1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kroasia Berpeluang Besar Jadi Anggota Uni Eropa

Di parlemen Eropa masih juga terdapat suara-suara yang menentang keanggotaan Turki di Uni Eropa, sementara Kroasia kini sudah bersiap-siap memasukinya.

default

Parlemen Eropa di Brussel

Kroasia punya peluang besar untuk merampungkan perundingan keanggotaannya di Uni Eropa pada tahun 2010 ini. Tahun 2013, bahkan mungkin juga sudah pada tahun 2012, Kroasia diduga dapat diterima sebagai negara anggota Uni Eropa. Demikian menurut Hannes Swoboda, politisi sosialis Austria di Parlemen Eropa yang merupakan pelapor khusus bagi tema ini. Dengan masuknya Kroasia, bahasa resmi yang digunakan di Uni Eropa akan bertambah satu. Sejak beberapa saat memang telah disarankan untuk membatasi jumlah bahasa.

Namun, Swoboda tidak ingin membuat kesulitan baru bagi Kroasia dengan pembatasan tersebut: "Saya pikir adalah penting bahwa Komisi Eropa membentuk sebuah kelompok kerja yang terdiri dari pakar dan ahli bahasa yang membuat usulan bagaimana mengatasi masalah keragaman bahasa dan membuat semacam solusi bersama untuk mencapai kesamaan tanpa menimbulkan biaya besar bagi Uni Eropa. Tetapi ini tidak boleh mempersulit rencana keanggotaan Kroasia."

Salah satu dari sejumlah kecil hambatan bagi penerimaan Kroasia disebutkan oleh Serge Brammertz, kepala penuntut Mahkamah Internasional PBB bagi Kejahatan Perang bekas negara Yugoslavia. Mahkamah ini masih belum juga mendapatkan dokumen perang Kroasia berupa peta-peta dan rencana serangan. Kroasia harus menyerahkan dokumen itu agar mahkamah dapat memburu tersangka penjahat perang.

Sedangkan hambatan utama keanggotaan bekas Republik Yugoslavia Makedonia adalah pertikaian seputar nama negara itu dengan Yunani. Yunani yang adalah anggota Uni Eropa, punya sebuah provinsi yang namanya Makedonia, karena itu Yunani memblokir perundingan keanggotaan.

Bagaimana dengan rencana keanggotaan Turki? Banyak suara di Parlamen Eropa yang menentang keanggotaan negara ini. Ria Oomen-Ruijten, politisi Kristen Demokrat Belanda di Parlemen Eropa menyimpulkan pendapat sejumlah besar anggota legislatif seusai sidang terkait: "Saat itu yang ingin kami tekankan kepada pemerintah dan parlemen Turki bahwa konstitusi baru sangat diperlukan. Karena hanya sebuah konstitusi baru yang dapat menjamin reformasi dan juga menjamin semua hak-hak setiap warga Turki untuk mencapai sebuah negara Turki yang modern dan juga makmur."

Konstitusi baru tentunya merupakan tuntutan yang terlalu besar. Namun desakan yang meluas ini menunjukkan bagaimana besarnya keraguan mendasar terhadap keanggotaan penuh Turki di Uni Eropa, meskipun Uni Eropa sudah sejak lama melakukan perundingan keanggotaan dengan Turki.

Christoph Hasselbach/Christa Saloh

Editor: Luky Setyarini