1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kritisi Rezim Gelar Konferensi di Damaskus

Di Damaskus Senin (27/06) dengan ijin pemerintah, forum para intelektual pengritik rezim membahas masa depan negara itu. Menurut pengamat hampir tanpa dihadiri tokoh gerakan oposisi yang beraksi tiga bulan terakhir.

default

Demonstrasi di Suriah

Sampai beberapa waktu terakhir pertemuan semacam itu tidak terbayangkan. Sehubungan protes jalanan berkepanjangan, lebih dari tiga bulan terakhir di Suriah, pertemuan semacam itu sekarang boleh berlangsung. Sekitar 100 pembangkang tampaknya tidak memiliki rasa takut membahas penyebab krisis hebat negara itu dan kemungkinan jalan keluarnya.

Salah satu peserta forum yang digelar di hotel di Damaskus tersebut, Michel Kilo, penulis, jurnalis dan pendukung komunis Suriah yang berulang kali menjalani tahanan, mengatakan, "Jika orang-orang berdiri di jalan, orang tidak lagi memiliki rasa takut. Itu kekuatan dari kebebasan, harapan bahwa suatu saat orang akan bebas, maka itu menghapus rasa takut."

Mereka tidak dapat berbicara mewakili seluruh aksi protes. Kata inisiator pertemuan itu. Tapi para intelektual memiliki kewajiban untuk bangkit

Pertemuan itu dimulai dengan mengheningkan cipta untuk lebih dari 1.300 korban warga sipil dan 300 korban di pihak pemerintah. Organisator forum itu adalah penulis Luai Hussein dan pakar ekonomi Aref Dalila. Keduanya lama mengalami penahanan. Mereka harus menghadapi rasa tidak percaya dari pihaknya sendiri.

Sementara sejumlah pembangkan dapat membayangkan dialog sebagai akhir kekerasan negara, yang lainnya menilai pertemuan itu sebagai sikap pengecut berkaitan tindakan brutal pemerintah. Seperti yang diungkapkan Anas al-Abdeh awal bulan ini dalam sebuah pertemuan di Turki, "Ini waktu bagi masyarakat internasional mengajukan surat penangkapan bagi Assad ke Mahkamah Kejahatan Internasional. Karena mahkamah itu mengeluarkan perintah yang dilakukan pihak-pihak lainnya."

Michel Kilo yakin bahwa Assad bertaktik. Pengumuman amnesti tidak dilakukannya, ia tidak membebaskan tahanan politik, hanya para pelaku kriminal. Kilo termasuk pihak oposisi yang bertemu dengan penasihat Assad. Tapi karena pertemuan itu berakhir tanpa hasil, para peserta pertemuan kali ini curiga itu lebih sedikit menyangkut dialog ketimbang reglementasi oposisi oleh pihak rezim.

Kilo mengakui sikap Assad memicu dugaan-dugaan semacam itu. Ia mengumbar janji-janji, di sisi lain melakukan kekerasan untuk mempertahakan sistem kekuasaan, "Di belakang itu terselubung keinginan mempertahankan rezim seperti saat ini, walaupun masyarakat tidak menginginkannya lagi."

Tidak diharapkan adanya konsep yang dapat diterima oposisi dalam konferensi di Damaskus. Oposisi beraksi di seluruh Suriah, sering kali juga dari pengasingan tapi jarang terjaring dengan baik. Pemberontakan tanpa pimpinan sulit. Tapi aksi militer dari luar negeri seperti di Libya menurut Michel Kilo tidak mereka inginkan.

Ulrich Leidholdt / Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk