1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kunjungan Obama di Cina, dari Perdagangan sampai Perlindungan Iklim

Obama mengawali kunjungan resminya ke Cina dengan menggelar diskusi dengan ratusan mahasiwa di Shanghai hari Senin pagi (16/11). Dalam kesempatan itu, Obama memaparkan karakter universal dari hak asasi manusia.

default

Barack Obama, sesaat setelah pidatonya di museum sains dan teknologi Shanghai

Sebelum pertemuan resminya dengan pimpinan di Beijing, presiden Amerika Serikat itu kembali menyatakan, kebebasan berpendapat, beragama serta akses tanpa hambatan ke sumber informasi dan keikutsertaan dalam politik, berlaku umum untuk semua warga. Obama mengatakan, “Kami tidak akan memaksakan sistem pemerintahan dan tata nilai kami untuk diterapkan di negara lainnya. Tapi saya tidak percaya, bahwa prinsip yang kami anut, hanya berlaku di negara kami. Kebebasan berpendapat dan beragama, akses terhadap informasi dan partisipasi politik, kami yakini sebagai hak universal. Hal ini harus berlaku bagi semua warga, termasuk kelompok etnis dan agama minoritas, apakah mereka berada di Amerika Serikat, Cina atau negara lainnya.“

Walaupun mengimbau akses informasi yang bebas, acara di musium sains dan teknologi di Shanghai itu tidak diizinkan dipancarluaskan lewat televisi secara nasional. Dalam kunjungan itu, Obama kembali menegaskan kesiapan negaranya untuk bekerjasama dengan Cina. “Akan lebih banyak yang dapat dicapai, jika kedua negara adidaya ini bekerjasama, ketimbang bertikai,“ kata Obama lebih lanjut.

Terutama di bidang kerjasama ekonomi, Cina yang kuat secara ekonomi, akan berdampak bagus untuk dunia dan juga untuk Amerika. AS tidak berniat memblokir perkembangan ekonomi Cina, kata Obama secara diplomatis dalam tampilannya di Shanghai itu. Walaupun begitu, di latar belakang membayangi sengketa perdagangan cukup serius antara Cina dengan AS. Pemerintahan di Washington belum lama ini menerapkan hambatan pajak dan bea cukai bagi produk ban dan pipa baja dari Cina.

Obama juga menyinggung meningkatnya perdagangan antara AS dan Cina yang saat ini volumenya sekitar 400 milyar Dolar per tahun. “Tahun 1979 perdagangan antara AS dan Cina volumenya hanya sekitar lima milyar Dolar. Sekarang lebih dari 400 milyar Dolar setahunnya. Bisnis mengimbas kehidupan rakyat di kedua belah pihak. AS mengimpor pakaian dan sukucadang komputer dari Cina, dan kami mengekspor mesin-mesin yang mendorong industri Cina. Perdagangan hendaknya menciptakan lebih banyak lapangan kerja di kedua sisi Pasifik, yang membuat rakyat kita menikmati kualitas hidup lebih baik.“

Sementara itu, dilaporkan Obama sudah tiba di Beijing, sebagai kota singgahan kedua di Cina. Di bandar udara, ia disambut Wakil Presiden Xi Jinping, yang disebut-sebut sudah disiapkan menggantikan Presiden Hu Jintao yang akan habis masa jabatannya tahun 2012 mendatang.

Tema utama pembicaraan dengan pimpinan di Beijing antara lain perlindungan iklim. Obama akan mendiskusikan kerjasama dengan Cina untuk melakukan tindakan bersama, menjelang digelarnya KTT Iklim di Kopenhagen bulan Desember mendatang. Cina dituding sebagai negara penghasil emisi karbon dioksida terbesar di dunia. Namun pemerintah di Beijing menolak pembatasan emisi gas rumah kacanya, dengan argumentasi sebagai negara berkembang, prioritas utama negara ini adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan memerangi kemiskinan.

Sebaliknya Cina menuntut negara-negara industri maju, menetapkan target pengurangan emisi yang lebih konkrit. Bersamaaan dengan kunjungan Obama ke Cina itu, organisasi pembela hak asasi melaporkan, polisi Cina menangkap puluhan aktivis pro-demokrasi di Beijing dan kota-kota lainnya.

AS/YF/dpa/afp