1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kritik Atas Vonis Seumur Hidup Bagi Selek

Vonis hukuman seumur hidup terhadap pakar sosiologi dan aktivis Turki, Pinar Selek membuat banyak pihak geleng kepala. Pengritik yang memandang vonis itu sebagai skandal, kini mengharap Mahkamah HAM Eropa bertindak.

"Ini adalah Turki.“ Demikian ungkapan yang selalu terdengar di negara di tepi selat Bosporus, jika sebuah pertanyaan tidak dapat dijawab dengan logika. Demikian juga dengan putusan terhadap pakar sosiologi, tokoh feminis dan penulis Pinar Selek yang dijatuhkan tanggal 24 Januari lalu.

Tak ada seorang pun yang dapat menjelaskan, mengapa terdakwa setelah 15 tahun proses hukum, sejumlah pernyataan bebas dan keraguan besar akan bukti-bukti, tetap divonis hukuman penjara seumur hidup.

Bahkan para pakar hukum pun tidak habis pikir. Halil Dogan adalah seorang dari sejumlah pakar, yang untuk kasus Selek hanya dapat mengutip ungkapan "Ini adalah Turki.“

"Di sini selalu ada keputusan tidak adil, terutama dalam proses yang berkaitan dengan politik,“ dijelaskan Dogan ketua Perhimpunan Pengacara Demokratis, dalam wawancara dengan Deutsche Welle (DW). Ia mengingatkan, bahwa hakim ketua dalam proses pengadilan terhadap mantan perdana menteri Adnan Menderes pada tahun 1961 sudah mengakui secara terbuka, bahwa ia bertindak atas petunjuk pemerintah militer kala itu dimana Menderes divonis hukuman mati dan digantung.

"Mereka ingin Meneror Saya“

Pinar Selek sendiri mengatakan, orang ingin menerornya dan membuatnya takut, tapi justru sebaliknya yang terjadi pada dirinya dan para pendukungnya. "Kami seiring jalannya waktu belajar menjadi lebih kuat,“ kata Selek kepada harian Hürriyet setelah vonis tersebut. Ayah dan pengacaranya Alp Selek ingin mengajukan banding.

Demo Gericht Istanbul Pinar Selek Wallraff

Aksi demonstrasi di Istanbul mengecam pengadilan sesat terhadap sosiolog Pinar Selek.

Pihak kehakiman menuduh Selek, pada tahun 1998 sebagai anggota partai buruh Kurdistan PKK yang terlarang, menewaskan tujuh orang dalam sebuah serangan bom di Istanbul. Pada saat itu ia sedang melakukan riset sebagai pakar sosiologi mengenai kegiatan PKK.

Selek membantah tuduhan-tuduhan itu, namun pada bulan Juli 1998 ditangkap dan dianiaya, sebelum ia pada tahun 2000 kembali dinyatakan tidak bersalah. Seorang tersangka menyatakan, bahwa Pinar Selek terlibat dalam sebuah serangan. Namun kemudian pria tersebut menarik kembali pengakuannya dan menjelaskan, ia memberikan pengakuan itu di bawah tekanan penyiksaan.

Sejak tahun 2009 Selek hidup di pengasingan. Mula-mula sebagai penerima bea siswa “Writers-in-Exile” (Penulis di Eksil) klub PEN di Berlin, dan sementara ini di Strasbourg, dimana ia menulis disertasi doktornya mengenai gerakan emansipasi di Turki.

Dalam proyek penelitiannya pada masa lalu Selek antara lain membahas kelompok-kelompok yang didiskriminasi maupun kelompok minoritas seksual, tapi selain itu juga dengan tema identitas pria dan sikap dominasi kaum pria (machisme) di Turki.

Bahkan Jaksa Penuntut Dibuat Terkejut

Meskipun diajukan berbagai materi dan keterangan, pengadilan sampai kini tidak dapat menjelaskan, apakah ledakan di Istanbul diakibatkan bom atau kecelakaan. Itu pula yang menyebabkan selama ini Selek diumumkan tidak bersalah sampai tiga kali.

Tapi Mahkamah Banding Tertinggi di Ankara selalu membatalakan pernyataan-pernyataan bebas tersebut. Bahkan jaksa penuntut yang bertanggung jawab untuk kasus itu tahun lalu mengatakan, ia merasa terkejut terkait sikap hakim di mahkamah banding. Namun itu tidak mencegahnya atas petunjuk mahkamah di Ankara kembali mengajukan proses hukuman.

Keraguan besar juga terjadi di pengadilan, yang mana suara untuk menjatuhkan vonis bagi Selek adalah 2 banding 1. Ketua hakim Vedat Yilmazabdurrahmanoglu menyetujui putusan bebas dan menyampaikan argumen, tidak ada bukti-bukti jelas terkait bahan materi keterangan yang bertolak belakang.

Tapi ia kalah suara dari dua hakim koleganya. Salah satu dari hakim itu Mehmet Erdogan, tahun lalu masih menyetujui untuk putusan bebas. Kali ini ia memberikan suara bersalah. Mengapa itu terjadi, tidak diketahui alasannya.

Harapan Terhadap Mahkamah Eropa

Europäischer Gerichtshof für Menschenrechte

Kasus Selek diharapkan mendarat di Mahkamah HAM Eropa di Strasbourg.

Seperti di kalangan publik Turki, putusan itu juga menimbulkan kemarahan di kalangan pengamat proses pengadilan di Eropa. Jurnalis Jerman Günter Wallraff menilai, sejak 1998 ada upaya permanen, mencap Selek sebagai teroris tanpa bukti apapun.“

Tampaknya baik lingkungan yang dekat dengan militer maupun kaum Islamis sudah bulat tekad, menutup mulut pakar sosiologi itu, demikian dikatakan Wallraff kepada Deutsche Welle.

"Orang ingin menghabisinya, karena ia adalah tumpuan harapan bagi yang lainnya, dalam artian warga Turki yang lebih demokratis“, tambahnya. Jika vonis itu dilaksanakan, maka Turki akan menjadi negara yang tidak mengakui hukum, dimana seseorang pada sembarang waktu dapat menjadi tersangka, dengan alasan yang dicari-cari. Oleh karena itu publik dan politik di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya dituntut aktf, kata Wallfaff.

Meskipun demikian Pinar Selek bukan satu-satunya tokoh terkenal yang bersikap kritis terhadap pemerintah Turki dalam kasus PKK. Juga mungkin karena itu, hakim tertinggi di Turki mempertahankan vonis bersalah bagi pakar sosiologi itu. Karena koreksi hukum di mata mereka adalah tanda kelemahan negara itu dalam perang melawan PKK.

Menurut jajak pendapat banyak hakim memandang tugas utama mereka bukan mencari kebenaran melainkan tugas melindungi negara terhadap pihak yang dipandang lawan.

Terkait mentalitas ini, harapan-harapan terakhir bagi penijauan proses tersebut ditumpukan ke Mahkamah Hak Asasi Manusia di Strasbourg. Banyak pihak ingin agar kasus itu diselidiki di tingkat internasional secara yuridis. Demikian seperti dikatakan anggota parlemen Turki, Safak Pavey dari sayap reformasi partai oposisi CHP. Juga ketua perhimpunan pengacara Doga memperkirakan bahwa proses Selek akan mendarat di Strasbourg.

Tapi mula-mula pemerintah Turki dihadapkan pada tugas yang pelik. Karena pengadilan di Istanbul mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Selek yang saat ini tinggal di Perancis, Ankara kemungkinan besar tidak lama lagi akan berada pada situasi untuk mengajukan permohonan ekstradiri kepada Paris. Ini akan memicu pertanyaan baru dari Uni Eropa mengenai situasi negara hukum di Turki.