menutup lawatan Asia Merkel hari Kamis (13/10) mendatang. Belum pernah seorang kepala pemerintahan Jerman mengunjungi Mongolia yang termasuk kawasan terkaya sumber daya alam dunia ini. Negara yang terletak antara Cina dan Rusia ini sedang mencari kontak baru. "Mongolia sedang berusaha mencari mitra ketiga yang akan dapat menjalin mitra erat dengannya, dan kami dapat menciptakan sebuah win-win-situation, di mana kedua pihak menarik keuntungan, dimana kami bekerja sama di bidang teknologi pengetahuan dan di sisi lain di bidang sumber daya alam."

Jika semua lancar, selama lawatan Merkel dapat ditandatangani bisnis milyaran dengan perusahaan tambang Jerman. Selain itu kerangka perjanjian mengenai kemitraan sumber daya Jerman-Mongolia. Karena lebih dari batu bara dan bijih besir industri Jerman terarik akan mineral langka yang berharga, yakni cadangan logam langka yang diperlukan dalam produksi peralatan elektronik teknologi tinggi maupun untuk industri persenjataan. Selama ini pasar cadangan logam langka dikuasai Cina. Seandainya Merkel pulang dengan perjanjian di bidang itu, tidak hanya Mongolia yang mengharapkan keajaiban ekonominya sendiri, melainkan Jerman juga memiliki alternatif  pemasok bahan mentah langka selain Cina.

Bettina Freitag/Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk