1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Laboratorium di Secarik Tisu

Bagaimana mengetahui gejala penyakit flu cuma dengan bersin di atas secarik tisu? Ide yang terdengar seperti fiksi ilmiah itu kenyataannya sedang dikembangkan oleh para peneliti di Institut Fraunhofer.

Bersin-bersin adalah hal yang lumrah. Tapi bagaimana jika tisu yang kita pakai bisa membantu mendiagnosa penyakit? Seorang peneliti Jerman menemukan cara untuk membedakan flu biasa dengan penyakit influensa yang disebabkan virus.

Ia menyebutnya "laboraturium tisu."

Bagaimana cara kerjanya?

"Laboratorium tisu" bekerja layaknya alat uji kehamilan yang biasa didapat di apotik, cuma prosesnya sedikit lebih rumit. Struktur tisu memiliki molekul serupa antibodi yang diikat menjadi polimer. Jika molekul-molekul tersebut berinteraksi dengan virus, polimer secara otomatis akan mengubah strukturnya.

Perubahan struktur tersebut menciptakan sinyal yang kemudian mengubah warna tisu.

"Yang pasti warnanya bukan merah," kata Frank Bier lantaran khawatir disangka warna darah.

"Generasi Baru Diagnosa Klinis"

Frank Bier adalah kepala proyek sekaligus peneliti di Institut Fraunhofer untuk Teknik Biomedis (IBMT) di Potsdam. IBMT adalah salah satu dari 14 lembaga penelitian dan mitra industri yang terlibat dalam pengembangan proyek "laboratorium tisu"

"Kami mempertimbangkan banyak material, plester, lap pembersih, hingga pada akhirnya kami menemukan tisu," kata Bier. "Namanya cukup bagus untuk sebuah proyek, walaupun ini lebih dari sekedar tisu."

Para peneliti yang tergabung dalam proyek tersebut yakin, hasil kerja mereka bisa menciptakan "generasi baru dalam diagnosa klinis." Ini pun kendati generasi sebelumnya yang disebut "Laboratorium Chip" baru mulai merambah pasar.

"Laboratorium Chip" adalah perangkat diagnosa yang berukuran mini dan dapat menampung cairan dalam jumlah kecil. Alat itu dikembangkan untuk mengukur tekanan darah atau cairan lain. Alat ini juga bahkan bisa mendiagnosa apakah sang pasien menderita serangan jantung.

Beragam Kegunaan

Chip tersebut bisa dibaca melalui perangkat lain yang memungkinkan doktor atau pasien mengakses hasil pengukuran cuma dalam hitungan menit.

"Laboratorium Tisu" menjanjikan performa yang lebih baik, karena "kami tidak membutuhkan perangkat tambahan," kata Bier.

Menggunakan struktur material layaknya secarik tisu memungkinkan penggunaan yang luas, misalnya tisu itu bisa juga dipakai untuk mendeteksi kuman pada permukaan atau pada alat-alat operasi di rumah sakit.

"Di era modern ini, kita membersihkan sesuatu dengan ala kadarnya," kata Bier. "Anda mengelap permukaan dengan desinfektan dan menyangka sudah bersih. Tapi dengan tisu buatan kami, anda bisa tahu apakah permukaannya benar-benar bersih."

Para peneliti mengklaim produk yang mereka kembangkan dapat mendeteksi virus influenza, salmonella dan Kampilobakter yang menyebabkan diare. Mereka juga berharap dapat mendeteksi MRSA, patogen yang resistan terhadap antibodi dan bertanggungjawab atas berbagai kematian mendadak di rumah sakit.

Proyek tersebut antara lain dibiayai oleh Kementrian Pendidikan dan Penelitian Jerman hingga 2014. "Sampai saat itu kami berharap segalanya berfungsi semestinya. Kami sudah hampir selesai," kata Bier.

Namun, walau optimis Bier menegaskan masih butuh waktu lebih lama hingga tisu tersebut bisa dibeli konsumen. "Anda tidak akan bisa membelinya di apotik besok."