1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Laki-laki Pemarah Pelaku Penembakan di AS

17 September 2013

Pihak keamanan Amerika mengungkapkan identitas Aaron Alexis yang dituduh membunuh belasan orang di markas pangkalan Angkatan Laut Washington, sebagai seorang bekas anggota AL pemarah dengan masa lalu bermasalah.

https://p.dw.com/p/19ial
Foto: Reuters

Alexis, 34, sekali waktu pernah mengatakan kepada polisi bahwa ia menderita kemarahan yang membuatnya tidak sadar diri saat ia menembak ban mobil, tapi pada saat bersamaan ia dikenal sebagai seorang laki-laki pendiam yang secara rutin bermeditasi di sebuah biara Buddha di Texas dan mempelajari bahasa Thai.

Kontraktor pertahanan itu akhirnya terbunuh dalam baku tembak dengan polisi, yang hingga kini belum berspekulasi mengenai motif penembakan yang juga menyebebkan sejumlah orang terluka.

Masa lalu bermasalah

FBI mengeluarkan dua foto plontos Alexis, seorang keturunan Afro-Amerika dengan berat badan 86 kilogram dan tinggi 1,85 meter.

Lahir di New York, Alexis sempat bertugas di dinas kemiliteran dari 2007 hingga 2011, demikian pernyataan Angkatan Laut AS.

“Jelas ada pola pelanggaran selama ia bertugas,“ kata seorang pejabat militer yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Pejabat itu belum mengetahui apakah Alexis dipecat secara tidak hormat, tapi catatan mengenai dirinya cukup bersih untuk direkrut sebagai subkontraktor HP yang dijuluki The Experts, yang bekerja menangani Intranet Korps Marinir dan Angkatan Laut.

Tiga tahun sebelumnya tamtama Alexis ditangkap di Seattle karena menembak ban-ban mobil yang diparkir di dekat rumah neneknya setelah para pekerja bangunan “bersikap tidak hormat”.

Ia mengatakan kepada polisi tidak ingat telah menembakkan pistol Glock kaliber 45 sampai satu jam setelah kejadian, demikian menurut laporan polisi Seattle.

Terganggu“ serangan 11 September

Alexis menjelaskan kepada detektif bahwa ia berada di New York saat terjadinya serangan 11 September 2001 dan menggambarkan “bagaimana kejadian itu telah mengganggu dirinya.“

Penyelidik kemudian bicara dengan ayahnya, yang mengatakan kepada mereka bahwa anaknya mempunyai masalah mengatasi kemarahan akibat gangguan stress setelah mengalami trauma, dan bahwa ia sempat menjadi seorang “partisipan aktif dalam upaya penyelamatan“ setelah serangan 11 September.

Dakwaan resmi tidak pernah diproses karena dokumen kasus ini tidak sampai ke tangan jaksa, demikian menurut laporan Seattle Times.

Sosok kontradiktif

“Dari luar ia kelihatan sebagai orang yang pendiam,“ kata J. Sirun, seorang asisten para biksu di kuil Buddha yang sering dikunjungi Alexis di Texas kepada Washington Post.

“Tapi dibalik itu, saya pikir ia sangat agresif. Ia tidak ingin dekat dengan orang lain, seperti seorang prajurit yang pernah berperang.”

“Saya tidak berpikir ia bisa melakukan ini,” kata Sirun. ”Saya tidak akan terkejut kalau mendengar ia bunuh diri. Tapi saya tidak berpikir ia bisa melakukan pembunuhan.”

Seorang bekas teman sekamar yang menggambarkan Alexis sebagai “sahabat terbaik“nya mengaku terkejut.

“Saya tidak bisa memikirkan bahwa ia melakukannya,“ kata Nutpisit Suthamtewakul, pemilik Happy Bowl Thai.

“Ia punya sebuah pistol, tapi saya tidak berpikir ia akan sebodoh itu. Ia tidak kelihatan agresif buat saya.”

Satu-satunya petunjuk tentang masalah itu adalah ketika Alexis mengeluh beberapa bulan lalu bahwa ia tidak dibayar untuk sebuah kontrak pekerjaan di Jepang, kata kawannya Michael Ritavato sambil menambahkab bahwa Alexis juga banyak menghabiskan waktu meringkuk di kamarnya bermain video game bertema kekerasan.

ab/hp (afp,rtr,ap)